Sejarah Kue Nastar, Jejak Manis dari Meja Kolonial ke Stoples Lebaran

Gayuh Tri Pinjungwati | Beautynesia
Jumat, 20 Mar 2026 10:30 WIB
Sejarah Kue Nastar, Jejak Manis dari Meja Kolonial ke Stoples Lebaran
Sejarah Kue Nastar, Jejak Manis dari Meja Kolonial ke Stoples Lebaran/Foto: topntp26

Momen Lebaran tidak lepas stoples kue nastar yang hampir selalu muncul di meja ruang tamu. Kecil, harum, dan manis dengan isian selai nanas, nastar sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Idulfitri. Tapi tahu nggak, sih, asal-usulnya bagaimana sampai bisa jadi favorit masyarakat Indonesia?

Cerita nastar di Indonesia ternyata punya jejak sejarah panjang yang berakar dari masa kolonial, Beauties. Melansir dari detikcom, kue ini bukan berasal dari tradisi kuliner asli Nusantara, melainkan diperkenalkan oleh pengaruh budaya Belanda saat era penjajahan.

Pada masa itu, masyarakat Indonesia mulai mengenal beragam kue dan makanan khas Eropa, termasuk kue-kue yang sering disajikan pada perayaan hari besar oleh keluarga Belanda dan kalangan bangsawan pribumi. Dari sinilah budaya menikmati kue seperti nastar, kastengel, atau putri salju mulai tersebar.

Nama yang Menyimpan Jejak Asal-Usul

Nama yang Menyimpan Jejak Asal-Usul/Foto: Pexels.com/ Polina Tankilevitch

Nama “nastar” sendiri bukanlah nama asli Indonesia, melainkan adaptasi dari bahasa Belanda. Secara etimologi, kata ini berasal dari ananas yang berarti nanas dan taartjes atau tar yang berarti kue tart kecil. Lewat adaptasi lidah lokal, kata itu kemudian disingkat menjadi nastar, yang maknanya dalam konteks Indonesia bisa dipahami sebagai kue kecil dengan isi selai nanas.

Bentuk asli kue ini di Belanda berbeda, lebih mirip cake yang besar dan sering disajikan pada acara tertentu di sana. Namun, setelah masuk ke Indonesia, nastar mengalami akulturasi yang cukup menarik. Orang-orang di sini mulai memodifikasi bentuk, bahan, dan porsinya agar lebih sesuai dengan selera lokal. Jadilah nastar kecil yang empuk dengan isian nanas pekat seperti yang kita kenal sekarang.

Dari Perayaan Kolonial ke Meja Lebaran

Dari Perayaan Kolonial ke Meja Lebaran/Foto: Detik.com/ Detik

Awalnya, kue-kue bergaya Eropa ini memang hadir dalam tradisi Natal keluarga Belanda di Indonesia. Namun dari waktu ke waktu, budaya memberikan hadiah atau hantaran kue kepada keluarga priyayi pribumi pada hari besar berkembang menjadi kebiasaan umum. Tradisi tersebut kemudian beralih ke masyarakat Indonesia luas dan semakin kuat melekat dengan perayaan Lebaran.

Selain itu kue dengan isian nanas ini dulunya dibuat dalam ukuran besar seperti pie. Seiring waktu, masyarakat lokal mulai memodifikasi resepnya. Ukurannya diperkecil menjadi sekali gigit, teksturnya dibuat lebih lembut, dan tampilannya disesuaikan dengan selera lidah Indonesia yang cenderung menyukai rasa manis legit. Jadilah nastar seperti yang kita kenal sekarang.

Akulturasi yang Bikin Nastar Jadi Ikonik

Akulturasi yang Bikin Nastar Jadi Ikonik/Foto: Pexels.com/Nicole Michalou

Hal yang menarik dari sejarah nastar adalah bagaimana kue ini menunjukkan proses akulturasi budaya yang indah. Makanan yang awalnya berasal dari luar negeri berhasil berbaur dan menjadi bagian dari tradisi khas Indonesia. Bentuk, rasa, hingga cara penyajiannya pun kini begitu Indonesia sekali, hingga banyak yang mungkin merasa nastar seutuhnya adalah kue khas Nusantara, padahal aslinya adalah adaptasi dari kue Belanda.

Jadi, saat kamu mengambil satu nastar dari stoples Lebaran nanti, ingatlah bahwa kue mungil itu punya cerita panjang yang telah bertransformasi dari warisan masa kolonial menjadi bagian tradisi Lebaran Indonesia yang dicintai banyak orang.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE