Makan karena Lapar atau Emosi? Kenali Tanda Emotional Eating dan Cara Mengatasinya
Pernahkah Beauties tiba-tiba ingin makan camilan manis saat sedang stres, sedih, atau marah? Atau merasa dorongan kuat untuk membuka kulkas meski sebenarnya tidak lapar? Jika ya, mungkin Beauties sedang mengalami “emotional eating”.
Emotional eating adalah kebiasaan makan sebagai respons terhadap emosi, bukan karena rasa lapar fisik. Hampir semua orang pernah mengalaminya. Namun, jika terjadi terlalu sering dan menjadi cara utama untuk mengatasi perasaan, kebiasaan ini bisa menimbulkan masalah. Berikut penjelasan selengkapnya.
Mengapa Emotional Eating Bisa Terjadi?
![]() Emotional eating adalah makan untuk meredakan emosi karena makanan memberi rasa nyaman sementara. Otak kemudian mengaitkan makanan dengan rasa aman dan kenyamanan emosional/ Foto: Freepik.com/Freepik |
Mengutip dari Healthline, emotional eating terjadi ketika aktivitas makan dilakukan meredakan perasaan seperti stres, cemas, bosan, kesepian, atau sedih. Makan memang dapat memicu pelepasan dopamin di otak, yaitu zat kimia yang membuat kita merasa nyaman dan “lebih baik” sementara waktu.
Selain itu, makanan sering kali memiliki makna emosional. Kita merayakan suatu keberhasilan dengan makanan, menghibur orang lain dengan makanan, dan membangun kedekatan lewat makan bersama. Tidak heran jika otak kita mengaitkan makanan dengan rasa aman dan kenyamanan.
Namun yang perlu diingat adalah bahwa makanan tidak benar-benar menyelesaikan akar emosi tersebut. Setelah rasa nyaman sementara itu hilang, perasaan asli sering kali tetap ada, bahkan ditambah rasa bersalah atau penyesalan.
Perbedaan Lapar Emosional dan Lapar Fisik
Lapar fisik muncul secara bertahap dan berhenti saat tubuh sudah kenyang. Lapar emosional datang tiba-tiba dan biasanya menimbulkan keinginan pada makanan tertentu/ Foto: Freepik.com/Lookstudio
Lapar emosional dan lapar fisik sering kali sulit dibedakan, tetapi keduanya memiliki ciri yang berbeda. Lapar fisik biasanya muncul secara bertahap dan bisa ditunda. Ketika sudah merasa kenyang, kita cenderung berhenti makan. Sementara itu, lapar emosional datang tiba-tiba, terasa mendesak, dan sering kali menginginkan makanan tertentu, seperti yang manis atau gurih.
Faktor Pemicu Emotional Eating
Emotional eating dipicu oleh tekanan eksternal dan kesulitan mengelola emosi atau stres. Kebiasaan diet ketat juga dapat membuat makan menjadi pelarian yang berlangsung otomatis/ Foto: Freepik.com/Jcomp
Banyak hal dapat memicu emotional eating. Tekanan pekerjaan, masalah keuangan, konflik hubungan, atau masalah kesehatan bisa menjadi faktor eksternal. Di sisi lain, faktor internal seperti kesulitan mengenali emosi atau mengelola stres juga berperan.
Orang yang sering menjalani diet ketat atau memiliki riwayat pembatasan makan juga lebih rentan mengalami emotional eating. Ketika tubuh dan pikiran merasa “tertekan”, dorongan untuk makan sebagai pelarian bisa menjadi lebih kuat. Jika kebiasaan ini terus berulang tanpa disadari, lama-kelamaan ia menjadi pola otomatis yang sulit dihentikan.
Cara Mengatasi Emotional Eating
Kenali kapan makan dipicu oleh emosi dan cari cara lain untuk meresponsnya. Latih mindfulness agar dapat membedakan lapar fisik dan emosional/ Foto: Freepik.com/Freepik
Langkah pertama adalah menyadari kapan kita makan karena emosi. Mencatat perasaan dan situasi saat dorongan makan muncul dapat membantu mengenali polanya. Setelah mengetahui pemicunya, cobalah mencari alternatif untuk merespons emosi tersebut.
Jika stres, mungkin kita bisa berjalan sebentar atau melakukan pernapasan dalam. Jika bosan, carilah aktivitas lain yang mengisi waktu. Jika kesepian, kita bisa hubungi teman atau keluarga. Mindfulness juga dapat membantu. Dengan makan secara sadar dan memperhatikan rasa lapar serta kenyang, kita bisa belajar membedakan kebutuhan fisik dan emosional.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
