Benarkah Siklus Menstruasi Memengaruhi Kesehatan Mental? Simak Penjelasannya
Beauties, kamu mungkin pernah mendengar tentang siklus menstruasi mempengaruhi mood dan kesehatan mental. Pernyataan ini, tidak sepenuhnya salah.
Apalagi  menstruasi  termasuk salah satu proses biologis tubuh yang berkaitan erat dengan fluktuasi hormon, sehingga tidak heran juga kerap disandingkan dengan kesehatan mental.
Bukannya berlebihan, rasa sakit hingga emosional yang dirasakan perempuan saat menstruasi, terjadi sebagai respon alami tubuh. Namun, nyatanya tidak tubuh perempuan memberikan respon yang sama terhadap siklus menstruasi ini, Beauties.
Untuk penjelasannya, berikut Beautynesia sudah rangkum informasi lengkapnya berdasarkan 4 tahapan dalam siklus menstruasi. Yuk, simak bersama.
Menstruasi
Menstruasi/Foto: freepik.com/rawpixel.com
Fase ini dimulai dari hari 1-5, biasanya juga disebut sebagai fase folikuler awal, seperti dilansir dari artikel ilmiah berjudul, “The Impact of the Menstrual Cycle and Underlyng Hormones in Anxiety and PTSD”.
Berdasarkan artikel tersebut, diketahui juga bahwa pada fase pertama siklus menstruasi ini, biasanya hormon estrogen dan progesteron berada di titik terendah. Proses ini kerap kali mempengaruhi kecemasan dan suasana hati.
Perempuan juga semakin mudah lelah dan seketika bisa merasa sedih atau marah di fase ini. Hal ini bisa terjadi karena ada proses kimiawi di otak yang berhubungan erat dengan hormon. Ketika estrogen menurun, produksi serotonin yang akrab sebagai hormon perasaan baik, juga ikut menurun.
Di sisi lain, progesteron juga berperan dalam pengendalian emosi. Hal ini berkaitan dengan hasil metabolit progesteron yang memiliki hubungan langsung terhadap peningkatan rasa cemas. Diketahui pula, metabolit progesteron ini bekerja mengikat reseptor di otak yang dikenal dengan istilah GABA dan bekerja memberikan efek penenang.
Ketika kadar progesteron rendah, maka metabolitnya pun ikut rendah. Proses inilah yang kerap dikaitkan dengan perubahan suasana hati, hingga peningkatan rasa cemas. Bagi perempuan yang memiliki riwayat PTSD, fase ini dan fase pramenstruasi juga disebut bisa memperparah gejalanya.
Fase Folikuler
Fase Folikuler/Foto: freepik.com/wayhomestudio
Fase ini dimulai di hari ke-6 sampai 12 atau disebut juga sebagai fase folikuler pertengahan hingga akhir. Ketika memasuki fase ini, hormon estrogen mulai meningkat dan kembali terjadi perubahan zat kimiawi di otak.
Peningkatan estrogen juga menandai proses sintesis hormon serotonin dan dopamin. Maka dari itu, pada fase ini biasanya suasana hati jadi lebih membaik dan energi jadi lebih stabil. Akhir fase ini, tubuh perempuan sudah disiapkan untuk memasuki tahap ovulasi atau pelepasan sel telur.
Ovulasi
Ovulasi/Foto: freepik.com
Pada fase ini, estrogen mulai berada di puncak. Energi semakin meningkat dan rasa percaya diri mulai kuat. Fase ini biasanya berada pada hari ke-13 sampai 15 pada siklus menstruasi normal atau 28 hari.
Pada fase ini pula, sel telur mulai dilepaskan. Namun, di akhir fase ovulasi, mulai terjadi perubahan hormon yang juga kerap dihubungkan dengan perubahan suasana hati. Penurunan kadar estrogen di akhir fase ini, mulai menandakan akhir fase ovulasi dan memasuki fase luteal.
Fase Luteal
Fase Luteal/Foto: freepik.com/jcomp
Fase yang dimulai pada hari ke-16 sampai 18 ini, juga kerap disebut dengan istilah fase pramenstruasi. Pada fase ini, progesteron akan mengalami peningkatan dan mencapai puncak setelah satu minggu dari fase ovulasi.
Dikutip dari artikel ilmiah berjudul, “Psychiatric Symptoms Across the Menstrual Cycle in Adult Women: A Comprehensive Review”, fase ini menjadi fase persiapan kehamilan dengan terjadinya penebalan dinding rahim. Namun, ketika sel telur yang lepas dari ovulasi tidak dibuahi, maka progesteron dan estrogen kembali menurun.
Proses ini pun diikuti dengan hancurnya dinding rahim dan tubuh mulai mempersiapkan fase menstruasi. Pada fase inilah, beberapa perempuan mulai kembali merasakan perubahan hati. Hal ini disebabkan karena penurunan progesteron dan estrogen yang merosot tajam.
Bahkan, beberapa kasus menunjukkan peningkatan masalah kecemasan, stress, permasalahan makan, hingga kasus ekstrim seperti percobaan mengakhiri hidup, rata-rata terjadi pada fase luteal ini.
Meskipun siklus menstruasi secara tidak langsung mempengaruhi mood dan kesehatan mental, ternyata tidak semua perempuan mengalami hal tersebut, Beauties. Hal ini pun disampaikan oleh profesor psikiatri dari Universitas Illinois Chicago, Tory Eisenlohr-Moul, Ph.D melalui apa.org.
Namun, ada sebagian perempuan yang sensitif terhadap perubahan hormon tersebut, sehingga mempengaruhi mood dan perilakunya. Ketika hal tersebut sudah mengganggu aktivitas harian, inilah yang kerap didiskusikan oleh para ahli sebagai bagian dari gangguan disforia pramenstruasi (PMDD).
Jadi, sebenarnya normal saja jika kamu merasa lelah, sakit dan sedikit emosional ketika menstruasi datang. Akan tetapi, perasaan negatif yang terus menerus disertai perubahan perilaku signifikan, bisa jadi pertanda ada hal yang kurang baik pada tubuhmu.
Karena itu, tidak ada salahnya untuk konsultasikan dengan para ahli terkait hal tersebut, Beauties. Dan pastikan juga kamu tidak self-diagnosis, ya.
---
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!