5 Tren Makanan Jepang yang Viral di 2026, Pernah Coba?
Kalau biasanya kita mengenal makanan Jepang dari sushi, ramen, atau tempura, 2026 membawa cerita yang sedikit berbeda. Di media sosial, kebiasaan makan orang Jepang justru ramai dibicarakan karena terlihat unik, bahkan bikin sebagian orang bertanya-tanya.Â
Mulai dari makanan dengan tekstur super kenyal dan berlendir hingga inovasi pangan yang terdengar seperti dari masa depan, tren kuliner Jepang tahun ini jadi perpaduan menarik antara tradisi, teknologi, dan gaya hidup yang lebih berkelanjutan.Â
Nggak sekadar viral karena tampilannya, beberapa kebiasaan ini ternyata punya alasan tersendiri dan sudah melekat dalam budaya makan Jepang. Nah, penasaran apa saja, Beauties?Â
Shiokara, Fermentasi Jeroan Cumi
![]() Shiokara/Foto: instagram.com/kemuritatsu_ya |
Kalau biasanya cumi dimasak dengan cara digoreng, dibakar, atau ditumis, orang Jepang punya cara yang jauh lebih ekstrem untuk menikmatinya, yaitu shiokara. Hidangan tradisional ini dibuat dari jeroan cumi yang difermentasi bersama daging cumi dan garam sehingga menghasilkan rasa yang asin, tajam, dan aroma seafood yang cukup kuat.
Buat yang belum terbiasa, shiokara mungkin terasa menantang. Teksturnya lengket seperti pasta dengan cita rasa umami yang pekat dan meninggalkan aftertaste cukup lama. Meskipun begitu, hidangan ini bukan sekadar makanan unik untuk menarik perhatian. Shiokara juga mencerminkan kebiasaan masyarakat Jepang memanfaatkan hampir seluruh bagian bahan makanan agar nggak terbuang sia-sia.
Kalau ingin mencobanya, shiokara biasanya bisa ditemukan di izakaya tradisional, terutama di daerah pesisir seperti Hokkaido, atau di kedai kecil yang menyajikan hidangan laut hasil pengawetan.
Tororo, Bubur Berlendir yang Viral di Media Sosial
Tororo adalah parutan mountain yam atau ubi gunung Jepang yang punya tekstur licin, lengket, dan cukup berlendir/Foto: instagram.com/saki_pofu
Kalau melihat tororo untuk pertama kali, mungkin kamu akan bertanya apakah makanan ini benar-benar bisa dimakan. Tororo adalah parutan mountain yam atau ubi gunung Jepang yang punya tekstur licin, lengket, dan cukup berlendir.
Dari tampilannya mungkin bikin ragu, tapi makanan ini justru populer karena teksturnya yang unik dan dipercaya baik untuk pencernaan serta membantu menjaga stamina.
Biasanya, tororo disajikan di atas nasi hangat atau sebagai pendamping soba. Saat dituangkan ke nasi, teksturnya yang stretchy dan mengilap akan menempel seperti lapisan tipis.
Koji, Alternatif Daging dari Jamur
Koji menjadi alternatif protein yang dibuat menggunakan jamur/Foto: pexels.com/Valeria Boltneva
Kalau mendengar kata koji, mungkin yang terbayang adalah bahan fermentasi khas Jepang. Namun, di 2026, koji mulai punya peran yang lebih modern lewat pengembangan fungal meat, yaitu alternatif protein yang dibuat menggunakan jamur.
Teksturnya dibuat menyerupai daging dengan rasa gurih dan umami yang kuat, tapi terasa lebih ringan saat disantap. Inovasi ini juga menarik perhatian karena menawarkan pilihan makanan yang lebih ramah lingkungan. Nggak heran kalau fungal meat mulai muncul di restoran-restoran modern dan startup makanan yang mengusung konsep plant-forward.
Es Krim Ikan, Street Food Unik di Tokyo
Es krim ikan, camilan berbentuk ikan yang bisa diisi soft-serve, krim, atau bahkan isian gurih/Foto: instagram.com/taiyakinyc
Kalau jalan-jalan ke Tokyo, jangan heran kalau menemukan street food yang bentuknya bikin berhenti dan terkesan. Di kawasan seperti Harajuku dan Shibuya, kreativitas seolah nggak punya batas. Salah satunya adalah camilan berbentuk ikan yang bisa diisi soft-serve, krim, atau bahkan isian gurih.
Bentuknya unik, fotogenik, dan jelas punya daya tarik tersendiri untuk dibagikan di media sosial. Meskipun terlihat seperti dibuat khusus demi viral, kreasi street food ini tetap mengandalkan keterampilan dan ketelitian dalam pembuatannya.
Cacao-Free Chocolate, Cokelat Tanpa Kakao
Cokelat tanpa kakao adalah salah satu makanan viral di Tokyo/Foto: pexels.com/Oleksandr Plakhota
Kalau dengar kata cokelat, biasanya langsung membayangkan biji kakao sebagai bahan utamanya. Namun di Jepang, perkembangan food tech mulai menghadirkan alternatif yang cukup bikin penasaran, yaitu cokelat tanpa kakao.
Dibuat dari bahan seperti biji-bijian yang difermentasi dan senyawa nabati, produk ini dirancang untuk tetap punya tekstur lembut, tampilan mengilap, dan rasa yang menyerupai cokelat. Selain inovasi, tren ini juga muncul sebagai respons terhadap tantangan lingkungan dan kebutuhan mencari bahan pangan yang lebih berkelanjutan. Di Tokyo, konsep seperti ini mulai dieksplorasi oleh dessert lab dan kafe-kafe yang mengusung inovasi pangan.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
