10 Makanan yang Sebaiknya Hanya Dinikmati Sebulan Sekali dan Alasannya

Natasha Riyandani | Beautynesia
Minggu, 17 May 2026 09:00 WIB
10 Makanan yang Sebaiknya Hanya Dinikmati Sebulan Sekali dan Alasannya
Daftar makanan yang sebaiknya dinikmati sebulan sekali/ Foto: Magnific.com/freepik

Menjaga kesehatan tubuh umumnya dimulai dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang. Pola makan yang baik bukan hanya tentang kenyang, tapi memastikan tubuh mendapatkan nutrisi penting seperti karbohidrat, protein, serat, lemak, vitamin, dan mineral untuk fungsi organ yang lebih optimal.

Namun, ada kalanya kita menginginkan makan makanan kurang sehat seperti junk food. Mengonsumsinya sesekali boleh saja dilakukan, asalkan tidak dijadikan kebiasaan sehari-hari. Itu karena kandungan nutrisinya yang rendah, namun tinggi kalori dan lemak jenuh.

Lantas, makanan apa saja yang sebaiknya hanya dikonsumsi sebulan sekali? Dilansir dari berbagai sumber, berikut daftarnya. 

1. Mi Instan

Mi instan/ Foto: Unsplash.com/Sanju Pandita

Harganya yang murah dan proses memasak yang praktis membuat mi instan dianggap sebagai “makanan penyelamat” bagi banyak orang, terutama saat sibuk atau lapar di malam hari.

Namun di balik kemudahannya, konsumsi mi instan setiap hari juga dapat membawa dampak buruk. Kandungan natrium yang tinggi, rendah serat dan protein, serta bahan pengawet, apabila dikonsumsi berlebihan bisa berisiko obesitas, diabetes, gangguan metabolik, hingga penyakit jantung.

Seorang ahli gizi menyarankan untuk mengonsumsinya maksimal 1-2 kali per bulan, atau minimal 1-2 kali per minggu untuk menjaga kesehatan. Selain itu, jangan lupa selalu tambahkan serat (sawi atau kangkung) dan protein (telur, ayam, tahu) untuk menyeimbangkan gizinya.

2. Makanan Cepat Saji

Burger/ Foto: Unsplash.com/Zoran Borojevic

Beragam makanan cepat saji seperti burger, pizza, fried chicken, kentang goreng, dan hot dog, sering kali menjadi pilihan praktis di tengah kesibukan. Rasanya yang enak dan mudahnya akses untuk mendapatkan makanan ini, membuatnya dipilih banyak orang.

Namun di balik kepraktisan dan hemat waktu, makanan cepat saji mengandung banyak kalori, lemak jenuh, garam, dan gula, tetapi rendah serat dan nutrisi penting. Konsumsinya berlebihan dapat berisiko obesitas, diabetes tipe-2, dan penyakit jantung.

Idealnya, makanan cepat saji hanya dikonsumsi sesekali, sekitar 1-2 kali sebulan, bukan menjadi rutinitas sehari-hari. Itu karena makanan ini tidak dapat memenuhi gizi harian.

3. Daging Olahan

Sosis/ Foto: Magnific.com/Emma Stierman

Konsumsi daging olahan seperti sosis, nugget, bacon, kornet, atau ham, secara berlebihan dapat berdampak terhadap kesehatan jangka panjang. Kandungan natrium dan lemak jenuh yang tinggi pada daging olahan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, obesitas, hingga penyakit jantung.

Selain itu, daging olahan juga diklasifikasikan sebagai karsinogenik (penyebab kanker) oleh WHO, terutama kanker usus. Itu karena adanya senyawa nitrit yang berubah menjadi nitrosamin setelah memakannya.

Oleh karena itu, sejumlah ahli gizi menyarankan untuk tidak mengonsumsi daging olahan berlebihan karena berisiko meningkatkan kematian dini. Konsumsinya hanya 1-2 kali sebulan, bukan sebagai menu harian.

4. Makanan Tinggi Gula

Kue/ Foto: Unsplash.com/Jonas Kakaroto

Siapa, nih, pecinta makanan manis? Saat 'craving' makanan manis, sebagian orang langsung melahap cake, cookies, atau aneka pastry bercita rasa lezat. Padahal camilan tersebut termasuk makanan yang tidak baik untuk tubuh jika dikonsumsi berlebihan karena mengandung gula tambahan, tepung olahan, dan terkadang lemak trans yang berbahaya.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, asupan gula normal bagi orang dewasa maksimal 50 gram atau setara 4 sendok makan per hari. Konsumsi gula berlebih dapat menyebabkan peningkatan berat badan, obesitas, dan meningkatkan risiko diabetes tipe-2.

Pilihlah makanan dengan sumber gula alami seperti buah-buahan, yogurt, atau dark chocolate. Namun jika menginginkan camilan manis seperti kue atau donat, sebaiknya konsumsinya hanya 1-2 kali sebulan agar tetap aman untuk tubuh.

5. Gorengan

Gorengan seperti bakwan dan risoles dapat meningkatkan kolesterol karena proses penggorengan yang menggunakan banyak minyak.

Gorengan/Foto: Freepik/freepik

Siapa yang tidak suka gorengan? Camilan gurih nan renyah ini merupakan salah satu makanan favorit orang Indonesia. Gorengan biasanya disantap langsung bersama cabai rawit hijau, atau menjadi lauk pendamping saat makan nasi hangat.

Namun di balik kelezatannya, gorengan mengandung kalori, natrium, lemak jenuh, dan lemak trans yang sangat tinggi dari minyak yang digunakan berulang kali (jelantah). Konsumsinya berlebihan dapat memicu kolesterol tinggi, penyakit jantung, dan peningkatan berat badan karena penumpukan lemak setelah memakannya.

Ahli gizi merekomendasikan konsumsi gorengan tidak lebih dari 4-8 pcs per bulan, atau sekitar 1-2 kali dalam seminggu. Jika lebih dari itu, maka dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dalam jangka panjang.

6. Makanan Pedas

Sambal/ Foto: Magnific.com/freepik

Bagi banyak orang Indonesia, makanan tidak akan terasa lengkap tanpa rasa pedas. Sensasi pedas bukan sekedar bumbu, melainkan dapat meningkatkan nafsu makan dan perasaan bahagia.

Namun, mengonsumsinya berlebihan dan terlalu sering dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Misalnya, dapat mengiritasi lambung, meningkatkan asam lambung (maag), dan menyebabkan diare.

Beauties tetap bisa mengonsumsi makanan pedas asalkan tidak berlebihan. Jika makanan pedas membuat perut terasa panas atau tidak nyaman, sebaiknya berhenti karena bisa memicu peradangan lambung.

7. Keripik Kentang

Keripik kentang/ Foto: Unsplash.com/Markus Winkler

Keripik kentang dan keripik kemasan merupakan salah satu jenis makanan ringan yang disukai masyarakat. Sayangnya, di balik teksturnya yang renyah dan cita rasanya yang gurih, keripik kentang mengandung tinggi lemak trans dan natrium yang dapat meningkatkan risiko hipertensi jika dikonsumsi berlebihan.

Seperti yang kita tahu, keripik kentang termasuk makanan yang diproses berlebihan (ultra-processed). Proses penggorengan suhu tinggi, di atas 170 derajat, pada keripik kentang dapat menghasilkan akrilamida, senyawa kimia yang berpotensi karsinogenik (memicu kanker).

Oleh karena itu, konsumsi keripik kentang kemasan sebaiknya dibatasi hanya sebulan sekali. Selain itu, jangan langsung habiskan satu bungkus besar sendirian, batasi dengan porsi kecil atau sekitar 18 gram untuk sekali makan.

Sebagai alternatif yang lebih sehat, Beauties bisa mengganti keripik kentang kemasan dengan popcorn, atau sayuran dan buah-buahan yang dikeringkan.

8. Karbohidrat Olahan

Pasta/ Foto: Unsplash.com/ABHISHEK HAJARE

Karbohidrat memang penting bagi tubuh. Namun, konsumsi karbohidrat olahan seperti pasta, roti putih, dan kue kering, terlalu sering bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Itu karena karbohidrat olahan hanya menawarkan sedikit nilai gizi sehingga meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe-2, dan penyakit jantung.

Karbohidrat olahan juga cenderung cepat dicerna, menyebabkan gula darah melonjak drastis sekaligus turun drastis, sehingga memicu rasa cepat lapar setelah memakannya.

Untuk itu, pilihlah karbohidrat utuh (whole foods) yang tinggi serat seperti beras merah, oat, dan roti gandum utuh. Selain membantu gula darah lebih stabil, tapi juga baik untuk gaya hidup jangka panjang.

9. Saus Kemasan

Saus kemasan/ Foto: Unsplash.com/Zoshua Colah

Saus kemasan populer digunakan sebagai pelengkap beragam makanan, seperti bakso, dimsum, pasta, atau cocolan kentang goreng. Namun di balik kelezatannya itu, saus kemasan sering kali mengandung gula yang tinggi, natrium, pengawet, dan pewarna tambahan.

WHO dan sejumlah ahli gizi pun menyarankan untuk membatasi asupan saus kemasan karena tidak baik untuk kesehatan jangka panjang.

Jika ingin mengonsumsinya, pilih saus dengan kandungan bahan alami yang lebih tinggi dan periksa label nutrisinya. Atau, bisa juga membuat saus atau sambal sendiri di rumah untuk menghindari pengawet serta gula atau garam berlebih.

10. Soda dan Minuman dengan Pemanis Tambahan

Minuman kemasan/ Foto: Unsplash.com/Erik Mclean

Bukan hanya makanan manis, mengonsumsi minuman manis seperti boba, kopi susu, soda, dan minuman kemasan lainnya juga harus dibatasi. Beragam minuman manis cenderung mangandung gula yang sangat tinggi.

Dalam jangka pendek, kadar gula tinggi dapat meningkatkan peradangan dan merusak gigi. Sementara jangka panjang, konsumsi gula tinggi terus-menerus meningkatkan risiko kencing manis, diabetes, hingga kenaikan berat badan yang signifikan karena kandungan kalori tinggi di dalamnya tidak membuat kenyang, justru disimpan sebagai lemak.

Jika ingin minum yang manis, usahakan konsumsi gula harian tidak melebihi 10% dari total kebutuhan energi harian.

Nah, itulah beberapa makanan yang sebaiknya hanya dinikmati sebulan sekali karena berisiko memicu penyakit kardiovaskular jika dikonsumsi berlebihan. Dari sekian banyak daftar makanan di atas, adakah favoritmu, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE