Viral Memoar "Broken Strings" Aurelie Moremans, Apa Itu Grooming dan Bagaimana Tanda-tandanya?

Nadya Quamila | Beautynesia
Senin, 12 Jan 2026 11:30 WIB
Viral Memoar
Aurelie Moremans/Foto: Instagram @aurelie

Nama artis Aurelie Moremans sedang menjadi perbincangan hangat di berbagai media sosial. Aurelie Moremans baru saja meluncurkan sebuah buku memoar bertajuk "Broken String" yang diunggahnya melalui akun Instagramnya. Buku ini dibagikan Aurelie secara gratis dan bisa diunduh melalui link di bio akun Instagramnya.

Memoar ini berisikan pengalaman pribadi kehidupan Aurelie, salah satunya saat ia menjadi korban dari manipulasi sebuah hubungan dan bagaimana cara ia bertahan hidup. Aurelie bercerita bahwa ia pernah menjalin hubungan dengan seorang pria yang jauh lebih tua, saat itu Aurelie masih berusia 15 tahun sementara pria tersebut berusia 29 tahun. Hubungan ini dijalani Aurelie saat ia baru meniti karier sebagai artis di Indonesia.

"Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku digrooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri. Ditulis tanpa romantisasi, dari sudut pandang korban," tulis Aurelie di Instagramnya, Sabtu (3/1).

Lantas, apa itu grooming dan bagaimana tanda-tandanya? Simak ulasannya berikut ini.

Apa Itu Grooming?

Grooming adalah perilaku yang disengaja untuk memanipulasi dan mengendalikan seorang anak, serta keluarga, kerabat, pengasuh, bahkan organisasi dan jaringan pendukung lainnya, dengan tujuan melakukan pelecehan atau kekerasan seksual terhadap anak.

Apa Itu Grooming?/Foto: Pexels/Juan Pablo Serrano

Grooming adalah perilaku yang disengaja untuk memanipulasi dan mengendalikan seorang anak, serta keluarga, kerabat, pengasuh, bahkan organisasi dan jaringan pendukung lainnya, dengan tujuan melakukan pelecehan atau kekerasan seksual terhadap anak, sebagaimana dikutip dari National Office for Child Safety.

Ada beberapa tujuan dari tindakan grooming, misalnya:

  • mendapatkan akses kepada anak atau remaja untuk melakukan pelecehan seksual
  • memperoleh materi seksual anak atau remaja
  • mendapatkan kepercayaan dan/atau kepatuhan anak atau remaja
  • menjaga agar anak atau remaja tetap diam
  • menghindari terungkapnya pelecehan seksual

Meskipun pelecehan seksual terhadap korban sering terjadi setelah atau bersamaan dengan tindakan grooming, tindakan pelecehan tidak perlu terjadi agar tindakan grooming dapat dianggap telah terjadi. Demikian pula, pelaku juga dapat melakukan pelecehan seksual terhadap anak tanpa adanya tindakan grooming.

Bagaimana Perilaku Grooming Terjadi?

Ada sejumlah tahapan yang mungkin terjadi sepanjang proses grooming, yaitu anak atau remaja menjadi sasaran, membangun kepercayaan, isolasi, seksualisasi, dan kontrol.

Bagaimana Perilaku Grooming Terjadi?/Foto: Pexels/RDNE Stock project

Tindakan yang dilakukan pelaku grooming terhadap korban biasanya begitu lembut sehingga bisa memanipulasi. Penting untuk dipahami bahwa bukan hanya anak atau remaja yang menjadi korban, tetapi juga orang tua, pengasuh, atau orang terdekat dari korban. 

Hal ini dapat menyulitkan orang tua dan pengasuh untuk menentukan apakah seorang anak sedang menjadi korban grooming, karena perilaku ini sering kali tampak mirip dengan perilaku tulus atau penuh perhatian.

Dikutip dari Bravehearts, pelaku sering kali dianggap sebagai orang yang jujur, disukai, dan menawan. Pelaku juga tampak tulus meluangkan waktu untuk membangun kepercayaan anak dan orang dewasa di sekitarnya. Proses ini dapat memakan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, tetapi tujuan akhirnya selalu sama: untuk mendapatkan akses tanpa pengawasan kepada anak dengan tujuan melakukan pelecehan seksual dan mencegah anak tersebut untuk mengungkapkan kejadian tersebut.

Ada sejumlah tahapan yang mungkin terjadi sepanjang proses grooming. Namun, tidak semua tahapan ini harus terjadi dan dapat terjadi dalam urutan apa pun. Berikut tahapannya:

Anak atau Remaja Menjadi Sasaran

Meskipun setiap anak atau remaja dapat menjadi korban grooming, pelaku mungkin akan menargetkan anak atau remaja yang sangat rentan. Misalnya, anak atau remaja yang terisolasi secara sosial, bagian dari kelompok sosial, ekonomi, ras, atau budaya yang terpinggirkan, atau anak yang tampak tidak percaya diri.

Membangun Kepercayaan

Pelaku grooming sering kali menampilkan diri sebagai orang yang dapat dipercaya, bereputasi baik, murah hati, dan disukai. Mereka juga berusaha membangun kepercayaan korban melalui perhatian khusus, misalnya memberi hadiah. Bukan hanya korban, keluarga korban juga akan menerima perlakuan spesial dari pelaku sehingga kepercayaan juga terjalin dengan orang terdekat korban.

Isolasi

Setelah membangun kepercayaan, pelaku secara bertahap akan mengisolasi korban dari keluarga dan teman yang mendukung. Pelaku juga berusaha mengisi peran dalam kehidupan korban dengan cara memberikan dukungan pratis atau emosional.

Seksualisasi

Pelaku dapat secara bertahap memperkenalkan konten atau diskusi seksual kepada korban untuk menormalisasi perilaku ini. Mereka sering kali kemudian memanfaatkan hal ini untuk mendorong atau memaksa korban untuk terlibat dalam aktivitas seksual, menghasilkan gambar pelecehan seksual, atau berpartisipasi dalam obrolan tatap muka atau virtual yang bersifat seksual. Perilaku ini dapat meningkat secara perlahan atau cepat.

Kontrol

Pelaku sering menggunakan kerahasiaan, rasa malu, menyalahkan, paksaan, dan ancaman untuk mempertahankan kendali. Tujuannya adalah untuk melanggengkan pelecehan dan memastikan korban tetap diam. Pelaku juga mungkin mencoba mengatakan kepada korban bahwa mereka menyayanginya, menawarkan suap atau hadiah kepada anak, atau menjatuhkan hukuman.

Tanda-Tanda Grooming

Menyadari tanda-tanda grooming dapat membantu melindungi anak dan remaja dari perilaku pelecehan hingga kekerasan seksual atau menyelamatkan korban dari pelaku.

Tanda-Tanda Grooming/Foto: Freepik.com/ahmadcomputer88

Menyadari tanda-tanda grooming dapat membantu melindungi anak dan remaja dari perilaku pelecehan hingga kekerasan seksual atau menyelamatkan korban dari pelaku. Korban mungkin menunjukkan tanda-tanda menjadi korban grooming dengan berbagai cara, seperti menunjukkan tanda-tanda berikut ini:

  • menjalin hubungan yang sangat dekat dengan orang yang lebih tua
  • menerima hadiah atau uang dari teman baru atau seseorang yang tidak dapat mereka jelaskan asal-usulnya
  • sangat merahasiakan penggunaan telepon, internet, atau media sosial mereka
  • menghilang dalam waktu lama
  • tampak sangat lelah, termasuk di sekolah
  • tidak jujur ​​tentang dengan siapa mereka bersama dan di mana mereka berada
  • menggunakan nama baru, memiliki identitas palsu, paspor atau SIM curian, atau telepon baru
  • dijemput dari sekolah oleh teman yang lebih tua atau teman baru

Bagaiman Dampak Grooming terhadap Korban?

Sifat manipulatif dari pelaku dapat membuat korban mengalami distorsi pikiran yang berkelanjutan, masalah identitas diri, dan perasaan terisolasi. Anak-anak yang telah menjadi korban grooming mungkin merasa bingung, takut, dan bersalah. Dalam beberapa kasus, korban mungkin secara bersamaan merasa memiliki 'ikatan' dengan pelaku dan merasa ingin melindungi hubungan mereka.

Ketika seorang anak menjadi korban grooming, mereka mungkin merasakan beberapa hal berikut ini:

  • berpikir bahwa mereka memiliki hubungan khusus dengan orang yang melakukan pelecehan/menyakiti mereka
  • merasa bingung tentang sifat hubungan mereka dengan pelaku
  • menganggap pelecehan sebagai kesalahan mereka/merasa bertanggung jawab atas pelecehan tersebut
  • takut mereka akan disalahkan, dihukum, atau tidak dipercaya jika mereka mengungkapkan pelecehan tersebut
  • takut bahwa mereka akan dipisahkan dari keluarga atau rumah mereka jika mereka berbicara apa yang terjadi
  • percaya bahwa jika mereka mengungkapkan yang terjadi akan menyebabkan kerugian bagi seseorang atau sesuatu yang mereka cintai dan sayangi, misalnya keluarga.

Bagaimana Cara Mencegah Grooming?

Hati-hati! Ini Dampak Child Grooming Pada Tumbuh Kembang Anak!/ Foto: Freepik/pikisuperstar

Bagaimana Cara Mencegah Grooming?/Foto: Freepik/pikisuperstar

Mengajari anak-anak dan remaja tentang kontak yang pantas dan tidak pantas (baik daring maupun luring), dan mendorong komunikasi yang terbuka dan jujur, tanpa rasa malu atau stigma, akan membantu melindungi mereka dengan lebih baik.

Berikut ini beberapa upaya yang bisa dilakukan orang tua untuk menjaga anak dari perilaku grooming:

  • mengedukasi anak soal perilaku dan situasi yang aman dan tidak aman, termasuk mampu mengidentifikasi tanda-tanda peringatan dini dan reaksi alami tubuh mereka ketika mereka merasa tidak aman, khawatir, atau takut. Hal ini termasuk perasaan gugup, telapak tangan berkeringat, dan detak jantung yang cepat.
  • mempraktikkan perilaku daring yang aman, termasuk menghapus dan memblokir permintaan dan pesan dari orang yang tidak mereka kenal, dan meninjau serta memperbarui pengaturan privasi.
  • mengetahui apa yang harus dilakukan dan kepada siapa harus berbicara jika ada sesuatu yang terasa tidak nyaman, serta layanan dukungan apa yang tersedia jika mereka tidak yakin atau jika sesuatu telah terjadi.
  • menolak permintaan untuk terlibat dalam perilaku tidak aman atau rayuan seksual.
  • memblokir pengguna yang tidak aman, mengajukan keluhan kepada perusahaan media sosial, dan melaporkan pelecehan daring.
  • memahami batasan tubuh, hubungan yang saling menghormati, dan persetujuan.
  • merasa aman dan terlindungi saat mengungkapkan apa yang terjadi pada mereka.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.