Semakin Merasa Kesepian Justru Semakin Ingin Menyendiri, Benarkah? Ini Kata Penelitian

Nadya Quamila | Beautynesia
Rabu, 05 Aug 2026 16:30 WIB
Semakin Merasa Kesepian Justru Semakin Ingin Menyendiri, Benarkah? Ini Kata Penelitian
Semakin Merasa Kesepian Justru Semakin Ingin Menyendiri, Benarkah? Ini Kata Penelitian/Foto: Magnific.com/magnific

Beauties, ketika kamu merasa benar-benar kesepian, ada banyak emosi yang berkecamuk di dalam diri. Kamu mungkin merasa tidak terkoneksi dengan orang lain, sedih, kecewa, hingga merasa dikucilkan. Di momen ini, kamu merasa sulit untuk lepas dari jerat emosi-emosi tersebut.

Kesepian adalah faktor kunci dalam semua jenis gangguan mental dan emosional. Di sisi lain, kesepian dapat membuat seseorang merasa sangat sendiri sehingga mereka akan merasa takut untuk mulai bersosialisasi. Mereka juga meyakini bahwa mereka tidak mampu menikmati momen kebersamaan orang lain. Padahal, terkoneksi adalah yang mereka butuhkan untuk bisa mengatasi rasa kesendirian dan emosi yang menyertainya.

Dalam sebuah studi pada 2015 yang diterbitkan di jurnal Cortex, para peneliti menemukan bahwa otak orang yang kesepian sebenarnya berbeda dari otak orang yang tidak kesepian. Menurut Psychology Today, ketika kita merasa terisolasi secara sosial, otak kita secara otomatis berubah ke mode mempertahankan diri, membuat kita lebih defensif dan agresif dalam menghadapi bahaya sosial. 

Guy Winch, seorang psikolog New York dan penulis buku Emotional First Aid mengatakan bahwa orang yang kesepian akan bersikap terlalu defensif dan tampak acuh tak acuh, dingin, serta sulit didekati. Hal ini pada akhirnya hanya akan membuat mereka semakin jauh dari lingkungan sosial. Kesepian dapat menciptakan perilaku negatif yang terus berulang.

Otak Orang yang Kesepian Mempersepsikan Ancaman Sosial Secara Berbeda

Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Chicago berupaya untuk mengeksplorasi fenomena ini lebih lanjut. Mereka ingin memberikan bukti bahwa otak orang yang kesepian sangat peka dalam membedakan antara ancaman sosial dan non-sosial.

Otak Orang yang Kesepian Mempersepsikan Ancaman Sosial Secara Berbeda/Foto: Pexels/PIOTR ARNOLDES

Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Chicago berupaya untuk mengeksplorasi fenomena ini lebih lanjut. Mereka ingin memberikan bukti bahwa otak orang yang kesepian sangat peka dalam membedakan antara ancaman sosial dan non-sosial. Mereka juga ingin membuktikan bahwa kesepian memicu serangkaian perubahan terkait otak yang menempatkan mereka dalam mode waspada dan gugup secara sosial.

Kuesioner diberikan kepada 38 orang yang sangat kesepian dan 32 orang yang tidak terlalu kesepian. Untuk studi ini, kesepian didefinisikan sebagai perasaan terisolasi, tapi bukan karena tidak memiliki banyak teman atau kerabat dekat.

Susunan elektroda yang terdiri dari 128 sensor ditempatkan di kepala masing-masing peserta untuk merekam gelombang otak mereka menggunakan elektroensefalografi (EEG), teknik yang mengukur perubahan aktivitas otak dalam jangka waktu singkat.

Para peneliti juga melakukan Tes Stroop, di mana subjek diminta untuk fokus pada warna sebuah kata di layar komputer. Peserta diminta untuk mengetik warna kata tersebut dengan cepat. Tes ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana otak peserta bekerja dalam hal pengaruh otomatis dan bawah sadar.

Dalam kuesioner, para peneliti menggunakan berbagai kata yang berbeda, baik positif maupun negatif, sosial maupun non-sosial. Ini membantu mereka menentukan bagaimana otak subjek bereaksi terhadap kata-kata negatif yang bersifat sosial dibandingkan dengan kata-kata yang non-sosial.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang merasa kesepian cenderung lebih fokus pada hal-hal negatif.

Otak Orang yang Kesepian Mempersepsikan Ancaman Sosial Secara Berbeda/Foto: Pexels/Gustavo Fring

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang merasa kesepian cenderung lebih fokus pada hal-hal negatif. Dari reaksi otak orang yang kesepian dibandingkan dengan otak orang yang tidak kesepian, para peneliti menyimpulkan bahwa kewaspadaan orang yang kesepian terhadap ancaman sosial adalah bias implisit dan tidak disadari, sesuatu yang bahkan tidak mereka sadari.

Hal ini mengkhawatirkan karena hasil ini menunjukkan bahwa ketika orang merasa sangat kesepian, otak mereka tidak fokus pada hal positif seperti senyuman dan tawa. Sebaliknya, otak mereka hanya bisa memproses hal-hal negatif.

Meskipun otak kita membuat kita ingin tetap sendirian saat kesepian, penting untuk tetap terhubung dengan orang lain. Cobalah untuk terlibat dalam aktivitas yang bermakna dan menyenangkan bagimu. Selain itu, coba luangkan waktu untuk menghubungi teman dan orang yang kamu cintai. Kamu tidak pernah tahu apakah mereka mungkin juga merasa kesepian, Beauties.

"Dengan melakukan sesuatu ketika Anda merasa kesepian, dengan mengubah respons Anda terhadap kegagalan, dengan melindungi harga diri Anda, dengan melawan pikiran negatif, Anda tidak hanya akan menyembuhkan luka psikologis Anda, Anda juga akan membangun ketahanan emosional dan Anda akan berkembang," ungkap Winch.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE