Selalu Mengutamakan Orang Lain? Ini 3 Sebab Kamu Mengabaikan Diri Sendiri

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Kamis, 18 Jun 2026 13:15 WIB
Selalu Mengutamakan Orang Lain? Ini 3 Sebab Kamu Mengabaikan Diri Sendiri
Mengabaikan diri sendiri kerap terjadi tanpa disadari ketika seseorang terlalu fokus pada kebutuhan orang lain/Foto: Magnific

Banyak orang merasa harus selalu tersedia, membantu, atau memenuhi ekspektasi dari orang di sekitarnya karena takut dianggap egois, mengecewakan, atau tidak peduli. Padahal, terlalu sering mengutamakan orang lain tanpa sadar bisa membuat seseorang mulai mengabaikan diri sendiri sehingga memicu kelelahan emosional, stres, hingga kehilangan batas sehat dalam hubungan.

Oleh karena itu, penting untuk mulai menyadari bahwa menjaga diri sendiri bukan berarti mementingkan diri sendiri, melainkan bentuk kepedulian agar kesehatan mental tetap terjaga. Langkah awal yang bisa coba adalah mencari tahu apa saja penyebab kamu terlalu memikirkan orang lain seperti yang dilansir dari Tiny Buddha di bawah ini agar kamu bisa menemukan jalan untuk mengatasinya!

Terbiasa Melihat Orang Terdekat Selalu Mengorbankan Diri

Mengutamakan orang lain sering terbentuk sejak masa kecil ketika seseorang terbiasa melihat orang terdekat selalu mengorbankan diri demi orang lain. Kebiasaan ini kemudian membentuk pola pikir bahwa kebutuhan pribadi tidak sepenting kebutuhan orang lain. Akibatnya, seseorang dapat tumbuh dengan kecenderungan mengesampingkan dirinya sendiri dalam berbagai situasi.
Mengutamakan orang lain sering terbentuk sejak masa kecil ketika seseorang terbiasa melihat orang terdekat selalu mengorbankan diri demi orang lain/Foto: Magnific

Sebagian orang tumbuh dengan kebiasaan selalu mendahulukan orang lain karena sejak kecil mereka melihat orang tua atau pengasuhnya melakukan hal yang sama. Pengalaman itu dapat membentuk keyakinan bahwa memprioritaskan diri sendiri adalah tindakan yang egois atau tidak benar.

Padahal, pola mengabaikan diri, menyabotase diri, hingga menyakiti diri sendiri sering diwariskan secara turun-temurun tanpa disadari. Siklus tersebut biasanya terus berulang sampai ada seseorang yang memutuskan untuk berhenti mengulang pola lama dan mulai berusaha mengubahnya.

Tumbuh dengan Perasaan bahwa Kebutuhan Diri Sendiri Tidak Penting

Mengutamakan orang lain sering berkaitan dengan pengalaman pengabaian kebutuhan emosional pada masa perkembangan awal/Foto: Magnific

Cara seseorang diperlakukan selama masa kecil sering membentuk pandangannya terhadap diri sendiri. Ketika kebutuhan emosional terus diabaikan atau sengaja tidak dipenuhi sebagai bentuk hukuman ketika ia melakukan kesalahan, seseorang bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa kebutuhannya tidak penting dibandingkan orang lain.

Dari situ muncul perasaan tidak layak menerima perhatian, kasih sayang, atau pemenuhan kebutuhan, bahkan merasa pantas tidak mendapatkan sesuatu yang seharusnya diterima saat melakukan kesalahan. Padahal, saat masih kecil, seseorang biasanya belum mampu memahami bahwa kegagalan orang tua atau pengasuh dalam memenuhi kebutuhan emosionalnya berasal dari keterbatasan mereka sendiri, bukan karena dirinya tidak berharga.

Meskipun begitu, hal tersebut tidak selalu berarti mereka adalah orang tua yang buruk. Hanya saja, banyak orang tanpa sadar mengulangi pola pengasuhan yang pernah mereka alami karena tidak mengetahui cara lain. Bedanya, sekarang kamu sudah bisa menyadari pola tersebut dan memahaminya dengan lebih utuh.

Menganggap bahwa Mengungkapkan Kebutuhan Pribadi adalah Tanda Kelemahan

Mengutamakan orang lain sering membuat seseorang memandang kebutuhan pribadi sebagai sesuatu yang tidak penting/Foto: Magnific

Banyak orang yang tumbuh dengan keyakinan bahwa memiliki kebutuhan pribadi adalah sesuatu yang salah atau menunjukkan kelemahan. Akibatnya, mereka menganggap kebutuhan emosional sama dengan sikap terlalu bergantung pada orang lain. Pandangan ini sering terbentuk karena pengalaman diremehkan saat mengungkapkan perasaan, dimanipulasi ketika membela diri, atau dibuat merasa bersalah saat meminta bantuan.

Padahal, memiliki kebutuhan dan bersikap terlalu bergantung adalah dua hal yang berbeda. Ketika seseorang mampu mengenali serta menghargai kebutuhannya sendiri, ia justru tidak bergantung pada orang lain untuk memvalidasi atau memenuhinya. Sikap tersebut merupakan kebalikan dari perilaku terlalu bergantung.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.