Nggak Suka Angkat Telepon dan Pilih Balas Lewat Pesan, Sopan Nggak Sih Sebenarnya?
Menatap layar ponsel yang tiba-tiba menyala dan bergetar karena ada panggilan masuk sering kali memicu rasa malas, atau bahkan kecemasan kecil di era sekarang. Alih-alih menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya, reflek kita biasanya adalah langsung menekan tombol decline atau membiarkannya berdering sampai mati, lalu buru-buru mengetik pesan singkat untuk memberi tahu bahwa kita sedang tidak bisa mengobrol.
Di era serba digital yang serba cepat ini, membalas panggilan telepon dengan pesan teks sudah menjelma menjadi sebuah kebiasaan yang sangat umum dan melekat erat. Dilansir dari Reader's Digest, tercatat ada sekitar 68 persen orang yang bahkan sudah sepenuhnya menggantikan fungsi panggilan telepon konvensional dengan berkirim pesan dalam rutinitas kehidupan sehari-hari mereka.
Namun di balik segala kepraktisannya, etis atau sopankah kebiasaan tersebut jika dipandang dari sudut pandang sosial? Yuk, kita bedah bersama-sama faktanya, Beauties!
Pesan Teks Memang Praktis, tapi Ada Rasa yang Hilang
Alasan terbesar mengapa mayoritas dari kita lebih mengunggulkan pesan teks dibandingkan mengobrol via suara adalah faktor fleksibilitasnya yang luar biasa tinggi. Melalui ruang obrolan teks, kamu memiliki kebebasan penuh untuk membalas kapan saja sesuai dengan kesiapan mental dan waktumu.
Berkirim pesan juga tidak menuntut dua orang untuk hadir berinteraksi pada detik yang sama. Kita tidak membutuhkan ruang privasi khusus yang sunyi seperti saat kamu harus mengangkat telepon.
Selain itu, keunggulan praktis lainnya dari pesan teks adalah kemampuannya untuk mengarsipkan detail-detail penting. Berbagai informasi krusial seperti alamat pertemuan, nomor rekening, atau jadwal kegiatan bisa tersimpan rapi dan dicari kembali dengan mudah lewat fitur pencarian di aplikasi obrolan.
Dari kacamata efisiensi waktu dan tenaga, beralih ke pesan teks memang sangat masuk akal bagi keseharian kita yang padat, Beauties. Namun, kepraktisan ini ternyata menuntut hal yang tidak murah dari sisi kedekatan emosional.
Sains Membuktikan Suara Membangun Ikatan yang Jauh Lebih Kuat
Sains Membuktikan Suara Membangun Ikatan yang Jauh Lebih Kuat/Foto: Magnific.com/yanalya
Meskipun mengetik di balik layar terasa jauh lebih nyaman dan aman bagi sebagian orang, ada fakta ilmiah yang cukup mengejutkan di balik getaran suara manusia. Dilansir dari Reader's Digest, sebuah studi menemukan fakta bahwa seseorang akan merasa jauh lebih terhubung secara emosional ketika berkomunikasi melalui suara langsung dibandingkan lewat untaian teks. Menariknya lagi, para peserta riset yang awalnya sempat khawatir bahwa obrolan telepon akan terasa canggung atau garing, ternyata terbukti keliru setelah mencobanya langsung.
Mendengarkan suara seseorang secara langsung mampu memicu pelepasan hormon oksitosin di dalam otak kita. Hormon inilah yang bertanggung jawab penuh dalam mempererat ikatan sosial dan menumbuhkan rasa percaya antarmanusia.
Sebaliknya, untaian pesan teks secantik apa pun tidak mampu menghasilkan efek kimiawi yang sama di dalam tubuh, Beauties. Artinya, jika kita terlalu ekstrem membatasi diri dan selalu memilih jalur teks, tanpa disadari kualitas hubungan interpersonal kita bisa perlahan-lahan berubah menjadi lebih dangkal.
Siapa yang Menghubungi Menjadi Penentu Utama Etikanya
Tentu saja tidak ada satu aturan kaku yang bisa dipukul rata untuk semua kondisi. Konteks situasi serta siapa sosok yang berada di seberang telepon sangat menentukan apakah tindakan membalas lewat teks itu bisa dianggap wajar atau justru kurang sopan.
Jika sosok yang mencoba meneleponmu adalah orang tua, wali, atau kakek dan nenek, sangat disarankan untuk segera mengangkatnya atau langsung menelepon balik begitu kamu senggang. Bagi generasi senior yang tidak tumbuh besar dengan budaya chatting, membiarkan panggilan mereka tidak terjawab bisa meninggalkan rasa penolakan yang cukup menyakitkan di hati mereka.
Untuk lingkaran pertemanan dekat, membalas panggilan dengan pesan teks biasanya masih sangat bisa dimaklumi dan diterima dengan santai, asalkan kamu benar-benar menepati janji untuk menghubungi mereka kembali nanti.
Sementara untuk urusan relasi kerja atau profesional, cobalah untuk lebih berhati-hati. Beberapa lingkungan kerja profesional hingga saat ini masih menempatkan komunikasi suara sebagai bentuk profesionalitas dan efisiensi kerja yang utama.
|
Baca Juga : 3 Kebiasaan Buruk Orang Ketika Meminta Maaf
|
Garis Batas di Mana Pesan Teks Benar-Benar Tidak Tepat
Garis Batas di Mana Pesan Teks Benar-Benar Tidak Tepat/Foto: Magnific.com/drobotdean
Walaupun membalas telepon lewat chat sudah menjadi norma baru yang lumrah, tetap ada beberapa kondisi krusial di mana kebiasaan ini akan langsung dinilai tidak sopan bahkan bisa melukai perasaan orang lain.
Beberapa situasi genting tersebut, salah satunya adalah ketika seseorang meneleponmu khusus untuk menyampaikan sebuah kabar duka atau berita buruk. Mengirimkan teks di saat seperti ini akan terasa sangat dingin dan minim empati. Kondisi lainnya adalah saat ada panggilan masuk berulang kali dari nomor yang sama, yang menjadi sinyal kuat adanya sebuah urgensi atau situasi darurat yang nyata.
Di samping itu, jika topik obrolan yang perlu dibahas ternyata terlampau panjang, rumit, dan berpotensi menimbulkan salah paham jika diketik, langsung menelepon adalah jalan keluar terbaik. Tekan tombol telepon karena langkah tersebut jauh lebih efektif serta menjadi bentuk nyata bahwa kamu sangat menghargai waktu dan energi kedua belah pihak.
Efek Jangka Panjang Terhadap Kehangatan Hubunganmu
Kebiasaan selalu berlindung di balik pesan teks dan menghindari panggilan suara secara perlahan bisa mengikis keintiman sebuah hubungan. Proses pengikisan ini tidak datang dalam bentuk pertengkaran besar yang meledak-ledak, melainkan seperti sebuah pendinginan suasana yang terjadi secara senyap dan perlahan sampai kedua pihak merasa asing satu sama lain.
Jika panggilan suara sudah terbukti secara ilmiah mampu memupuk kedekatan yang lebih dalam, maka memilih untuk hanya bertukar teks seumur hidup sama saja dengan membiarkan koneksi sosial kita tumbuh di permukaan yang dangkal. Ini bukan berarti kamu harus memaksakan diri mengangkat setiap panggilan asing yang masuk di kala sibuk, ya, Beauties. Namun, sesekali meluangkan waktu untuk menelepon balik sahabat atau orang tersayang daripada hanya mengirimkan emoji, bisa membawa perubahan kehangatan yang jauh lebih besar dari yang bisa kamu bayangkan.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!