Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Mengeluh Menurut Terapis

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 27 Oct 2026 15:00 WIB
Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Mengeluh Menurut Terapis
Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Mengeluh Menurut Terapis/Foto: Pexels.com

Mendengarkan teman yang mengeluh saat curhat tentang kehidupannya memang bisa jadi cukup tricky dan menantang. Di satu sisi, kita berusaha memahami masalahnya, dan di sisi lain kita juga berusaha berempati dengan apa yang ia rasakan saat itu.

Ketika teman curhat dan mengeluh, respons utama kita mungkin ingin menghibur mereka. Tapi terkadang, kalimat yang kita gunakan bisa jadi malah melukai perasaannya. Jika kamu sering bingung apa yang harus dihindari dan tidak boleh diucapkan ketika teman mengeluh, kamu bisa meniru kebiasaan orang dengan kecerdasan emosional tinggi berikut ini, Beauties.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu menghindari kesalahan umum yang sering terjadi saat seseorang sedang meluapkan emosinya secara intens. Alih-alih mencoba memperbaiki masalah atau mengabaikan emosi, mereka memilih untuk hadir dengan tenang dan memberikan validasi. Yuk, simak penjelasannnya dirangkum dari Parade!

Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Mengeluh Menurut Psikolog

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu menghindari kesalahan umum yang sering terjadi saat seseorang sedang meluapkan emosinya secara intens. Mereka tidak akan mengucapkan kalimat

Kalimat yang Tidak Akan Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Mengeluh Menurut Terapis/Foto: Pexels.com

Ketika ada teman yang sedang mencurahkan isi hatinya, kesalahan terbesar yang bisa dilakukan adalah mencoba memperbaiki masalah tersebut atau mengabaikan perasaan mereka. Dalam ilmu psikologi, sikap ini sering disebut sebagai "fixer syndrome" atau "emotional bypassing".

Hal ini terjadi ketika kita memberikan saran tanpa diminta, meremehkan situasi mereka, atau terburu-buru berusaha mengubah emosi negatif menjadi positif, padahal orang tersebut belum sepenuhnya memproses apa yang mereka alami.

Terapis pernikahan dan keluarga Dr. Deborah Vinall menjelaskan bahwa kecerdasan emosional membuat seseorang bersikap lebih bijak ketika menghadapi teman yang sedang mengeluh. Mereka tidak akan berusaha mencoba memperbaiki masalah yang dialami teman. Mereka akan menunjukkan belas kasih dan empati tanpa perlu memperbaiki keadaan atau mengabaikan emosi teman.

“Orang dengan kecerdasan emosional tinggi mampu berempati terhadap orang lain yang memiliki pengalaman hidup berbeda,” jelas Dr. Vinall. “Mereka menunjukkan belas kasih tanpa perlu ‘memperbaiki’ keadaan, mengabaikan emosi, atau membandingkannya dengan pengalaman pribadi mereka sendiri.”

Apa yang terjadi ketika kita berusaha memperbaiki masalah yang dialmai orang lain? Secara tidak langsung kita mengirimkan pesan kepada orang tersebut bahwa perasaan mereka hanyalah sebuah gangguan atau teka-teki yang harus dipecahkan, bukan sebuah pengalaman manusia yang valid.

Mengabaikan emosi dengan melontarkan kalimat seperti “Lihatlah sisi positifnya” atau “Bisa saja kondisinya lebih buruk” justru memaksa orang tersebut untuk menekan penderitaan yang mereka rasakan. Individu dengan kecerdasan emosional yang tinggi memahami bahwa validasi harus selalu didahulukan sebelum melangkah ke tahap pemecahan masalah. Mereka sangat menghindari mengucapkan dua kalimat tersebut, Beauties.

Kebiasaan yang Dilakukan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Curhat dan Mengeluh

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu menghindari kesalahan umum yang sering terjadi saat seseorang sedang meluapkan emosinya secara intens. Mereka tidak akan mengucapkan kalimat

Kebiasaan yang Dilakukan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Temannya Curhat dan Mengeluh/Foto: Pexels.com

Alih-alih langsung bertindak atau melontarkan kalimat yang bernuansa toxic positivity, orang dengan kecerdasan emosional tinggi menggunakan strategi komunikasi yang cermat dan peka. Strategi ini membuat orang lain merasa benar-benar dipahami, dihormati, dan didukung.

Berikut ini beberapa kebiasaan yang dilakukan orang dengan kecerdasan emosional tinggi saat temannya curhat dan mengeluh:

1. Mereka memberikan pernyataan yang memvalidasi

Alih-alih menawarkan solusi, orang kecerdasan emosional tinggi menggunakan ungkapan sederhana yang mengakui dan memvalidasi rasa sakit yang dialami teman. Kalimat seperti "Itu pasti menyakitkan" atau "Aku mengerti perasaanmu" membantu orang merasa lebih stabil tanpa perlu takut dihakimi.

Menurut Dr. Vinall, menunjukkan empati secara langsung, misalnya dengan mengatakan "Itu pasti menyakitkan", sangat berarti bagi seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka cukup kuat untuk mendampingi teman dalam emosi yang sulit, tanpa harus melarikan diri atau memaksa untuk segera merasa ceria kembali.

2. Mereka mengajukan pertanyaan terbuka yang bersifat kolaboratif

Alih-alih mendikte apa yang harus dilakukan selanjutnya, pendengar yang cerdas secara emosional justru mengembalikan kendali kepada teman yang sedang merasa kewalahan. Mereka mengajukan pertanyaan terbuka seperti "Apa yang bisa membuat situasi ini terasa lebih ringan bagimu?" atau "Apakah kamu ingin kita mencari solusi bersama, atau kamu hanya ingin mencurahkan isi hati?"

3. Mendengarkan secara aktif

Orang dengan kecerdasan emosional tinggi mendengarkan secara aktif karena ingin memahami, bukan hanya untuk memberikan respons. Mereka akan mengucapkan kalimat, "Coba ceritakan lagi" membantu menjaga fokus tetap sepenuhnya pada teman yang sedang bercerita.

"Orang yang cerdas secara emosional mendengarkan dengan sungguh-sungguh, alih-alih sibuk menyusun tanggapan atau sanggahan saat orang lain sedang berbicara," tegas Dr. Vinall. "Ungkapan sederhana ini menunjukkan kemampuan untuk menampung narasi orang lain tanpa terburu-buru bersikap defensif, mengoreksi, atau mengalihkan fokus kembali kepada diri sendiri."

Dengan memilih untuk memvalidasi alih-alih memperbaiki, serta hadir sepenuhnya alih-alih mengabaikan perasaan, mereka membangun kepercayaan yang lebih dalam dan menciptakan hubungan di mana rasa aman secara emosional dapat tumbuh dengan baik.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE