Dampak Fasilitas Data Center terhadap Wilayah Pemukiman Penduduk Sekitarnya
Di balik canggihnya artificial intelligence (AI) seperti ChatGPT dan Gemini, terdapat infrakstruktur raksasa yang menjadi tempat penyimpanan, memproses, dan mengatur data dalam jumlah besar. Seiring dengan meningkatnya penggunaan AI secara masif, maka kebutuhan pembangunan pusat data juga semakin gencar dilakukan.
Belakangan ini, kabar pusat data atau data center akan dibangun di Indonesia menjadi perbicangan hangat, Beauties. Namun tak hanya Indonesia saja, pembangunan pusat data di negara-negara lain turut dikerahkan dan mendapat kritik hingga penolakan tegas dari masyarakat setempat.
Pasalnya, pusat data memiliki dampak ekologis yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan manusia. Di Sydney, Australia, contohnya. Melansir dari CNBC Indonesia, proyek pembangunan data center senilai 1,2 miliar AUD (sekitar Rp15 triliun) resmi dibatalkan pada Senin (28/9/2026), setelah warga setempat demo menolak keras pembangunan itu.
Di Amerika Serikat sendiri, lebih dari 1.300 pusat data telah beroperasi saat ini, menurut Cleanview, yang dikutip dari CBS News. Bahkan, melansir dari World Resources Institute (WRI), Virginia disebut sebagai ibu kota pusat data dunia karena menampung jumlah fasilitas terbanyak setelah Texas dan California. Dijelaskan dalam laman Forbes, hampir sepertiga lokasi pusat data di Virginia berada dalam jarak sekitar 200 kaki (sekitar 60,9 meter) dari kawasan permukiman.
Pembangunan tersebut tidak tanpa dampak negatif. Pusat data membutuhkan banyak sekali konsumsi energi listrik dan air sehingga warga sekitar pun mengeluhkan dampaknya.
Lonjakan Permintaan Energi
Data center/ Foto: Dok. OpenAI
Satu pusat data AI membutuhkan banyak sekali energi, Beauties, bahkan disebut-sebut dapat menggunakan daya setara dengan 100.000 rumah. Pusat data yang berskala lebih besar diperkirakan akan mengonsumsi daya hingga 20 kali lipat dari jumlah itu.
Ketika permintaan meningkat, maka harga pun juga akan naik. Hal ini menjadi salah satu kekhawatiran yang dialami masyarakat AS yang tinggal di dekat pusat data. Walaupun faktor kenaikan tarif listrik cukup kompleks dan beragam, mengutip dari WRI, terjadi kenaikan tarif dengan nilai total lebih dari 60 miliar USD secara nasional di AS pada tahun 2025. Rata-rata warga Amerika membayar hampir 10% lebih mahal untuk listrik dibandingkan tahun 2024.
Dampak Terhadap Pasokan Air
Data center membutuhkan banyak konsumsi air/ Foto: Pexels.com/ZUMART
Pusat data membutuhkan banyak konsumsi air untuk mendinginkan server. WRI mencatat fasilitas berskala menengah dapat menggunakan hingga 300.000 galon air per hari, sedangkan untuk skala besar mengonsumsi hingga 5 juta galon setiap hari.
Di sisi lain, Forbes menjelaskan bahwa beberapa pusat data mendinginkan diri dengan menguapkan air. Air hangat naik ke menara pendingin, sebagian keluar sebagai uap, dan sebagian lagi tidak kembali lagi.
Berbeda dengan konsumsi air rumah tangga di mana mereka mengalirkan kembali konsumsi air ke saluran pembuangan, pusat data yang menguapkan airnya hanya mengembalikan sekitar seperempatnya.
Pendinginan menggunakan air ini akan menjadi masalah signifikan bagi masyarakat tinggal di sekitar fasilitas pusat data dan sudah menghadapi kekeringan atau menipisnya pasokan air.
Dampak Terhadap Kualitas Udara
Data center berdampak pada kualitas udara/ Foto: Pexels.com/Mabel Amber
Pusat data tidak hanya mengonsumsi banyak energi, tapi juga emisinya juga dapat memengaruhi kualitas udara. Selain energi dari pembangkit listrik, fasilitas juga didukung generator diesel sebagai cadangan darurat. Generator tersebut melepaskan polutan udara berbahaya, termasuk partikulat halus (PM2.5) dan nitrogen oksida (NOx), yang dikaitkan dengan penyakit pernapasan, penyakit jantung, asma, dan risiko kesehatan serius lainnya.
Polusi Suara
Selain itu, pusat data juga menyebabkan polusi suara bagi masyarakat yang tinggal di dekatnya. Penyebab utamanya adalah generator cadangan dan kipas pada perangkat pendingin yang beroperasi sepanjang waktu. Suara dengungan yang rendah dan konstan terdengar. Kebisingan ini menjadi salah satu komplain warga yang selama ini tinggal di area fasilitas pusat data.
Jika dibangun di Indonesia, apakah sudah siap memitigasi dampak-dampak yang sudah dialami oleh negara lain tersebut?
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!