Bystander Effect, Fenomena Mengapa Orang Ragu Menolong saat di Keramaian

Sri Purwantiningrum | Beautynesia
Kamis, 01 Oct 2026 10:00 WIB
Bystander Effect, Fenomena Mengapa Orang Ragu Menolong saat di Keramaian
Bystander effect, alasan psikologis seseorang menjadi ragu menolong di keramaian/ Foto: Pexels/Damla Karaağaçlı

Pernahkah kamu melihat seseorang tersandung sampai barang bawaannya berserakan di stasiun kereta yang padat, tapi orang-orang di sekitarnya hanya melirik lalu melenggang pergi begitu saja? Atau mungkin, kamu sendiri pernah berada di posisi saksi mata yang ingin menolong, tapi tubuhmu membeku atau memilih diam?

Kondisi ini bukan semata-mata karena orang-orang berhati dingin, Beauties. Dalam psikologi sosial, situasi ini dikenal dengan istilah bystander effect (efek pengamat). Secara sederhana, ini adalah fenomena ketika seseorang merasa ragu atau menunda memberi bantuan saat situasi darurat karena ada orang lain di sekitarnya. Paradoksnya, semakin ramai saksi mata yang hadir di lokasi kejadian, semakin kecil kemungkinan seseorang berinisiatif menolong.

Dirangkum dari laman Psychology Today dan Verywell Mind, yuk, pahami lebih jauh tentang fenomena bystander effect ini!

Mengapa Keramaian Justru Bikin Kita Ragu Menolong?

Orang ragu menolong karena melihat orang di sekitarnya juga tidak menolong/ Foto: Magnific/Magnific

Fenomena yang pertama kali diteliti secara mendalam oleh psikolog sosial Bibb Latané dan John Darley ini terjadi karena beberapa alasan psikologis yang bekerja di otak kita. Alasan pertama adalah diffusion of responsibility atau penyebaran tanggung jawab. Saat di kerumunan, rasa tanggung jawab pribadi menurun karena kita membatin pasti ada orang lain yang akan bertindak. Masalahnya, hampir semua orang di tempat tersebut memikirkan hal yang sama persis sehingga akhirnya tidak ada satu pun yang bergerak.

Kedua, situasi darurat yang terjadi tiba-tiba kerap terasa membingungkan sehingga memicu pluralistic ignorance. Saat ragu apakah suatu kejadian benar-benar berbahaya, kita secara alami mengamati reaksi orang sekitar. Begitu melihat orang lain tampak tenang, otak kita menyimpulkan situasi tersebut baik-baik saja. Keraguan ini makin diperberat oleh evaluation apprehension, yaitu rasa takut dihakimi, ditertawakan, atau dianggap berlebihan jika ternyata kita salah membaca situasi.

Kecenderungan ini dibuktikan lewat riset klasik keduanya yang dipublikasikan dalam jurnal American Scientist. Dalam eksperimen ruang berasap, sebanyak 75% peserta yang sendirian langsung bergegas melapor saat melihat asap. Namun, saat berada di ruangan bersama dua orang lain, angka pelapor turun menjadi 38%. Persentase tersebut bahkan makin menurun menjadi 10% saat peserta bersama orang-orang yang sengaja bersikap pura-pura tenang.

Menjadi Upstander, Langkah Berani untuk Membantu Sesama

Beralih menjadi upstander sebagai langkah berani untuk inisiatif menolong/ Foto: Magnific/fotodrobik-1

Kabar baiknya, respons pasif ini bisa diperbaiki dengan mengubah peran diri menjadi seorang upstander, yaitu sosok yang secara sadar berani mengambil inisiatif saat melihat ketidakadilan atau situasi darurat.

Berdasarkan panduan dari American Psychological Association (APA), menjadi upstander dilakukan melalui lima tahap sadar yaitu menyadari adanya kejanggalan, menilai apakah korban butuh bantuan, mengambil tanggung jawab pribadi, mengukur kemampuan diri, lalu mengambil tindakan nyata.

Aksi nyata tidak selalu berupa tindakan heroik yang ekstrem. Cukup mulai dengan suara kecil yang tegas, seperti bertanya, "Ada yang bisa dibantu?" atau berseru, "Tolong hentikan!". Keberanian awal ini bisa memicu efek domino yang menyadarkan orang di sekitar untuk ikut membantu. Meski begitu, keselamatan diri tetap menjadi prioritas utama. Menolong bisa dilakukan tanpa konfrontasi fisik, seperti melapor ke satpam atau mencari bantuan medis terdekat.

Trik Cerdas Saat Kamu Sendiri yang Butuh Bantuan

Tunjuk secara spesifik dan jelas saat meminta tolong agar orang terdorong untuk bertindak/ Foto: Magnific/Magnific

Lalu, bagaimana jika posisinya terbalik dan justru kamu yang sedang terjebak situasi darurat di tempat umum? Satu hal penting yang perlu diingat adalah hindari berteriak minta tolong secara umum. Berseru "Tolong! Tolong!" di tengah keramaian sering kali membuat orang bingung dan saling menunggu inisiatif satu sama lain.

Triknya adalah menunjuk satu orang secara spesifik. Buat kontak mata langsung dan sebutkan cirinya dengan jelas, misalnya: "Mas yang pakai kemeja biru, tolong bantu hubungi sekuriti sekarang!". Arahan personal ini akan memutus penyebaran tanggung jawab dan membuat orang tersebut terdorong untuk segera bertindak.

Menumbuhkan kepedulian di tengah keramaian memang butuh keberanian dan latihan secara sadar. Dengan memahami cara kerja bystander effect, kamu bisa melatih diri agar tidak mudah mematung saat melihat kedaruratan di depan mata. Ingat, satu inisiatif kecil darimu bisa menjadi penyelamat besar bagi orang lain, Beauties!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE