Bukan Warna Hijau, Ini Alasan Lampu Lalu Lintas di Jepang Berwarna Biru

Sri Purwantiningrum | Beautynesia
Kamis, 24 Sep 2026 19:30 WIB
Bukan Warna Hijau, Ini Alasan Lampu Lalu Lintas di Jepang Berwarna Biru
Bukan Warna Hijau, Ini Alasan Lampu Lalu Lintas di Jepang Berwarna Biru/Foto: Pexels/ZBA Banner

Sejak kecil, kita diajarkan bahwa lampu merah berarti berhenti dan hijau berarti jalan. Aturan ini berlaku di hampir seluruh belahan dunia. Namun, jika kamu jalan-jalan ke Jepang, kamu mungkin akan menyadari satu hal yang unik. Saat berdiri di penyeberangan, lampu tanda jalan di sana memiliki rona kebiruan, dan masyarakat setempat pun menyebutnya biru (ao), bukan hijau (midori). Kok bisa, ya? 

Melansir dari rangkuman laman Times of India dan Reader's Digest, yuk, simak alasan budaya dan sejarah di balik keunikan lampu lalu lintas di negeri Sakura ini!

Akar Budaya: Ketika Hijau dan Biru adalah Satu

Masyarakat Jepang sejak dulu terbiasa menyebut hijau alam dengan kata ao (biru)/ Foto: Pexels/Satoshi Hirayama

Jika ditarik ke belakang, alasan utamanya murni karena faktor linguistik. Bahasa Jepang kuno ternyata hanya memiliki empat kosakata warna dasar, yaitu merah, hitam, putih, dan biru (ao). Saat itu, kata ao digunakan untuk merujuk pada spektrum warna yang sangat luas, mencakup apa yang sekarang kita kenal sebagai biru hingga hijau.

Kata khusus untuk warna hijau, yaitu midori (yang melambangkan alam dan vitalitas), baru muncul berabad-abad kemudian pada Zaman Heian (794-1185). Meski kosakata bahasa perlahan berkembang, kebiasaan turun-temurun menyebut benda-benda hijau dengan sebutan ao sudah terlanjur melekat kuat di masyarakat hingga kini.

Benturan Tradisi Lokal dengan Standar Global

Standar global mewajibkan lampu tanda jalan harus selalu berwarna hijau/ Foto: Pexels/Szymon Shields

Ketika lampu lalu lintas pertama kali diperkenalkan di Jepang pada tahun 1930-an, warnanya sebenarnya mengikuti standar pada umumnya, yaitu merah, kuning, dan hijau. Namun, karena kuatnya pengaruh bahasa kuno tersebut, masyarakat tetap menyebut lampu hijau itu sebagai ao shingou (sinyal biru).

Menurut pakar bahasa dan budaya, Katsuhiro Ito, penyebutan ini bahkan secara resmi tertulis dalam Undang-Undang Lalu Lintas Jalan tahun 1960. Keputusan ini sempat memicu dilema. Para ahli linguistik merasa ini kurang akurat, sementara Jepang juga menghadapi tekanan dari standar lalu lintas global, seperti Konvensi Wina 1968, yang menetapkan bahwa tanda jalan harus selalu berwarna hijau.

Solusi Cerdas dan Estetik Pemerintah Jepang

Pemerintah Jepang menetapkan lampu lalu lintas dengan rona hijau yang paling biru/ Foto: Pexels/ZBA Banner

Menghadapi tarik-ulur antara mematuhi standar internasional dan mempertahankan warisan bahasanya, pemerintah Jepang akhirnya menemukan kompromi yang brilian. Pada tahun 1973, sebuah dekrit kabinet dikeluarkan untuk mewajibkan pembuatan lampu lalu lintas dengan rona hijau yang paling biru. 

Secara ilmiah, lampu ini menggunakan spektrum warna hijau dengan panjang gelombang yang mendekati biru. Keputusan ini sangat cerdas. Warnanya terbukti cukup hijau untuk memenuhi standar keselamatan lalu lintas internasional dan secara visual cukup biru agar sah disebut ao dalam dokumen hukum dan obrolan sehari-hari.

Apel Hijau yang 'Biru' dan Makna Tersembunyi Ao

Selain warna, kata ao juga menjadi kiasan untuk sesuatu yang muda dan segar/ Foto: Pexels/Dương Nhân

Menariknya, fenomena ini tidak berhenti di lampu lalu lintas. Masyarakat Jepang juga terbiasa menyebut apel hijau sebagai aoringo (apel biru) dan sayuran berdaun hijau sebagai aona.

Dari sudut pandang psikologi bahasa, kata ao juga membawa makna metaforis yang melambangkan kemudaan atau sesuatu yang baru. Misalnya, frasa kare wa mada aoi yang secara harfiah berarti dia masih biru, digunakan untuk merujuk pada seseorang yang masih muda atau belum berpengalaman.

Seorang penutur asli, Makiko Yamagata, menyebutkan bahwa kebiasaan ini terasa sangat natural bagi warga lokal, sampai-sampai mereka baru menyadari keunikannya ketika ada turis asing yang kebingungan.

Pada akhirnya, lampu lalu lintas di Jepang bukan sekadar pengatur jalan, melainkan cerminan indah tentang bagaimana budaya dan bahasa dapat membentuk cara suatu masyarakat melihat dunia. Ini juga menunjukkan bahwa tradisi kuno dan aturan modern bisa berjalan beriringan dengan sangat estetik. 

Nah, kalau kamu berkesempatan menyeberang jalan di Tokyo nanti, kamu bakal melihat lampu tersebut sebagai warna hijau atau biru, nih, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE