Benarkah Waktu Bisa Menyembuhkan Patah Hati? Ini Kata Sains
Patah hati memang terasa menyakitkan dan melelahkan, seolah waktu berhenti, sementara hidup orang lain terus berjalan. Banyak orang bilang, “nanti juga sembuh sendiri, tunggu waktu saja”. Namun saat kamu sedang berada di tengah rasa kehilangan, kalimat itu sering terdengar hampa. Kamu mungkin bertanya-tanya, apakah waktu benar-benar bisa menyembuhkan, atau kamu hanya diminta bertahan tanpa kepastian?
Pertanyaan ini ternyata juga menarik perhatian dunia sains. Psikologi dan neurosains mencoba memahami bagaimana otak dan emosi manusia memproses kehilangan. Untuk menjawab benarkah waktu bisa menyembuhkan patah hati, simak apa yang sebenarnya terjadi di tubuh dan pikiranmu saat kamu terluka secara emosional berikut.
Patah Hati Mengaktifkan Area Nyeri di Otak
Saat patah hati, otak tidak membedakan antara sakit emosional dan sakit fisik. Aea otak yang sama dengan rasa nyeri fisik akan aktif/ Foto: Freepik.com / Freepik
Saat kamu patah hati, otak tidak membedakan antara sakit emosional dan sakit fisik. Dikutip dari Journal of Neurophysiology (2011) menunjukkan bahwa penolakan romantis mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa nyeri fisik. Inilah sebabnya patah hati terasa begitu menyakitkan secara nyata. Seiring waktu, aktivitas di area ini menurun, sehingga intensitas rasa sakit perlahan mereda.
Waktu Membantu Otak Beradaptasi, Bukan Menghapus Ingatan
Waktu bisa menyembuhkan patah hati dengan membantu otak beradaptasi / Foto: Freepik.com / Freepik
Waktu tidak menghapus kenangan, tetapi membantu otak beradaptasi. Menurut Emotion Review (2018), otak manusia memiliki kemampuan habituasi, yaitu menurunkan respons emosional terhadap stimulus yang sama dari waktu ke waktu. Artinya, kamu mungkin masih ingat orang atau peristiwa yang melukai, tapi respons emosionalnya tidak lagi sekuat dulu. Inilah salah satu penjelasan ilmiah kenapa waktu terasa “menyembuhkan”.
Proses Penyembuhan Dipengaruhi Cara Kamu Menghadapi Luka
Waktu bisa menyembuhkan patah hati ketika kamu tahu cara menghadapi luka / Foto: Freepik.com / Freepik
Menariknya, waktu saja tidak selalu cukup. Studi dalam Journal of Personality and Social Psychology (2017) menunjukkan bahwa individu yang memproses emosi secara reflektif, bukan menekan atau menghindari, akan cenderung pulih lebih sehat dari patah hati. Jadi, waktu bekerja paling efektif ketika kamu juga memberi ruang untuk merasakan, memahami, dan melepaskan emosi secara bertahap.
Keterikatan Emosional Memudar Secara Bertahap
Waktu bisa menyembuhkan patah hati dan keterikatan memudar bertahap / Foto: Freepik.com / Freepik
Patah hati juga berkaitan dengan sistem attachment di otak. Menurut Journal of Social and Personal Relationships (2019), ikatan emosional tidak putus seketika, tetapi melemah secara perlahan seiring berkurangnya interaksi dan stimulus emosional. Proses ini membutuhkan waktu, dan itulah mengapa rasa rindu atau sedih bisa datang dan pergi sebelum benar-benar stabil.
Makna Baru, Membantu Penyembuhan Lebih Dalam
Waktu bisa menyembuhkan patah hati dengan makna baru / Foto: Freepik.com / Freepik
Penelitian di Journal of Positive Psychology (2020) menemukan bahwa individu yang mampu menemukan makna dari pengalaman patah hati, bukan sekadar melupakannya, menunjukkan pemulihan emosional yang lebih kuat. Waktu memberi jarak, tapi makna memberi arah. Saat kamu mulai melihat luka sebagai bagian dari pertumbuhan, penyembuhan tidak hanya terasa lebih cepat, tapi juga lebih utuh.
Jadi, benarkah waktu bisa menyembuhkan patah hati? Jawabannya ya, tetapi bukan karena waktu bekerja sendirian. Waktu membantu otak dan emosi menurunkan intensitas luka, sementara caramu memproses perasaan menentukan seberapa sehat penyembuhan itu terjadi. Kamu tidak harus “cepat sembuh”, cukup jujur pada prosesmu sendiri.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!