Belajar Menerima Ketidaksempurnaan Diri Lewat Filosofi Jepang Wabi-Sabi
Belajar menerima ketidaksempurnaan diri memang tidak selalu semudah yang terdengar. Di tengah banyaknya momen perbandingan diri dengan orang lain di media sosial, ekspektasi masyarakat yang menyesakkan, hingga pergulatan batin, bisa dibilang belajar untuk menerima diri, dengan lebih dan kurangnya, adalah perjalanan seumur hidup.
Jika kamu sedang dalam proses menerima diri sendiri, kamu bisa coba berkenalan dengan konsep asal Jepang bernama "wabi-sabi". Konsep ini memandang bahwa menerima ketidaksempurnaan jauh lebih indah daripada sekadar kecantikan konvensional. Ketika diterapkan dalam hubungan dengan diri sendiri, konsep ini dapat menumbuhkan penerimaan diri dan kepercayaan diri.
Yuk, cari tahu bagaimana kamu bisa menerapkan konsep ini untuk belajar menerima diri sendiri dengan lebih baik!
Apa Itu Wabi-Sabi?
Apa Itu Wabi-Sabi?/Foto: Pexels.com
Menurut psikolog klinis Angela Chen, MPH, PHD, wabi-sabi adalah filosofi Jepang yang menghargai keindahan dalam ketidaksempurnaan. Misalnya buah atau sayuran yang bentuknya tidak sempurna, wajah yang tidak sepenuhnya simetris, hingga proses penuaan.
Kata "wabi" mengacu pada upaya menemukan kekayaan makna dalam kesederhanaan di mana pun kita berada. Sedangkan "sabi" lebih berkaitan dengan perubahan alami akibat usia dan waktu, di mana penuaan atau penurunan kondisi fisik justru tampak anggun.
Menurut terapis Chloe Bean, LMFT, filosofi ini biasanya diterapkan dalam seni dan desain melalui unsur asimetri, karya yang sengaja dibiarkan tampak belum rampung, atau penggunaan kayu yang sudah menua. Contohnya adalah kintsugi, yaitu seni tradisional Jepang untuk memperbaiki tembikar yang pecah dengan menambal retakan menggunakan pernis yang ditaburi atau dicampur dengan bubuk emas, perak, atau platina.
Menurut Chen, kintsugi merupakan karya seni yang menjunjung tinggi nilai wabi-sabi karena seni ini justru menonjolkan retakan pada tembikar yang pecah yang dibalut dengan bubuk emas, perak, atau platina. Justru, karya seni ini ingin menunjukkan bahwa ada keindahan dalam ketidaksempurnaan.
"Praktik ini bertujuan untuk menonjolkan, bukan menyembunyikan, keindahan dari ketidaksempurnaan yang terlihat serta sejarah di baliknya," ungkap Chen.
Namun, filosofi wabi-sabi sebenarnya tidak terbatas pada dunia desain saja, Beauties. Saat diterapkan dalam praktik kesadaran diri dan introspeksi, filosofi ini dapat membantu kamu membangun kepercayaan diri seiring berjalannya waktu.
Bagaimana Wabi-Sabi Dapat Membantu Kita Menerima Diri Sendiri
Bagaimana Wabi-Sabi Dapat Membantu Kita Menerima Diri Sendiri/Foto: Pexels.com
Bean menjelaskan bahwa menerapkan prinsip wabi-sabi dapat membantu meningkatkan penerimaan diri dan kepercayaan diri dengan memberikan izin kepada diri sendiri untuk tidak menjadi sempurna.
Sebagai langkah awal, penerimaan diri berarti melepaskan rasa malu yang sering kita bawa saat kita tidak mampu memenuhi standar dan harapan orang lain. Lebih lanjut, kepercayaan diri berkaitan dengan keyakinan terhadap kemampuan dan keterampilan diri sendiri, sembari menyadari serta memanfaatkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Wabi-sabi mendukung sikap-sikap ini karena filosofi tersebut merangkul ketidaksempurnaan.
Konsep wabi-sabi dapat mengajarkan kita untuk memandang berbagai sisi dari dalam diri, termasuk merangkul segala kekurangan dan luka emosional yang menjadi bagian penting dari jati diri kita. Wabi-sabi juga mengajarkan kita untuk berhenti melawan atau menghindari kenyataan, sembari menumbuhkan kesadaran penuh atau mindfulness.
Cara Menerapkan Wabi-Sabi
Cara Menerapkan Wabi-Sabi/Foto: Pexels.com
Perhatikan Ketidaksempurnaan Diri Tanpa Menghakimi
Setiap hari, coba luangkan waktu beberapa menit untuk mengamati hal-hal yang tidak sempurna dari dalam diri tanpa menghakimi, misalnya kerutan dan bercak penuaan di wajah.
"Menjadikan hal ini sebagai kebiasaan akan membangun keterampilan mindfulness (kesadaran penuh), khususnya kesadaran akan momen saat ini tanpa pikiran kritis ataupun penghakiman," ujar Chen. Hal ini juga mengajarkan kita untuk membiarkan segala sesuatu apa adanya, alih-alih memaksakan bagaimana seharusnya atau bagaimana hal itu bisa terjadi.
Ubah Cara Pandang terhadap Kekurangan dan Kesalahan
Bagaimana jika kenangan menyakitkan dan kekurangan diri yang kita rasakan sebenarnya merupakan bukti ketangguhan, bukan tanda kerusakan? Praktik ini menumbuhkan sikap penerimaan dengan cara meredam rasa malu. Kamu juga bisa memandangnya sebagai upaya merangkul "retakan" dalam diri, seperti karya seni kintsugi.
Hidup Berdampingan dengan Kritik Diri
Beauties, otakmu mungkin sering mengulang kritik yang ditujukan pada diri sendiri. Ketika kritik ini muncul, jangan berusaha untuk menghilangkannya. Biarkan pikiran itu hadir tanpa perlu kamu hindari, alihkan perhatian, atau menyingkirkanya.
Belajar hidup berdampingan bersama pikiran-pikiran ini, alih-alih terjebak di dalamnya, akan mengajarkanmu bahwa pikiran tersebut sebenarnya tidak dapat mencelakai dirimu. Seiring waktu, praktik ini dapat memperkuat welas asih terhadap diri sendiri, sehingga membantu kamu merasa lebih percaya diri dan aman.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!