7 Ciri Kepribadian Orang yang Dibesarkan oleh Orang Tua 'Strict Parents'
Tidak dapat dipungkiri, cara orang tua mengasuh bisa memengaruhi kepribadian hingga saat ini. Bahkan, bisa jadi perilaku seseorang yang sulit percaya diri, menghindari percakapan yang sulit, dan sebagainya berakar dari pengalaman masa kecil yang secara tidak langsung diajarkan oleh orang tua yang tergolong strict parents.
Orang tua strict parents kerap berperilaku keras dan kritis terhadap anaknya yang akhirnya membuat anak jadi tanpa sadar selalu mencari kesalahan yang dibuat dan tergesa-gesa memperbaikinya agar tidak terkena omelan.
Anak bahkan secara langsung belajar bagaimana kriteria yang akan mendapatkan pujian, mana yang diabaikan, dan mana yang akhirnya mendapat tatapan tajam. Lama-lama, pola ini akan berubah menjadi kebiasaan yang diterapkan ke semua orang, termasuk diri sendiri.
Sebetulnya, sifat-sifat ini kerap terjadi di banyak keluarga dengan berbagai alasan, seperti pengaruh tekanan, kondisi ekonomi, budaya, hingga kesehatan mental. Kita bahkan bisa mengetahui apakah seseorang tumbuh di keluarga dengan orang tua strict parents, dengan melihat ciri-ciri kepribadiannya berikut ini.
Kerap Mengkritik Diri Sendiri (Self-shaming)
Seseorang yang dididik orang tua strict parents akan terus-menerus merasa ada yang salah dan kerap mengkritik diri sendiri./ Foto: Freepik.com
Dilansir dari Cottonwood Psychology, seseorang yang tumbuh dengan strict parents dan lingkungan yang keras akan merasa seolah-olah ada’ suara batin’ yang terus-menerus mengomentari cara hidup mereka. Mulai dari gaya bahasa, penampilan, atau apakah sudah cukup berusaha.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, ‘suara’ ini membuat seseorang merasa tidak pernah cukup atas pencapaian yang telah diraih. Ketika mendapatkan keberhasilan, mereka tetap merasa bersalah dan menekan dirinya untuk terus berusaha jadi lebih baik lagi.
Tanda paling jelas adalah mereka kerap berbicara pada diri sendiri ketika melakukan kesalahan kecil.
Menjadi Seorang yang People pleaser atau Ingin Menyenangkan Orang Lain
Mereka cenderung ingin selalu menyenangkan orang lain karena memilih menghindari konflik./ Foto: Freepik.com
Kebiasaan menyenangkan orang lain ternyata dimulai sejak kecil sebagai suatu cara pertahanan diri. Mereka sudah biasa belajar menebak keinginan orang tuanya dan menghindari konflik.
Ketika dewasa, mereka mungkin akan tertawa pada hal yang tidak lucu, sering menyetujui hal-hal tanpa berpikir, atau mengambil alih tugas orang lain agar tidak ada yang kecewa.
Tubuh mereka seolah-olah bisa menyadari dan bereaksi jika ada orang lain yang terkesan tidak puas, sehingga terdorong untuk segera memperbaiki keadaan.
Selalu Ingin Menghindari Konflik
Seseorang yang dibesarkan strict parents mengalami kesulitan dalam komunikasi sehingga memilih menghindari konflik./ Foto: Freepik.com/zinkevych
Seseorang yang dibesarkan di tengah didikan strict parents mengalami kesulitan dalam komunikasi. Tidak mengherankan jika mereka cenderung menghindari konflik karena takut tidak memenuhi harapan orang lain.
Seperti yang dilansir dari Your Tango, studi menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil yang penuh dengan tekanan bisa membuat seseorang memiliki gaya hubungan yang avoidant atau penuh dengan penghindaran, seperti menekan emosi atau menjauh dari konflik demi mendapat rasa aman.
Terlalu Banyak Menyampaikan Penjelasan Pilihan Hidup (Over-explaining)
Anak yang dididik oleh orang tua yang terlalu keras terbiasa menjelaskan pilihan hidupnya secara berlebihan untuk menghindari penilaian negatif./ Foto: Freepik.com
Dilansir dari Your Tango menurut penelitian tahun 2016, anak yang dididik oleh orang tua yang terlalu keras pada umumnya merasa kesulitan dalam mengatur emosi, mandiri, dan membangun kepercayaan diri.
Hal ini karena mereka dulu sering dihakimi atau dipermalukan ketika mengungkapkan pendapat, jadi mereka jadi terbiasa menjelaskan pilihan hidupnya secara berlebihan untuk menghindari penilaian negatif. Kebiasaan ini ternyata bisa terbawa sampai dewasa karena mereka masih ada ketakutan untuk disalahkan orang lain.
Sulit Mengambil Keputusan
Mereka seringkali tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar membuat keputusan sendiri sehingga akhirnya sulit mengambil keputusan./ Foto: Freepik.com/pressfoto
Seseorang yang pada saat masa kecil dibesarkan oleh orang tua yang strict parents atau cenderung otoriter seringkali tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar membuat keputusan sendiri.
Ketika mereka dewasa, mereka akan selalu mencari persetujuan atau validasi oleh orang lain atau validasi eksternal karena mereka sering merasa tidak yakin dengan pilihan mereka sendiri.
Tertarik pada Pasangan yang Toksik
Banyak dari mereka yang tumbuh dari strict parents yang secara tidak sadar menjalin hubungan yang tidak sehat karena terasa familiar./ Foto: Freepik.com/pressfoto
Mungkin mereka sudah mencoba pulih dari masa kecil yang penuh dengan bayangan orang tua strict parents, tapi banyak dari mereka yang secara tidak sadar tetap tertarik menjalin hubungan yang tidak sehat karena terasa familiar.
Mereka tidak sengaja mencari pola hubungan yang mirip dengan yang mereka alami saat masih kecil karena mungkin mereka merasa lebih terbiasa dan merasa punya kendali meski sebenarnya hal ini tidak sehat.
Selain itu, mereka juga terbiasa membiarkan orang lain bersikap tidak baik dengannya. Hal ini karena sejak kecil mereka sudah terbiasa menahan emosi dan tidak berani melawan. Akibatnya, ketika sudah dewasa mereka jadi sulit menerapkan batasan yang sehat.
Menyabotase Diri Sendiri (Self-sabotage)
Seseorang yang terbiasa di lingkungan strict parents tanpa sadar menghambat diri sendiri atau self-sabotage./ Freepik.com/KamranAydinov
Seseorang yang terbiasa di lingkungan strict parents tanpa sadar menghambat diri sendiri atau self-sabotage, mulai dari urusan pekerjaan, pertemanan, hingga hubungan. Hal ini bisa terjadi karena adanya rasa tidak percaya diri, kecemasan, atau keinginan untuk selalu mengontrol keadaan. Mereka juga mungkin akan mencari kontrol sesuatu yang dulu tidak mereka miliki saat kecil.
Itu tadi Beauties, deretan ciri-ciri kepribadian seseorang yang tumbuh dari orang tua strict parents. Apakah kamu mengetahui ada orang di sekitarmu yang memiliki ciri-ciri tersebut?
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!