6 Alasan Berita Viral Sering Lebih Cepat Dipercaya daripada Fakta Resmi, Cek!
Di era digital sekarang, hampir setiap scroll di media sosial selalu ditemui berita yang bikin heboh. Kamu pasti pernah merasakan, kadang berita yang viral justru lebih cepat kita percaya dibandingkan fakta resmi yang sudah diverifikasi. Fenomena ini bukan kebetulan, ada alasan mengapa informasi sensasional bisa lebih cepat diterima oleh banyak orang.
Berita viral sering mengombinasikan judul provokatif, cerita emosional, dan cepat tersebar lewat grup chat atau platform video pendek. Yuk, simak lebih dalam agar kamu paham dan apa yang bisa kita lakukan agar tetap cerdas dalam menyaring informasi!
1. Kecenderungan Memilih Informasi yang Cocok
Ilustrasi membaca berita/Freepik: pressfoto
Bias konfirmasi membuat kita lebih mudah percaya pada informasi yang sesuai dengan apa yang sudah kita yakini sebelumnya. Dilansir dari The New York Times, bias ini membuat orang cenderung mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi yang mendukung pandangan sendiri, sekaligus mengabaikan atau mengecilkan informasi yang bertentangan.
Dalam konteks media sosial, bias ini diperkuat oleh “echo chamber” atau ruang gema, di mana algoritma menampilkan konten yang mirip dengan apa yang sudah pernah kita lihat sebelumnya.
Dalam praktiknya, ketika berita viral muncul yang sudah sesuai dengan keyakinanmu, misalnya tentang figur publik atau isu yang kamu pedulikan, otak akan merasa berita itu “cukup benar” dan layak dibagikan. Hal ini membuat berita viral yang sesuai bias konfirmasi seringkali lebih cepat dipercaya daripada klarifikasi dari sumber resmi yang mungkin membutuhkan konteks lebih panjang dan penjelasan yang kompleks.
2. Kecepatan Penyebaran Melalui Media Sosial
Ilustrasi bermain di media sosial/Freepik: rawpixel.com
Media sosial dan aplikasi pesan instan membuat berita tersebar dalam hitungan detik. Dilansir dari MIT News, berita palsu atau informasi yang tidak benar tersebar lebih cepat dan lebih luas di Twitter atau X dibandingkan berita yang faktual, bahkan mencapai ribuan orang jauh lebih cepat daripada berita yang sudah terverifikasi. Ini terjadi karena berita yang viral biasanya lebih “menarik perhatian” dibandingkan berita formal yang panjang dan berisi penjelasan.
Tren ini juga menunjukkan bahwa bukan hanya robot atau bot yang menyebarkan informasi palsu, melainkan justru manusia sendiri yang lebih sering me-retweet berita palsu dibanding hal-hal faktual, terutama bila konten itu terasa baru, mengejutkan, atau relevan dengan pengalaman mereka. Ini menunjukkan bahwa kecepatan penyebaran berita viral sering kali mengalahkan proses verifikasi yang dilakukan media resmi atau lembaga faktual.
3. Judul yang Provokatif Memicu Emosi Pembaca
Ilustrasi berita di media sosial/Freepik: rawpixel.com
Berita viral hampir selalu memakai judul yang provokatif, sensasional, atau emosional agar memancing reaksi langsung dari pembaca. Dilansir dari artikel Misinformation Review, tampilan jumlah suka, komentar, atau dibagikan (share) membuat pengguna menganggap suatu berita itu lebih penting atau kredibel, meskipun sebenarnya belum tentu demikian ini membuat berita yang emosional lebih mungkin dipercaya dan dibagikan.
Selain itu, berita palsu sering kali memicu emosi yang kuat seperti rasa terkejut, takut, atau marah, sementara berita faktual cenderung memancing emosi yang lebih tenang seperti rasa sabar atau kepercayaan. Karena itu, konten emosional atau provokatif lebih mungkin membuat pembaca cepat memercayai atau membagikannya tanpa cek ulang.
4. Pentingnya Literasi Digital untuk Menyaring Informasi
Ilustrasi berita palsu/Freepik: freepik
Banyak pengguna media sosial tidak terbiasa melakukan cek fakta atau menelusuri sumber informasi sebelum membagikan suatu konten. Dilansir dari BMC Psychology, salah satu alasan utama penyebaran informasi yang salah adalah karena pengguna seringkali membagikan berita tanpa mengecek keakuratannya, terutama jika berita itu tampak penting atau menarik.
Kurangnya literasi digital ini memperbesar peluang berita viral yang tidak akurat langsung diterima sebagai fakta oleh banyak orang. Tanpa kemampuan memverifikasi sumber, mengecek reputasi situs, atau membaca isi artikel secara keseluruhan, pembaca sering kali lebih cepat percaya pada klise atau narasi yang terdengar familiar meskipun itu menyesatkan.
5. Popularitas Membuat Berita Terlihat Valid
Ilustrasi video viral/Freepik: freepik
Sering kali kita melihat berita yang sudah banyak dibagikan, dikomentari, atau diberi like, lalu merasa berita itu pasti benar. Dilansir dari Misinformation Review, ini disebut fenomena social proof, di mana orang menilai sesuatu valid karena banyak orang lain juga terlihat setuju atau mempercayainya. Jadi, semakin populer suatu berita di media sosial, semakin banyak orang percaya, walaupun isinya belum tentu benar.
Hal ini terjadi karena otak manusia suka “ikut-ikutan” ketika melihat banyak orang melakukan hal yang sama. Beauties, ketika kamu scroll dan lihat ribuan like atau share pada sebuah berita, otakmu akan cepat menilai bahwa informasi itu penting dan benar, padahal popularitasnya tidak selalu berarti faktual. Inilah salah satu alasan kenapa berita viral lebih cepat dipercaya dibanding fakta resmi yang mungkin baru saja dirilis.
6. Ketidakpercayaan terhadap Sumber Resmi
Ilustrasi informasi dari sumber resmi/Freepik: freepik
Banyak orang merasa bahwa informasi resmi dari pemerintah, lembaga penelitian, atau organisasi internasional datang terlalu lambat atau tampak terlalu formal. Ini sering membuat berita viral yang cepat dan sederhana tampak lebih relevan bagi sebagian orang.
Ketika seseorang terus melihat konten yang konsisten dengan pandangannya sendiri di linimasa, ini membuat mereka semakin percaya bahwa pandangan mereka adalah kebenaran umum dan informasi resmi yang bertentangan tampak tidak menarik atau terlalu kompleks untuk dianggap penting. Kondisi ini memupuk ketidakpercayaan terhadap institusi resmi dan memperkuat kepercayaan terhadap berita viral yang sesungguhnya belum tentu benar.
Sebagai penikmat media sosial yang cerdas informasi, penting banget untuk tidak hanya terpikat oleh judul sensasional atau popularitas sebuah post. Selalu cek sumber, baca konteks, dan jangan cepat terbawa emosi. Dengan kebiasaan ini, kamu bisa menjadi pembaca kritis yang membantu memutus rantai penyebaran berita palsu dan lebih bijak memilih informasi yang benar-benar bermanfaat.
Jangan lupa, berbagi fakta yang valid juga bisa jadi bentuk kontribusi positif untuk lingkungan digital kita, Beauties!
____
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!