5 Ciri Anak yang Tumbuh dengan Orang Tua Tidak Sabar, Bisa Terbawa sampai Dewasa

Anggita Kusmadewi | Beautynesia
Kamis, 15 Oct 2026 16:30 WIB
5 Ciri Anak yang Tumbuh dengan Orang Tua Tidak Sabar, Bisa Terbawa sampai Dewasa
Ilustrasi anak yang tumbuh dengan orang tua tidak sabar/Foto: Magnific/magnific

Cara orang tua merespons anak bisa ikut membentuk cara anak melihat dirinya sendiri. Termasuk ketika anak melakukan kesalahan, meminta bantuan, atau sekadar ingin menyampaikan sesuatu.

Jika sejak kecil sering menghadapi respons yang terburu-buru atau mudah kesal, anak bisa belajar menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut. Tanpa disadari, beberapa kebiasaan ini bisa terbawa ketika mereka sudah dewasa.

Lantas, seperti apa ciri anak yang tumbuh dengan orang tua tidak sabar yang mungkin bisa terbawa hingga dewasa? Berikut beberapa di antaranya yang telah dirangkum dari laman Your Tango.

1. Sangat Peka terhadap Perubahan Suasana Hati Orang Lain

Ilustrasi perempuan yang memperhatikan ekspresi dan bahasa tubuh orang lain/Foto: Pexels/cottonbro studio

Anak yang sering menghadapi orang tua tidak sabar bisa terbiasa memperhatikan perubahan suasana di rumah. Nada suara, ekspresi wajah, sampai cara seseorang berjalan bisa menjadi hal yang mereka perhatikan.

Kebiasaan ini dapat menjadi cara anak untuk menyesuaikan diri. Mereka belajar membaca suasana agar bisa menentukan sikap sebelum orang lain menunjukkan kemarahan atau rasa kesal.

Saat dewasa, kebiasaan tersebut bisa tetap terbawa dalam hubungan sehari-hari. Seseorang mungkin terlalu fokus melihat perubahan mood orang lain sampai lupa bertanya pada dirinya sendiri tentang apa yang sedang ia rasakan.

2. Sering Minta Maaf meski Tidak Melakukan Kesalahan

Ilustrasi perempuan yang tampak ragu saat berbicara dengan orang lain/Foto: Magnific/magnific

Anak yang terbiasa menghadapi respons keras atau tidak sabar bisa menganggap bahwa meminta maaf adalah cara cepat untuk meredakan keadaan. Akhirnya, kata “maaf” bisa keluar bahkan ketika mereka sebenarnya tidak melakukan kesalahan.

Kebiasaan ini bisa terbawa sampai dewasa dalam berbagai situasi. Misalnya, merasa perlu meminta maaf sebelum bertanya, menyampaikan pendapat, atau mengatakan bahwa dirinya membutuhkan sesuatu.

Dalam percakapan sehari-hari, hal ini bisa terdengar dari kalimat seperti “maaf mengganggu” atau “maaf kalau merepotkan” untuk sesuatu yang sebenarnya wajar. Jika Beauties sering mengucapkannya tanpa disadari, coba perhatikan apakah memang ada kesalahan yang perlu dimaafkan atau hanya sudah menjadi kebiasaan.

3. Sulit Meminta Bantuan

Ilustrasi perempuan yang mengerjakan tugas sendiri/Foto: Magnific/magnific

Anak tentu masih membutuhkan bantuan orang dewasa ketika belajar melakukan banyak hal. Namun, jika permintaan bantuan sering dibalas dengan rasa kesal atau tidak sabar, anak bisa berpikir bahwa meminta pertolongan hanya akan merepotkan orang lain.

Karena itu, mereka mungkin lebih memilih mengerjakan semuanya sendiri. Kebiasaan ini memang bisa terlihat seperti kemandirian, tetapi mandiri berbeda dengan merasa tidak boleh membutuhkan bantuan.

Saat dewasa, pola tersebut bisa muncul ketika seseorang tetap memaksakan diri menyelesaikan masalah sendirian. Bahkan ketika sudah kewalahan, mereka mungkin masih merasa lebih nyaman menanggung semuanya sendiri daripada meminta bantuan.

4. Terus Memikirkan Kesalahan yang Sudah Berlalu

Ilustrasi perempuan yang terlihat cemas/Foto: Pexels/cottonbro studio

Melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses belajar anak. Namun, jika kesalahan sering direspons dengan kemarahan, kritik, atau ketidaksabaran, anak bisa mulai melihat kesalahan sebagai sesuatu yang harus dihindari.

Kebiasaan itu juga bisa terbawa ketika dewasa. Seseorang mungkin terus memikirkan percakapan yang sudah selesai, membaca ulang pesan berkali-kali, atau bertanya-tanya apakah dirinya tadi mengatakan sesuatu yang salah.

Akhirnya, kejadian yang sebenarnya sudah selesai bisa terasa belum benar-benar selesai di dalam pikirannya. Seseorang juga bisa menjadi terlalu berhati-hati karena takut melakukan kesalahan yang sama.

Pengalaman masa kecil memang bisa ikut membentuk kebiasaan saat seseorang tumbuh dewasa. Namun, bukan berarti kebiasaan tersebut tidak bisa berubah.

Menyadari pola yang selama ini dilakukan bisa menjadi langkah awal untuk memahami diri sendiri. Dari sana, kita bisa perlahan belajar merespons kesalahan, meminta bantuan, dan menghadapi orang lain dengan cara yang lebih nyaman.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE