5 Cara Melakukan Friction-Maxxing, Trik Kecil yang Bisa Bantu Kamu Lebih Fokus dan Produktif
Hidup di era digital memang serba mudah, hampir semua hal bisa dilakukan dalam hitungan detik. Masalahnya, ketika otak terlalu terbiasa mendapatkan semuanya secara instan, kita bisa semakin mudah berpindah perhatian dari satu hal ke hal lain.
Di tengah kondisi ini, muncul istilah friction-maxxing, yaitu gagasan untuk sengaja mengembalikan sedikit hambatan atau ketidaknyamanan ke dalam aktivitas yang selama ini dibuat sangat mudah oleh teknologi. Istilah ini muncul dalam artikel The Cut pada Januari 2026 yang ditulis Kathryn Jezer-Morton.
Sederhananya, kita tidak harus selalu memilih cara tercepat dan termudah. Sesekali, kita bisa membuat satu aktivitas sedikit lebih merepotkan agar tidak dilakukan secara autopilot dan memberi ruang untuk membuat pilihan yang lebih sadar.
Melansir Everyday Health dan BBC Future, berikut 5 cara melakukan friction-maxxing yang bisa dicoba.
1. Jauhkan Ponsel dari Jangkauan
![]() Menjauhkan ponsel dari jangkauan, cara melakukan friction-maxxing/Foto: Magnific.com/magnific |
Coba perhatikan posisi ponsel ketika sedang mengerjakan sesuatu. Kebiasaan mengecek ponsel bisa terjadi begitu otomatis sampai kita mengambilnya sebelum sempat bertanya apakah memang ada sesuatu yang perlu dilihat. Daripada hanya mengandalkan niat untuk tidak membuka ponsel, tambahkan satu langkah kecil sebelum kita bisa mengaksesnya.
Simpan ponsel di dalam laci, taruh agak jauh dari meja kerja, atau letakkan di ruangan lain ketika sedang membaca. Penelitian yang dirangkum Everyday Health menemukan bahwa keberadaan ponsel saja, meskipun tidak sedang digunakan, pernah dikaitkan dengan performa yang lebih rendah dalam kemampuan berpikir, mengingat, dan memperhatikan.
2. Sesekali Lakukan Sesuatu Tanpa Teknologi
Lakukan sesuatu tanpa teknologi, cara melakukan friction-maxxing/Foto: Pexels.com/Efrem Efre
Teknologi membuat kita terbiasa mendapatkan sesuatu dengan cepat. Namun, sesekali melakukan aktivitas dengan cara yang lebih lambat dapat menjadi bentuk friction-maxxing karena kita memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menjalani prosesnya, bukan hanya mengejar hasil.
Beberapa contoh yang bisa kita lakukan adalah membaca buku daripada menonton YouTube, mencoba mengikuti rambu jalan daripada selalu bergantung pada Google Maps ketika situasinya memungkinkan, atau menelepon teman untuk meminta saran daripada langsung bertanya kepada ChatGPT.
3. Berpikir Dulu Sebelum Meminta Bantuan AI
![]() Mencari solusi sendiri, cara melakukan friction-maxxing/Foto: Pexels.com/Zen Chung |
Ketika sedang mencari ide, merangkum informasi, atau menghadapi masalah, kita bisa mendapatkan bantuan dalam hitungan detik menggunakan AI. Namun, kalau setiap kali menemui kesulitan kita langsung menyerahkan proses berpikir kepada AI, otak jadi semakin jarang mendapat kesempatan untuk mengerjakan bagian tersebut sendiri.
Kita bisa melakukan friction-maxxing dengan membuat aturan sederhana, yaitu coba dulu, baru bertanya. Misalnya ketika ingin mencari ide tulisan, buat beberapa ide sendiri sebelum meminta AI menambahkan. Setelah itu, AI tetap bisa digunakan untuk mengecek, mengembangkan, atau memberikan sudut pandang lain.
Menggunakan AI memang dapat menghemat waktu dan mengurangi kesalahan, tetapi berpotensi memengaruhi pembentukan memori dan kemampuan kognitif tertentu. Jadi, bukan berarti kita harus berhenti memakai AI. Namun, tetap berikan otak kesempatan untuk mencoba terlebih dahulu.
4. Pilih Aktivitas yang Membutuhkan Sedikit Usaha
Melakukan aktivitas yang membutuhkan usaha, cara melakukan friction-maxxing/Foto: Magnific.com/pvproductions
Kita hidup di era yang hampir semuanya dibuat serba instan. Kenyamanan ini tentu bukan sesuatu yang buruk. Namun, kalau semua hal selalu dibuat semudah mungkin, kita jadi semakin jarang mengalami proses yang membutuhkan kesabaran dan usaha.
Kita bisa mencoba friction-maxxing dengan sengaja memilih aktivitas yang tidak memberikan kepuasan secara instan, seperti membaca buku beberapa halaman tanpa membuka ponsel. Aktivitas yang menstimulasi kognitif seperti membaca dikaitkan dengan pemeliharaan fungsi kognitif seiring bertambahnya usia.
Ada juga alasan mengapa aktivitas yang membutuhkan usaha bisa terasa lebih memuaskan. Salah satu penelitian terhadap 52 orang di Kanada yang diterbitkan dalam jurnal Cerebral Cortex pada 2022 menemukan bahwa aktivitas yang membutuhkan lebih banyak usaha mental dapat dipersepsikan sebagai sesuatu yang lebih rewarding.
Jadi, tidak semua hal harus diselesaikan dengan cara tercepat. Sesekali, biarkan diri sendiri menikmati proses dan rasa puas ketika akhirnya berhasil menyelesaikan sesuatu.
5. Latih Diri Menghadapi Hal yang Biasanya Dihindari
![]() Melatih diri menghadapi hal yang tidak nyaman, cara melakukan friction-maxxing/Foto: Pexels.com/Greta Hoffman |
Setiap orang pasti punya aktivitas yang rasanya ingin dihindari kalau ada pilihan yang lebih mudah, contohnya seperti menggunakan layanan pesan-antar karena pergi ke supermarket terasa merepotkan. Dalam situasi seperti ini, friction-maxxing bisa menjadi latihan untuk membangun toleransi terhadap rasa tidak nyaman secara bertahap.
Friction-maxxing memiliki kemiripan dengan prinsip exposure therapy, yaitu menghadapi sesuatu yang membuat tidak nyaman secara berulang dan sistematis agar perlahan terasa lebih mudah. Kuncinya, jangan langsung memilih tantangan yang paling sulit.
Kalau biasanya selalu pesan belanjaan secara online, cobalah datang ke tokonya langsung hanya untuk membeli beberapa barang. Hal ini melatih kemampuan kita untuk menghadapi sedikit rasa tidak nyaman tanpa buru-buru mencari jalan keluar yang paling instan.
Kita tidak perlu kembali ke zaman sebelum smartphone ada hanya untuk mendapatkan fokus. Hal yang perlu dilakukan mungkin justru jauh lebih sederhana, yaitu belajar mengenali kapan teknologi benar-benar membantu dan kapan kita menggunakannya hanya karena itu adalah pilihan termudah.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!


