4 Kebiasaan Pola Asuh Manipulatif Orang Tua yang Masih Berpengaruh hingga Anak Dewasa Menurut Psikolog
Setiap orang tua memiliki gaya pengasuhannya masing-masing. Di sisi lain, dua hal yang tampak bertolak belakang bisa saja terjadi di saat yang bersamaan: orang tua tampak penuh kasih sayang, tapi sebenarnya terselip perilaku manipulatif.
Menurut psikolog Dr. Crystal Saidi, bahkan orang tua yang paling penyayang sekalipun bisa menggunakan strategi manipulatif tanpa disadari.
"Pola-pola ini tidak hilang begitu saja seiring bertambahnya usia, dan sering kali muncul kembali saat seseorang beranjak dewasa dalam bentuk kecemasan, depresi, serta keraguan diri yang kronis," ungkapnya kepada Parade.
Bagi anak, kesadaran akan hal ini sangatlah penting untuk mencapai pemulihan yang sesungguhnya. Menurut psikolog, berikut ini kebiasaan pola asuh manipulatif orang tua yang mungkin masih memengaruhi anak hingga dewasa.
Menggunakan Rasa Bersalah agar Anak Patuh
Kebiasaan Pola Asuh Manipulatif Orang Tua yang Masih Berpengaruh hingga Anak Dewasa Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com
Orang tua mungkin menggunakan rasa bersalah untuk menumbuhkan rasa syukur dan agar anak patuh. Tujuannya adalah mereka ingin membesarkan anaknya menjadi sosok yang taat aturan dan tidak ingin anak mendapatkan segalanya secara cuma-cuma.
Tapi ketika anak beranjak dewasa, hal ini dapat menimbulkan ketakutan mendalam akan mengecewakan orang lain. Selain itu, mereka juga punya kecenderungan untuk mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri.
Kasih Sayang Bersyarat
Kebiasaan Pola Asuh Manipulatif Orang Tua yang Masih Berpengaruh hingga Anak Dewasa Menurut Psikolog/Foto: Magnific.com
Idealnya, kasih sayang orang tua bersifat tanpa syarat. Tapi ketika orang tua bersikap manipulatif, saat anak tumbuh dewasa, mereka mungkin tidak akan merasakan kasih sayang tersebut secara tulus.
Ketika kecil, mereka mungkin baru akan dapat pujian dan perhatian ketika nilai ujian mereka bagus. Hal ini pada akhirnya mengajarkan anak bahwa kasih sayang harus diperoleh melalui pencapaian tertentu. Akibatnya, anak bisa memiliki sikap perfeksionis dan harga diri yang rendah saat beranjak dewasa.
Memikul Beban Pengorbanan Orang Tua
Kebiasaan Pola Asuh Manipulatif Orang Tua yang Masih Berpengaruh hingga Anak Dewasa Menurut Psikolog/Foto: Magnific.com
Menjadi orang tua memang menuntut pengorbanan. Tapi hal ini bukan menjadi sesuatu yang harus ditanggung oleh anak.
“Orang tua yang terus-menerus mengingatkan anaknya tentang besarnya pengorbanan yang telah mereka lakukan sebenarnya sedang menggunakan rasa bersalah sebagai alat untuk mengendalikan emosi,” ungkap psikolog Dr. Emily Guarnotta, Psy.D., PMH-C.
“Kebiasaan ini muncul akibat perasaan kurang percaya diri serta mentalitas 'martir' yang dimiliki orang tua itu sendiri,” tambahnya.
Akibatnya, anak mulai memercayai anggapan bahwa mereka memiliki utang budi kepada orang tuanya.
“Saat beranjak dewasa, hal ini dapat memicu kesulitan dalam menetapkan batasan dan menerima bantuan, serta munculnya perasaan seolah-olah kita terus-menerus memiliki utang kepada orang lain,” catatnya.
Intimidasi
Kebiasaan Pola Asuh Manipulatif Orang Tua yang Masih Berpengaruh hingga Anak Dewasa Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com
Tumbuh besar di lingkungan keluarga yang menerapkan taktik pengasuhan manipulatif dapat memberikan dampak jangka panjang yang mendalam. Salah satunya orang tua mungkin menggunakan rasa takut atau ancaman untuk memastikan anak patuh.
"Hal ini dapat terus memengaruhi anak hingga mereka dewasa, membuat mereka takut kepada orang lain, cenderung menghindari konfrontasi, serta tidak mampu membela diri sendiri," ujar psikolog Dr. Michele Goldman, Ph.D.
Keraguan diri adalah hal yang umum terjadi pada orang dewasa yang dibesarkan oleh orang tua manipulatif, namun Dr. Guarnotta menekankan pentingnya memercayai intuisi diri sendiri karena pengalaman itu nyata dan valid.
"Dalam praktiknya, hal ini bisa berupa menyadari saat Anda mulai meragukan diri sendiri atau bahkan memanipulasi persepsi Anda sendiri terhadap pengalaman yang telah dilalui," ujarnya.
"Memahami bagaimana masa kecil mungkin berkontribusi pada kesulitan Anda dalam memercayai diri sendiri juga bisa sangat bermanfaat. Terapis yang tepat dapat membantu Anda memperoleh wawasan tersebut," tambahnya.
Rasa sakit ini memang tidak nyaman, namun, diperlukan untuk proses pemulihan.
"Dalam praktiknya, hal ini bisa berupa mengungkapkan apa yang Anda rasakan lewat kata-kata, bahkan membicarakannya dengan tenaga profesional seperti terapis," ujar Dr. Guarnotta. "Menamai pengalaman Anda merupakan salah satu langkah terpenting dalam perjalanan pemulihan."
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!