4 Kalimat yang Tidak Diucap Orang Tua dengan EQ Tinggi pada Anak-anaknya, Menurut Psikolog

Pratitis Nur Kanariyati | Beautynesia
Jumat, 02 Jan 2026 12:00 WIB
4 Kalimat yang Tidak Diucap Orang Tua dengan EQ Tinggi pada Anak-anaknya, Menurut Psikolog
Ungkapan yang tidak pernah dikatakan orang tua yang cerdas secara emosional terhadap anaknya/Foto: Freepik.com/freepik

Pernah nggak Beauties mendapati perlakuan yang kurang nyaman dari orang tua lewat kalimat yang diucapkan mereka? Niat orang tua sebenarnya baik sebagai bentuk motivasi, tetapi terkadang itu justru bisa menjadi boomerang.

Mengatakan kebenaran dan sesuatu yang merusak itu beda tipis. Mengucapkan sesuatu secara blak-blakan tanpa pertimbangan berpotensi merusak harga diri seseorang.

Terpenting sebagai orang tua adalah tahu apa yang harus dikatakan dan kapan mengatakannya tanpa menyakiti anak. Orang tua seperti itu umumnya diimbangi dengan kecerdasan emosional (EQ) yang tinggi.

"Menjadi cerdas secara emosional membutuhkan kesadaran diri -kemampuan mengenali emosi diri sendiri dan pengaruhnya terhadap orang lain," ujar Dr. Francine Toder, PhD, pada Parade. Orang yang cerdas secara emosional mampu merasakan perasaan dan menilai sesuatu dari sudut pandang orang lain. Dengan kata lain, bisa menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain. 

Orang tua yang sudah memiliki kesadaran itu alias kecerdasan emosional yang baik, tidak akan mengatakan empat kalimat ini pada anak-anaknya. Ia sadar bahwa ungkapan itu tidak sepenuhnya baik untuk kesehatan mental anak. Berikut penjelasannya.

1. “Ketika aku seusiamu…”

Ilustrasi ibu dan anak perempuannya yang sedang duduk bersama/Foto: Freepik.com/freepik

Masih suka mendengar orang tua atau malah kamu sendiri mengucapkan ini pada anak, "Ketika aku seusiamu..."? Terdengar sepele, tetapi ini terkadang membuat anak merasa kurang nyaman.

Meskipun orang dapat memiliki pengalaman serupa pada usia tertentu, pengalaman tersebut tidak akan sama persis. Itu karena orang, lingkungan, dan dunia sekarang berbeda dari jaman dulu.

Orang tua yang cerdas secara emosional akan lebih fokus pada pengalaman anak alih-alih mengulang prinsip atau membandingkan pengalamannya yang serupa di masa lalu.

Dr. Toder yang merupakan seorang psikolog klinis mengatakan, sudah saatnya orang tua belajar tentang apa yang penting bagi anak jika benar-benar ingin memahami dan menerima mereka apa adanya. "Mulailah dengan mendengarkan," ujarnya.

2. “Lihat (kakak/adik/sepupu/tetangga) itu. Masa kamu nggak bisa seperti dia...”

Ilustrasi seorang anak perempuan bersama ibunya/Foto: Freepik.com/freepik

Anak mana yang mau dibanding-bandingkan dengan orang lain atau saudara kandungnya? Tidak ada. Orang tua yang terus mengatakan, "Lihat kakak kamu, contoh kakakmu itu. Dia bisa ini itu, masa kamu nggak bisa..." dapat membuat anak menjadi rendah diri dan mengalami gangguan kecemasan.

Anak menerima kritik dari keluarganya dengan sangat personal. Ketika terus dibandingkan, secara perlahan otaknya akan mulai berpikir "aku tidak pernah cukup". Dia merasa tidak cukup baik dibandingkan dengan anak-anak lain.

Orang tua dengan tingkat kecerdasan emosional tinggi akan berpikir kembali ketika ingin membandingkan anak-anaknya dengan siapa pun itu. Daripada membandingkan, ia lebih memilih untuk duduk bersama anak-anak, membicarakan alasan dan kesulitan yang mereka hadapi.

"Lihatlah anakmu yang sudah dewasa bukan seperti yang kamu bayangkan dan inginkan, tetapi sebagaimana ia sebenarnya. Mereka mungkin tidak akan mengikuti jejak orang tuanya atau orang lain yang kamu kagumi," saran Dr. Toder untuk para orang tua. Setiap anak punya hak untuk diapresiasi. Dorong dia dengan cinta dan penerimaan, bukan perbandingan.

3. “Berhentilah nangis”

Ilustrasi anak sedang sedih di pelukan ibu/Foto: Freepik.com/freepik

Next, kalimat yang akan dihindari oleh orang tua ber-EQ tinggi pada anak adalah "Berhenti nangisnya." Sebagian orang mungkin masih sering menerima kalimat itu dari orang tua.

Maksud orang tua mungkin baik, supaya anak tidak cengeng dan menemukan ketahanan batinnya. Namun sayangnya, itu bukan pesan yang disampaikan.

"Pada dasarnya kamu (orang tua) memberi tahu anak bahwa perasaan mereka tidak penting," kata Brianna Briganti, M. Ed., BCBA., LBA., koordinator klinis di Collaborative ABA Services, melansir Good Housekeeping. Memvalidasi dan menyadari perasaan anak adalah langkah pertama untuk mengajarkan keterampilan mengatasi masalah dan kecerdasan emosional.

Sisi terburuk dari menyuruh anak berhenti menangis menurut psikolog anak, Kristin Loisella Rich adalah mempersulit anak untuk terbuka tentang perasaan dan masalahnya kepada orang tua di masa depan.

"Hal ini dapat menyebabkan anak menekan perasaan sedih, yang dapat menyebabkan mereka menahan emosi lain dan berkontribusi terhadap kecemasan atau masalah suasana hati di kemudian hari," tambah Rich, seperti dikutip dari HuffPost.

Respon yang lebih baik ketimbang meminta anak berhenti menangis adalah "Aku lihat kamu sedih. Perasaan kamu pasti terluka saat kakakmu mengatakan hal itu...". Melalui cara ini, orang tua mengakui perasaan anak dan memvalidasi mengapa anak tersebut merasakan hal tersebut. Ketika seorang anak merasa didengarkan, mereka cenderung akan lebih cepat tenang. 

4. “Ibu/ayah lagi sibuk, main sendiri saja sana.”

Ilustrasi anak yang sedang piknik bersama orang tuanya/Foto: Freepik.com/freepik

Saat sedang sibuk bekerja dan tiba-tiba anak meminta untuk ditemani bermain atau jalan-jalan, apa yang biasanya orang tua katakan? Masih ada segelintir orang tua yang menjawab, "Ibu/ayah lagi sibuk. Kamu main sendiri saja sana."

Sekali dua kali masih dinilai wajar oleh anak ketika orang tua menolak untuk diajak main karena alasan pekerjaan. Namun, jika terus-menerus mengatakan hal serupa, itu bisa berdampak buruk. Bermain sangat bermanfaat tidak hanya bagi perkembangan anak, tetapi juga hubungan orang tua dan anak.

Menurut Tasya Brown selaku psikolog klinis, bermain dapat membantu seorang anak mengembangkan keterampilan sosial-emosional yang baik, membangun harga diri, dan mengembangkan empati, mengutip Good Housekeeping.

Ketimbang memberi jawaban 'tidak' secara langsung, bantu anak memahami mengapa orang tuanya tidak bisa bermain dengannya saat itu. Sesuatu seperti, "Ibu mau main bersama kamu, tapi sekarang ibu sedang memasak/lainnya. Kita bisa bermain nanti di jam 5 sore. Oke," akan lebih membantu.

"Respon tersebut memberi tahu anak bahwa orang tua bersedia main bersama dan menawarkan saran lain mengenai waktu bermain," kata Dr. Brown.

Itulah empat ungkapan yang dihindari orang tua dengan EQ tinggi kepada anak-anaknya. Semoga artikel ini bisa mengedukasi Beauties untuk lebih sadar tentang pentingnya kecerdasan emosional orang tua terhadap tumbuh kembang anak.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE