Beauties, tidak semua orang dapat dengan nyaman menceritakan soal keluarga atau pengalaman masa kecilnya. Banyak orang yang memilih menyimpan cerita tersebut karena berbagai alasan.
Meski demikian, bagaimana cara seseorang bersikap di usia dewasa bisa dipengaruhi dari pengalaman masa kecil tersebut. Misalnya, seorang anak yang dibesarkan oleh orang tua otoriter, dapat menunjukkan perilaku yang berbeda di usia dewasa.
Para psikolog mengatakan bahwa tumbuh dewasa dengan orang tua yang sangat mengontrol atau otoriter dapat meninggalkan dampak negatif yang bertahan lama. Polanya tidak cuma terlihat dari perilaku saja, tetapi bisa dari kalimat yang diucapkan dalam percakapan sehari-hari.
Melansir YourTango, berikut beberapa cara mengenali anak yang dibesarkan oleh orang tua otoriter dari ucapannya sehari-hari. Apa saja itu? Simak!
Ilustrasi anak sedih/Foto: Magnific.com/peoplecreations
Beauties, meminta maaf saat melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Namun, orang yang terus-menerus meminta maaf, bahkan hanya untuk hal paling sepele, bisa menunjukkan bahwa mereka dibesarkan oleh orang tua yang otoriter. Bagi mereka, meminta maaf seperti hal yang otomatis terucap.
Sering meminta maaf secara berlebihan bukan lagi tentang kesopanan, melainkan upaya ingin menyenangkan orang lain. Jika sejak kecil terbiasa dikritik atau dipaksa mengalah, meminta maaf menjadi cara paling mudah dan cepat untuk menghindari konflik. Kebiasaan ini sering kali terus terbawa hingga seseorang dewasa.
Ilustrasi anak sedih/Foto: Magnific.com
Kesalahan pun merupakan bagian dari pembelajaran untuk hasil yang lebih baik. Sayangnya, anak yang dibesarkan oleh orang tua otoriter dengan ekspektasi tinggi memandang seharusnya kesalahan bisa diantisipasi atau dihindari.
Sejak kecil mereka telah terbiasa mendengarkan kalimat, “Seharusnya kamu tahu lebih baik!”. Hal ini membuat mereka merasa seolah tidak diizinkan untuk melakukan kesalahan.
Alhasil, saat dewasa mereka sering menyalahkan diri sendiri dan mengatakan, “Seharusnya aku lebih baik berhati-hati.” Dalam kalimat tersebut, mereka menyalahkan dirinya sendiri atas keputusan yang telah diambil. Mereka merasa seharusnya tidak melakukan kesalahan atau gagal.
Ilustrasi anak sedih/Foto: Magnific.com
Ciri anak yang dibesarkan orang tua otoriter sering kali tumbuh menjadi orang dewasa yang sangat patuh dan teliti. Mereka memperhatikan aturan-aturan di mana pun karena tidak ingin terkena masalah.
Saat tumbuh dewasa, mereka cenderung kesulitan untuk mengambil risiko atau keluar dari zona nyaman. Pasalnya, sejak kecil mereka diajarkan untuk lebih banyak patuh pada aturan.
Oleh karena itu, mereka sering mengucapkan kalimat, “Aku tidak suka melanggar aturan” karena mereka tidak nyaman dan takut mengambil risiko. Ketelitian dan taat aturannya terbawa hingga mereka dewasa.
Ilustrasi anak sedih/Foto: Magnific.com
Orang yang tumbuh di lingkungan yang penuh kritik dan aturan ketat sering kali menjadi sangat sensitif terharap perubahan suasana hati orang lain. Perubahan pada nada bicara pesan teks atau ekspresi wajah lawan bicaranya bisa membuat mereka langsung khawatir.
Hal tersebut terjadi karena bertahun-tahun mereka terbiasa membaca isyarat emosional orang tuanya. Kewaspadaan berlebihan tersebut terbawa hingga mereka dewasa, yang menyebabkan mereka sering mengucapkan kalimat, “Apa kamu marah padaku?”. Mereka khawatir telah melakukan sesuatu yang salah pada orang lain.
Beauties, itu dia cara mengenali anak yang dibesarkan oleh orang tua otoriter dilihat dari ucapannya sehari-hari. Bagaimana menurutmu?
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!