12 Cara Menghentikan Bullying Tanpa Kekerasan dan Balas Dendam

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Minggu, 04 Jan 2026 20:00 WIB
12 Cara Menghentikan Bullying Tanpa Kekerasan dan Balas Dendam
Ilustrasi bully/Freepik: freepik

Bullying sering kali dianggap sebagai masalah sepele atau “bagian dari proses tumbuh dewasa”. Padahal, dampaknya bisa membekas hingga dewasa.

Korban bullying tidak hanya menghadapi luka emosional, tetapi juga kehilangan rasa aman, kepercayaan diri, bahkan motivasi untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Tidak sedikit orang yang masih percaya bahwa membalas dengan kekerasan adalah satu-satunya cara untuk menghentikan perundungan, meski cara tersebut justru berpotensi memperpanjang siklus konflik.

Ada cara yang jauh lebih efektif dan bermakna untuk menghentikan bullying tanpa kekerasan dan tanpa balas dendam. Pendekatan ini tidak hanya melindungi korban, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan penuh empati bagi semua pihak. Yuk, simak caranya!

1. Peran Teman Sebaya (Bystander) dalam Menghentikan Bullying

Ilustrasi peran teman sebaya/Freepik: freepik

Teman sebaya atau bystander memiliki peran krusial dalam memperkuat atau menghentikan perilaku bullying. Phys.org menjelaskan bahwa ketika teman yang menyaksikan bullying justru tertawa atau memberi dukungan pasif, pelaku merasa tindakannya diterima secara sosial sehingga perilaku perundungan semakin meningkat. Sebaliknya, ketika bystander menunjukkan sikap menolak, membela korban, atau tidak memberi reaksi yang diinginkan pelaku, intensitas bullying dapat menurun secara signifikan.

Program anti-bullying KiVa yang dikembangkan Salmivalli dan timnya di Finlandia membuktikan bahwa mengubah sikap penonton menjadi pembela korban mampu menurunkan kasus bullying di sekolah hingga puluhan persen, sebagaimana dilaporkan dalam publikasi resmi University of Turku.

2. Tetap Tenang dan Asertif saat Menghadapi Bullying

Ilustrasi tetap tenang/Freepik: freepik

Menjaga ketenangan dan bersikap asertif merupakan strategi penting dalam menghadapi bullying tanpa kekerasan. Psychology Today menjelaskan dalam artikelnya bahwa reaksi emosional seperti menangis, marah berlebihan, atau menunjukkan ketakutan justru memberi kepuasan emosional bagi pelaku bullying.

Karena itu, respons terbaik adalah menyampaikan penolakan secara tegas namun tenang, seperti mengatakan “Jangan ganggu saya,” lalu menjauh dari situasi tersebut.

3. Membangun Kepercayaan Diri dan Kemampuan Diri

Ilustrasi percaya diri/Freepik: freepik

Kepercayaan diri terbukti menjadi salah satu faktor pelindung dari bullying. American Psychological Association mengatakan bahwa individu yang memiliki rasa percaya diri kuat cenderung tidak menjadi target empuk bullying karena mereka memancarkan ketegasan dan stabilitas emosional.

Fokus pada hobi, prestasi akademik, olahraga, atau kegiatan kreatif membantu membangun identitas positif yang tidak mudah digoyahkan oleh komentar negatif. Penelitian Bradshaw menunjukkan bahwa program pengembangan diri dan keterampilan sosial tidak hanya melindungi korban potensial, tetapi juga mengurangi kecenderungan seseorang menjadi pelaku bullying.

4. Menjalin Pertemanan yang Luas dan Sehat

Ilustrasi pertemanan/Freepik: pressfoto

Memiliki jaringan pertemanan yang luas memberikan perlindungan sosial yang nyata. Menurut laporan UNICEF yang dipublikasikan di situs global mereka, anak dan remaja yang memiliki teman dekat cenderung lebih aman dari bullying karena pelaku lebih jarang menargetkan individu yang memiliki dukungan sosial kuat. Hubungan pertemanan juga memberi ruang aman bagi korban untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan emosional.

UNICEF menekankan bahwa rasa kebersamaan dan solidaritas antar teman mampu menciptakan lingkungan sosial yang tidak memberi ruang bagi perilaku intimidatif berkembang.

5. Mencari Bantuan dari Orang Dewasa dan Pihak Berwenang

Ilustrasi cari bantuan/Freepik: freepik

Melaporkan bullying bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah strategis untuk menghentikan perilaku yang merugikan. Cyberbullying Research Center menjelaskan bahwa keterlibatan orang dewasa yang berwenang sering kali menjadi titik balik penghentian bullying. Guru, orang tua, konselor sekolah, atau otoritas terkait memiliki sumber daya dan kewenangan untuk menangani kasus secara profesional.

Hinduja menekankan bahwa penanganan yang tepat dapat mencegah dampak psikologis jangka panjang seperti depresi, kecemasan, dan trauma.

6. Mengumpulkan Bukti Secara Aman

Ilustrasi mengumpulkan bukti/Freepik: freepik

Dalam konteks bullying, terutama cyber bullying, bukti memiliki peran penting. Dilansir dari The New York Times bahwa tangkapan layar, rekaman pesan, atau dokumentasi visual dapat membantu pihak berwenang memahami situasi secara objektif.

Namun, ia menekankan bahwa pengumpulan bukti harus dilakukan dengan mempertimbangkan keamanan pribadi dan tidak memancing risiko tambahan. Bukti yang jelas mempermudah proses penanganan dan meningkatkan peluang kasus ditangani secara adil.

7. Menanamkan Nilai dan Empati Sejak Dini

Ilustrasi sikap peduli/Freepik: freepik

Pencegahan bullying idealnya dimulai sejak usia dini melalui pendidikan nilai dan empati. Dijelaskan dalam wawancara Edutopia bahwa anak yang diajarkan empati, kejujuran, dan toleransi sejak kecil memiliki kecenderungan lebih rendah untuk menjadi pelaku bullying. Memahami bahwa menyakiti orang lain berdampak nyata pada perasaan dan kesehatan mental menjadi fondasi penting perilaku sosial sehat.

Borba menegaskan bahwa empati bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih melalui contoh dan komunikasi sehari-hari.

8. Melibatkan Anak dan Remaja dalam Kegiatan Positif

Ilustrasi kegiatan positif/Freepik: freepik

Kegiatan ekstrakurikuler terbukti membantu mengurangi risiko bullying. Menurut laporan Harvard Graduate School of Education, keterlibatan dalam olahraga, seni, atau komunitas sosial membantu anak dan remaja membangun rasa memiliki serta identitas positif. Lingkungan positif ini mengurangi kecenderungan agresi sekaligus meningkatkan keterampilan sosial.

Peneliti Harvard menyebutkan bahwa anak yang aktif dalam kegiatan positif cenderung lebih resilien secara emosional dan lebih mampu menghadapi tekanan sosial.

9. Memfasilitasi Konseling bagi Korban dan Pelaku

Ilustrasi konseling/Freepik: freepik

Pendekatan profesional melalui konseling menjadi langkah penting dalam menghentikan siklus bullying. Journal of School Health mempublikasikan bahwa konseling membantu korban memulihkan rasa aman, sementara pelaku dibantu memahami akar perilaku agresif mereka. Intervensi psikologis ini terbukti efektif dalam mengubah pola pikir dan perilaku jangka panjang.

Pendekatan ini menekankan penyelesaian masalah tanpa kekerasan dan berorientasi pada pemulihan.

10. Kampanye Anti-Bullying

Ilustrasi stop bullying/Freepik: freepik

Kampanye anti-bullying terbukti menjadi salah satu cara paling efektif untuk mencegah perundungan sejak awal. Program edukasi yang secara konsisten mengajarkan empati, keberagaman, serta dampak nyata bullying terhadap kesehatan mental mampu menurunkan tingkat perundungan di sekolah hingga signifikan. Kampanye ini tidak hanya menyasar korban dan pelaku, tetapi seluruh komunitas sekolah agar memiliki pemahaman yang sama bahwa bullying adalah perilaku yang tidak dapat diterima dalam bentuk apa pun.

Olweus menekankan bahwa kampanye yang efektif harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat terjadi kasus. Edukasi melalui diskusi kelas, materi visual, hingga simulasi sosial membantu siswa memahami bagaimana cara menghadapi perundungan secara aman dan tanpa kekerasan, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif untuk saling melindungi.

11. Sistem Pendukung: Tim Penanganan Bullying yang Responsif dan Terpadu

Ilustrasi tim penanganan/Freepik: freepik

Sistem pendukung yang kuat menjadi fondasi penting dalam menghentikan bullying secara berkelanjutan. Dilansir dari Journal of School Health bahwa sekolah yang memiliki tim penanganan bullying khusus, terdiri dari guru, konselor, psikolog sekolah, dan perwakilan manajemen, mampu merespons laporan bullying dengan lebih cepat dan tepat. Tim terpadu ini memastikan bahwa setiap laporan ditangani secara profesional, tidak diabaikan, dan tidak dibebankan hanya pada satu pihak.

Keberadaan sistem pendukung membuat korban merasa aman untuk berbicara, sekaligus mencegah kasus berulang karena setiap insiden ditindaklanjuti dengan evaluasi dan pendampingan psikologis. Pendekatan ini menekankan penyelesaian masalah secara struktural dan manusiawi, bukan emosional atau reaktif.

12. Aturan Tegas dan Sanksi Jelas untuk Memberi Efek Jera

Ilustrasi diberi hukuman/Freepik: bearfotos

Aturan yang tegas dan sanksi yang jelas merupakan elemen penting dalam menghentikan bullying tanpa kekerasan. Melalui American Psychological Association, sekolah yang memiliki kebijakan anti-bullying tertulis dan diterapkan secara konsisten menunjukkan penurunan perilaku agresif secara signifikan. Sanksi yang jelas memberi pesan kuat bahwa bullying bukan sekadar konflik biasa, melainkan pelanggaran serius terhadap nilai dan norma sosial.

Sanksi bukan bertujuan menghukum semata, melainkan memberikan efek jera sekaligus kesempatan bagi pelaku untuk memahami konsekuensi tindakannya. Ketika aturan diterapkan secara adil dan transparan, lingkungan sekolah menjadi lebih aman dan kepercayaan terhadap sistem meningkat, sehingga budaya bullying perlahan dapat dihentikan.

Beauties, menghentikan bullying tanpa kekerasan bukan berarti diam atau pasrah, melainkan memilih cara yang lebih cerdas, berani, dan bermakna. Tetap semangat dan jangan pantang menyerah!

____

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE