10 Kalimat yang Pantang Diucapkan Orang dengan Kesadaran Sosial dan Emosional Tinggi

Tyas Arini | Beautynesia
Rabu, 30 Sep 2026 10:30 WIB
10 Kalimat yang Pantang Diucapkan Orang dengan Kesadaran Sosial dan Emosional Tinggi
Ilustrasi perempuan diam / Foto: Pexels.com/Paruyr Karayan

Kecerdasan emosional atau emotional intelligence bukan hanya soal mampu mengendalikan emosi diri sendiri, Beauties. Kemampuan memahami perasaan orang lain, menunjukkan empati, hingga berkomunikasi tanpa membuat orang lain merasa dihakimi juga menjadi bagian penting di dalamnya.

Karena itu, orang dengan kesadaran sosial dan emosional yang tinggi biasanya lebih berhati-hati dalam memilih kata. Mereka memahami bahwa satu kalimat yang terdengar sederhana bisa saja membuat orang lain merasa diremehkan atau tidak didengarkan.

Lantas, kalimat apa saja yang cenderung mereka hindari?

1. “Kamu terlalu sensitif.”

Ilustrasi pasangan berantem / Foto: Pexels.com/Timur Weber

Kalimat ini menjadi kalimat yang selalu dihindari oleh orang yang memiliki emotional intelligence tinggi. Kalimat "Kamu terlalu sensitif" memberikan kesan bahwa reaksi seseorang terhadap suatu situasi terlalu berlebihan. Padahal, setiap orang memiliki pengalaman dan trigger emosional yang berbeda. 

Psikolog Dr. Kibby McMahon menjelaskan kepada Parade bahwa mengatakan “Why are you so sensitive?” dapat terdengar menghakimi dan membuat respons emosional seseorang seolah-olah salah atau berlebihan. Sebagai gantinya, Beauties bisa mengatakan, “Bantu aku memahami apa yang kamu rasakan.”

2. “Kamu terlalu berlebihan.”

Ilustrasi perempuan beradu mulut / Foto: Pexels.com/Liza Summer

Mirip dengan kalimat sebelumnya, kalimat "Kamu terlalu berlebihan" justru membuat perasaannya menjadi tidak valid. Alih-alih membantu seseorang merasa lebih baik, kalimat tersebut justru semakin membuatnya sedih. 

Menurut psikoterapis Ilene S. Cohen, yang dilansir dari YourTango, setiap orang memiliki emotional triggers yang berbeda. Karena itu, situasi yang terlihat sepele bagi seseorang belum tentu terasa sama bagi orang lain. Orang dengan kecerdasan emosional tinggi biasanya memilih memahami penyebab seseorang bereaksi daripada langsung menghakiminya.

3. “Kamu seharusnya nggak merasa seperti itu.”

Ilustrasi pasangan berantem / Foto: Pexels.com/Keira Burton

Tidak ada orang lain yang bisa menentukan bagaimana seseorang “seharusnya” merasa. Kalimat "Kamu seharusnya nggak merasa seperti itu" dapat membuat lawan bicara merasa emosinya salah atau tidak masuk akal.

Menurut psikolog yang dikutip Parade, orang dengan emotional intelligence tinggi cenderung mampu melihat situasi dari perspektif orang lain. Mereka lebih mungkin mengatakan, “Aku mengerti kenapa kamu merasa begitu” daripada berusaha mengatur, mengubah atau menghilangkan emosi tersebut.

4. “Aku tahu persis apa yang kamu rasakan.”

Ilustrasi 2 orang sedang berbicara / Foto: Pexels.com/Edmond Dantès

Meski terdengar empatik, kalimat ini sebenarnya belum tentu membantu. Kalimat "Aku tahu persis apa yang kamu rasakan" justru bisa memancing luapan emosi dari lawan bicara. Sebab pengalaman setiap orang tetap berbeda, begitu juga responsnya.

YourTango menjelaskan bahwa orang dengan kecerdasan emosional tinggi tidak merasa perlu mengalihkan pembicaraan kepada pengalaman mereka sendiri. Mereka lebih memilih mendengarkan dan memberikan ruang bagi orang lain untuk menceritakan pengalamannya.

5. “Tenang dong.”

Ilustrasi seseorang menyuruh tenang / Foto: Pexels.com/Timur Weber

Kalimat “Tenang, dong" atau "Calm down” memang sering digunakan dengan niat menenangkan seseorang. Namun, ketika seseorang sedang sangat emosional, ucapan tersebut justru bisa membuatnya merasa bahwa emosinya diabaikan atau tidak dianggap.

Entrepreneur menyebut “calm down” sebagai salah satu kalimat yang cenderung dihindari orang dengan kecerdasan emosional tinggi karena dapat membuat emosi seseorang terasa tidak valid dan berpotensi memperburuk situasi.

6. “Itu nggak seberapa, kok.”

Ilustrasi sedang berbincang / Foto: Pexels.com/Kindel Media

Setiap orang memiliki respons yang berbeda ketika menghadapi masalah atau trigger. Setiap orang juga memiliki standar yang berbeda tentang suatu hal yang dianggap berat. Mengatakan "Itu nggak seberapa" justru membuat emosi seseorang merasa kecil dan tidak divalidasi.

Psikolog Dr. Deborah Vinall mengatakan kepada Parade bahwa kalimat tersebut dapat menjadi bentuk emotional invalidation karena seolah-olah menyiratkan bahwa seseorang tidak seharusnya merasa kesal atas hal yang terjadi.

7. “Kamu selalu melakukan kesalahan yang sama.”

Ilustrasi menyalahkan orang / Foto: Pexels.com/ Polina Zimmerman

Kata seperti “selalu” atau “nggak pernah” bisa membuat percakapan berubah menjadi ajang menyalahkan. Kalimat tersebut tidak membantu seseorang justru terkesan menyalahkan orang lain. 

YourTango mengutip terapis April Eldemire yang menjelaskan bahwa generalisasi seperti ini dapat terasa menuduh dan membuat seseorang menjadi defensif. Orang yang memiliki kesadaran emosional biasanya akan membicarakan perilaku atau kejadian secara spesifik, bukan menyerang karakter seseorang secara keseluruhan.

8. “Aku sudah bilang, kan?”

Ilustrasi 2 orang berbincang / Foto: Pexels.com/Mikhail Nilov

Kalimat "Aku sudah bilang, kan?" memang awam didengar tetapi kalimat ini bukanlah kalimat yang bijak untuk diucapkan kepada seseorang yang sedang menghadapi masalah. Dengan mengatakan kalimat tersebut, justru terdengar ingin menghakimi atau mempermalukan orang tersebut. 

Menurut YourTango, orang dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung tidak menggunakan "Aku sudah bilang, kan?" atau “I told you so” untuk meningkatkan ego. Mereka lebih memilih memberikan dukungan ketika orang lain sedang kewalahan.

9. “Itu masalahmu.”

Ilustrasi menunjuk / Foto: Pexels.com/SHVETS production

Dalam hubungan sosial, empati tidak selalu berarti harus menyelesaikan masalah orang lain. Namun, mengatakan "Itu masalahmu" atau “That's your problem” menunjukkan ketidaktertarikan untuk memahami permasalahan orang tersebut.

Psikolog Dr. Deborah Vinall menyebut kalimat tersebut sebagai salah satu ucapan yang menunjukkan rendahnya empati dalam hubungan pertemanan. Beauties tetap bisa menjaga batasan tanpa mengabaikan perasaan orang lain, misalnya dengan mengatakan, “Aku paham ini berat buat kamu, tapi mungkin keputusan akhirnya memang perlu kamu ambil sendiri.”

10. “Maaf kalau kamu merasa begitu.”

Ilustrasi pasangan mengobrol / Foto: Pexels.com/Vitaly Gariev

Kalimat "Maaf kalau kamu merasa begitu", sekilas terdengar sebagai permintaan maaf, tetapi kalimat ini tidak tulus karena fokusnya pada perasaan orang lain, bukan tindakan yang sudah dilakukan. 

Kalimat ini sering kali terucap ketika pasangan sedang berantem. Laman Parade menjelaskan bahwa orang dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung mengambil tanggung jawab ketika tindakan mereka menyakiti orang lain. Kalimat “I’m sorry you feel that way” dianggap tidak menunjukkan akuntabilitas yang cukup karena tidak benar-benar mengakui kesalahan.

Jadi, bukan tentang selalu mengatakan hal yang “benar”, melainkan belajar berhenti sejenak sebelum berbicara, memahami perasaan orang lain, dan memilih kata yang tidak membuat mereka merasa direndahkan atau diabaikan, ya, Beauties!

__

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!  

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE