Serial "Reinventing Tenun: Journey to Algorithm" Sorot Kisah Pengrajin dan Pelestarian Wastra
Di balik keindahan sebuah karya, pasti ada tangan-tangan manusia yang tak kalah istimewa. Mereka adalah sosok-sosok yang sering kali tidak terlihat di depan publik, tapi berkontribusi besar di balik layar. Perjalanan proses pembuatan koleksi yang dimulai dari tangan para pengrajin wastra inilah yang ditampilkan serial dokumenter Wilsen Willim bertajuk "Reinventing Tenun: Journey to Algorithm".
"Reinventing Tenun: Journey to Algorithm" disutradarai oleh sineas dan fotografer muda Jibril Erlangga, terdiri dari 6 episode yang merangkum perjalanan pembuatan koleksi adibusana Wilsen Willim "Algorithm: Universal Language" yang telah dipresentasikan pada 8 Juli lalu. Dokumenter ini juga merupakan sebuah refleksi perjalanan 10 tahun kiprahnya di industri fashion tanah air.
Dokumenter ini ditayangkan perdana dengan digabung menjadi satu film berdurasi 56 menit dan 57 detik di XXI Plaza Indonesia yang bertepatan dengan ulang tahun Wilsen Willim ke-33, kemudian dilanjutkan pada pemutaran terbatas untuk siswa pada FLIX ASHTA District 8 pada tanggal 24 Agustus 2026.
Penonton diajak untuk mengikuti petualangan Wilsen ke empat daerah di Indonesia dalam misi mengembangkan tenun tradisional berkelanjutan, Beauties. Tenun tersebut antara lain Tenun Songket dari Jembrana Bali, Tenun Sutra Garut dari Bandung Selatan-Jawa Barat, Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu-Putussibau-Kalimantan Barat, dan Songket Minang dari Halaban-Sumatera Barat.
Dokumenter ini tidak hanya menyajikan sebuah proses panjang dari sebuah koleksi fashion dan keindahan wastra Indonesia, Beauties, tapi juga sebagai pemantik renungan bahwa terdapat kehidupan dalam sehelai kain.
Menangkap Kisah Pengrajin Perempuan di Berbagai Daerah di Indonesia
Dokumenter “Reinventing Tenun: Journey to Algorithm”/ Foto: Dok. Wilsen Willim
Tenun dan batik merupakan warisan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan. Namun di era modern yang semakin menuntut kestabilan ekonomi, apakah menjadi pengrajin wastra masih dapat disebut sebagai mata pencaharian yang strategis? Mungkin bagi sebagian orang, jawabannya tidak. Namun respon tersebut berhasil dipatahkan melalui usaha kolektif berbagai pihak yang saling mendukung ekosistemnya.
Hingga saat ini, menenenun masih dianggap sebagai pekerjaan perempuan, Beauties. Dokumenter menangkap kisah para pengrajin perempuan dari wilayah Jawa Barat, Bali, Kalimantan Barat, dan Sumatera Barat. Di sela kesibukan, mereka masih tetap meluangkan waktu untuk menenun di rumah.
Dengan adanya pesanan dari Wilsen untuk merealisasikan koleksi Algorithm: Universal Language, pengrajin perempuan di daerah tersebut memiliki pemasukan yang menolongnya menyambung hidup, baik kehidupan diri sendiri maupun keluarganya. Tenun hasil tangan para pengrajin perempuan di daerah ini pun diolah menjadi karya modern yang bisa diterima lebih banyak kalangan. Roda pelestarian wastra ini pun terus berputar seiring dengan jumlah permintaan konsumen.
Pada akhirnya, dokumenter “Reinventing Tenun: Journey to Algorithm” hadir lebih dari sekadar kisah pembuatan koleksi. Serial ini adalah pergerakan untuk memahami nilai dalam sehelai wastra.
Melibatkan Berbagai Pihak untuk Modernisasi Wastra
Dokumenter “Reinventing Tenun: Journey to Algorithm”/ Foto: Dok. Wilsen Willim
Wilsen Willim beserta timnya tidak hanya memutar otak untuk menjadikan tenun dan batik menjadi pakaian kontemporer, tapi juga berusaha untuk menerapkan sustainability dengan menggunakan serat denim daur ulang dari Ecotouch. Dobrakan ini menjadi tantangan tersendiri karena karakter serat berbeda dari benang tenunan pada umumnya. Namun keberhasilan para pengrajin dan tim desainer untuk menciptakan karya dari inovasi ini membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil, Beauties.
Tidak hanya itu, masih banyak kolaborator lainnya yang mendukung terwujudnya koleksi adibusana Algorithm: Universal Language. Mereka adalah Christina Harjanto dari Ecotouch (penghasil serat denim daur ulang), Eva Oemah Batiqu (perajin Batik Ciwaringin Cirebon), Cannesia Soekotjo dari Jenama produk kulit Peau, Inggrid Saidbun dari jenama alas kaki Bocorocco, Diatri Mitha dan Valerie Hadiningrat dari jenama aksesori Subeng Klasik, serta Ibu Tasya Kusnadi selaku perwakilan Yayasan Kawan Lama dan Ibu Sjamsidar Isa selaku mentor dan pemerhati wastra sekaligus ketua Indonesia Fashion Designer Council dan pembina Cita Tenun Indonesia.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!