Rayakan 10 Tahun, Wilsen Willim Makin Berani Ekspresikan Diri dalam Koleksi Terbarunya

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Senin, 13 Jul 2026 14:00 WIB
Rayakan 10 Tahun, Wilsen Willim Makin Berani Ekspresikan Diri dalam Koleksi Terbarunya
Rayakan 10 Tahun, Wilsen Willim Makin Berani Ekspresikan Diri dalam Koleksi Terbarunya/ Foto: Dok. Wilsen Willim

Wilsen Willim presentasikan koleksi "Algorithm: Universal Language" dalam rangka 10 tahun berkiprah di industri fashion Indonesia di Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan (8/7/2026). Koleksi tersebut terasa berbeda dari koleksi pendahulunya, meski tetap menggaungkan wastra yang selama ini jadi ciri khas karya label Wilsen Willim.

"Algorithm: Universal Language" diawali dengan sebuah perbincangan bersama Ican Harem hingga tercetus ide untuk menelisik tenun hingga ke esensi terdalamnya, yaitu algoritma. Benang lungsi dan pakan yang tumpang tindih secara tertata membentuk motif repetitif nan rumit, secara eksplisit menunjukkan algoritmanya. "Seperti halnya denim, semua orang mengenal dan menggunakan angka, kali ini keduanya saya pertemukan," ujar Wilsen, sebagaimana dikutip dari press release-nya.

Koleksi Algorithm: Universal Language

Koleksi Algorithm: Universal Language

Koleksi Algorithm: Universal Language/ Foto: Dok. Wilsen Willim

"Algorithm: Universal Language" menunjukkan sisi baru dari Wilsen Willim yang belum pernah ditampilkan sebelumnya, Beauties. Bagi Wilsen, perayaan 10 tahun jadi momen tepat untuk mengekspresikan sisi dirinya yang lebih artistik. “Ada beberapa elemen dari style pribadi aku yang bisa aku interpretasikan [dalam Algorithm: Universal Language],” ujar Wilsen kepada Beautynesia (10/7/2026).

Koleksi Algorithm: Universal Language terdiri dari 60 kreasi adibusana pria dan wanita perdana dari Wilsen Willim. Masing-masing tampilannya memamerkan keindahan dan keserbagunaan tenun dan batik dalam siluet modern, dengan imbuhan nuansa rebellious dan punk melalui aksesori kulit.

Atasan bersiluet kebaya punya sentuhan edgy dengan sabuk kulit bertumpuk. Rok tenun yang elegan dikombinasikan harness. Aksesori lain seperti korset dan biker’s jacket turut melengkapi sehingga menghasilkan tampilan yang maksimalis. Adapun koleksi pendukung tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan jenama lokal, seperti aksesori metal dari Subeng Klasik, aksesori kulit dari Peau, dan alas kaki yang dirancang khusus dari Bocorocco.

Detail pembuatan wastra yang digunakan pun tidak kalah menarik, Beauties. Benang denim daur ulang dari Ecotouch diolah sebagai tenun sutra Garut dari Jawa Barat yang pernah digunakannya pada 2023, serta Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu Putussibau Kalimantan Barat, Songket Jembrana Bali, dan Songket Minang dari Halaban. Selain tenun, dijumpai pula batik tulis dari Cirebon dengan motif yang dirancang khusus oleh tim studio Wilsen Willim.

“Inovasi ini tidak hanya tentang pelestarian wastra, dengan adanya penggunaan benang daur ulang yang diproduksi dalam negeri, kita turut mengurangi penumpukan sampah tekstil dan juga kelangkaan dan peningkatan harga benang yang kerap menghambat proses produksi para penenun,” jelas Wilsen.

Berdaya Bersama Dream Makers

Koleksi Algorithm: Universal Language

Koleksi Algorithm: Universal Language/ Foto: Dok. Wilsen Willim

Perayaan 10 tahun berkarya turut menjadi kesempatan yang diambil Wilsen untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya, terutama kepada tim yang disebutnya sebagai hal paling berharga. Kehadiran mereka memampukan Wilsen untuk merealisasikan mimpi-mimpinya.

I call them my dream makers,” tutur Wilsen. “Mereka itu sudah bisa mengakomodir ke-BM-an (banyak mau) aku dan juga mimpi-mimpi aku, apa yang ingin aku lakukan, menjadi realita.”

Dalam momen peringatan satu dasawarsa ini pula, harapannya untuk terus bertumbuh diungkapkan. Tak semata menjalin hubungan baru antara desainer dengan pelanggan, tapi juga mampu menjaga dan memperdalam relasi tersebut. Lebih jauh lagi, Wilsen turut berharap dengan segala yang telah dilaluinya selama satu dekade, ia telah berhasil mengukuhkan nama dan keahlian di industri fashion Indonesia, termasuk pengakuan dalam sisi craftsmanship yang sudah harus dalam genggaman.

“Jadi, ini sudah bukan momen-momen aku dianggap desainer baru yang main-main. Tapi aku sudah mulai serius dan ini karier yang aku pilih sampai aku mati suatu hari,” pungkasnya.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE