Mendefisikan Ulang 'Power Dressing' Ala Istri Politisi dari Gaya Rama Duwaji

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Senin, 05 Jan 2026 20:30 WIB
Mendefisikan Ulang 'Power Dressing' Ala Istri Politisi dari Gaya Rama Duwaji
Mendefisikan Ulang ‘Power Dressing’ Ala Istri Politisi dari Gaya Rama Duwaji/ Foto: instagram.com/ramaduwaji

Fashion dan politik tentu bisa berjalan beriringan. Terlebih ketika dipakai oleh tokoh penting, seperti pemangku jabatan kenegaraan. Sepanjang sejarah, kita telah banyak melihat fashion para figur publik menjadi sorotan. Istri politisi hingga keluarga kerajaan, contohnya.

Pakaian yang dikenakan mereka tidak sekadar untuk tampil gaya, tapi terkadang sebagai alat bersuara. Penampilan mereka bahkan dapat ditarik kesamaannya, yaitu power dressing, Beauties.

Mengenal Power Dressing dalam Politik

Cara berpakaian power dressing sering kali digunakan saat perempuan memasuki ranah politik, termasuk sebagai Ibu Negara. Power dressing dianggap memberikan kesan powerful dan menambah kepercayaan diri.

Cara berpakaian power dressing sering kali digunakan saat perempuan memasuki ranah politik, termasuk sebagai Ibu Negara. Power dressing dianggap memberikan kesan powerful dan menambah kepercayaan diri./ Foto: instagram.com/melaniatrump

Beauties, pernahkah kamu memerhatikan pakaian figur publik perempuan yang mengisi panggung politik? Jacqueline Kennedy Onassis menjadi ikon fashion dengan gaya elegan dan klasiknya. Mantan First Lady AS, Hilary Clinton, mengenakan skirt suit motif plaid merah saat Inaugural Parade tahun 1993. Pada Inaugural Parade 2009, Michelle Obama mengenakan sheath dress rona lemongrass rancangan Isabel Toledo yang matching dengan coat. Pada dua periode berturut-turut pelantikan Donald Trump menjadi presiden AS, gaya Melania Trump selalu menuai atensi, yakni cashmere dress biru dari Ralph Lauren pada inagurasi tahun 2017 dan navy wool coat rancangan desainer Adam Lippes.

Busana yang menonjolkan wibawa, profesionalitas, dan otoritas mendefinisikan gaya power dressing yang semakin marak di era modern. Kerah yang tinggi, lengan dan hemline lebih panjang, hingga busana tailored dan fit menarik inspirasi dari estetika tradisional. Melansir dari laman ENews, power dressing muncul di era tahun 70-an sampai 80-an, sebagai cara bagi perempuan untuk membangun otoritas di lingkungan profesional yang secara tradisional didominasi laki-laki, seperti bisnis dan politik.

Namun meskipun power dressing dianggap memberikan perempuan kekuatan dan kepercayaan diri, maknanya kembali lagi pada autentisitas jati diri. Apakah kesamaan power dressing di antara para istri politisi adalah cara untuk menunjukkan kekuatan sejati atau justru “perangkap” yang tak cuma menampilkan mereka sebagai alat peraga bagi pasangan politik, tetapi juga mewakili isu yang lebih luas tentang konformitas dan kepasifan perempuan?

Mendefinisikan Ulang Power Dressing yang Relevan dengan Gen Z

Power dressing yang bertujuan untuk menambah kepercayaan diri juga harus mengacu pada autentisitas jati diri. Power dressing adalah cara untuk mengekspresikan diri melalui gaya, termasuk menunjukkan prinsip dan nilai yang dimiliki.

Power dressing yang bertujuan untuk menambah kepercayaan diri juga harus mengacu pada autentisitas jati diri. Power dressing adalah cara untuk mengekspresikan diri melalui gaya, termasuk menunjukkan prinsip dan nilai yang dimiliki./ Foto: instagram.com/nycmayor

Cara berpakaian seseorang dapat mengomunikasikan banyak hal, mulai dari kepribadian, makna, nilai, hingga prinsip yang dimiliki pemakainya. Jika power dressing bertujuan untuk membuat sang pemakai merasa menjadi jati diri terbaik, bukankah ini saatnya untuk mendefinisikan ulang power dressing itu sendiri? Lebih dari sekadar berpakaian untuk menunjukkan kekuasaan, ini tentang berpakaian untuk diri sendiri, bagaimana kita dapat merasa nyaman dan jujur kepada diri.

Oleh karena itu, Beauties, ketika Rama Duwaji muncul ke permukaan sebagai istri dari Wali Kota New York Zohran Mamdani, ia dianggap sebagai perempuan yang berhasil mendobrak stereotipe gaya istri politisi. Ia memperkenalkan power dressing yang tetap setia pada gaya prinsip dan keyakinannya sendiri.

Misalnya, ketika seniman dan aktivis yang aktif menyuarakan tentang kemanusiaan tersebut mengenakan sepatu boots mewah saat inagurasi. Publik sempat heboh karena sepatu yang dipinjam dari brand Miista tersebut dibanderol seharga 630 USD (sekitar Rp10,5 juta)––tidak selaras dengan apa yang dikampanyekan Mamdani, yaitu keterjangkauan harga. Bahkan pemakaian sepatu itu dibandingkan dengan koleksi sepatu Melania Trump yang serba branded.

[Gambas:Instagram]

Namun lebih dari harga, yang membuatnya berbeda adalah nilai barang harus sesuai dengan prinsip yang dimiliki, Beauties. Gabriela Karefa-Johnson, selaku stylist Rama Duwaji, menjelaskan diskusi pakaian di antara mereka mencakup bagaimana “semua ini dilakukan untuk secara halus menumbangkan ekspektasi tentang bagaimana seorang Ibu Negara dapat—atau 'seharusnya'—berpenampilan. Dan saya pikir kita akhirnya menemukan jawabannya: Sesuka hatinya,” tulis Karefa-Johnson dalam Substack, dikutip dari CNN.

Duwaji berasal dari generasi yang berbeda sehingga perempuan 28 tahun itu tentu memiliki pola pikir politik yang berbeda pula. Bagi banyak anak muda, terutama Gen Z, pertimbangan tentang bagaimana sebuah pakaian atau sepasang sepatu dibuat, dan siapa yang membuatnya, merupakan bagian dari pertimbangan pembelian. Brand Miista juga memberikan uraian detail terkait rantai pasok produkn dalam situs resminya.

Di balik sepasang boots dengan harga tinggi untuk inagurasi, ada proses pembuatan yang memenuhi standar etika seseorang, yakni dengan upah yang adil dan bahan berkelanjutan yang mungkin memang layak dihargai Rp10 juta.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE