Dolar AS Naik, Tantangan Besar atau Peluang bagi Brand Fashion Lokal?

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Jumat, 22 May 2026 14:00 WIB
Dolar AS Naik, Tantangan Besar atau Peluang bagi Brand Fashion Lokal?
Dolar AS Naik, Tantangan Besar atau Peluang bagi Brand Fashion Lokal?/ Foto: instagram.com/nataliakiantoro

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Pasalnya, depresiasi rupiah berdampak pada kenaikan harga pada sejumlah komoditas impor. Begitu pula dalam industri fashion tanah air yang turut menggunakan bahan baku impor, seperti benang, jenis kain khusus, dan masih banyak lagi.

Maka tak heran jika pelemahan nilai tukar rupiah akan ikut memengaruhi bisnis fashion lokal, Beauties. Natalia Kiantoro, desainer dan business owner label Natalia Kiantoro, bercerita kepada Beautynesia (21/5/2025) bagaimana pengaruh kenaikan nilai dolar AS terhadap bisnisnya. Bagi Natalia, kenaikan ini memiliki dampak positif dan negatifnya tersendiri.

Meningkatnya Biaya Produksi

Kenaikan biaya produksi dan pembelian material dialami jenama Natalia Kiantoro imbas depresiasi rupiah.

Kenaikan biaya produksi dan pembelian material dialami jenama Natalia Kiantoro imbas depresiasi rupiah./ Foto: instagram.com/nataliakiantoro

Saat nilai rupiah terhadap dolar AS melemah, maka tak dipungkiri biaya produksi mengalami kenaikan. Kondisi ini sudah dirasakan oleh pemilik bisnis yang menggunakan bahan baku impor dalam proses produksinya. Dalam bisnis fashion lokal, kenaikan ini terasa dalam biaya produksi dan pembelian material.

“Beberapa bahan baku dan kebutuhan teknis memang masih berasal dari impor, terutama certain specialty fabrics dan accessories pendukung design,” terang Natalia menjelaskan proses produksi jenamanya. Jika nilai dolar AS terus meningkat, dikhawatirkan tantangan yang akan dihadapi semakin besar. Tak semata dialami brand, tapi juga pelanggan.

Di satu sisi, brand harus memutar otak untuk menyesuaikan produksinya demi mempertahankan kualitas, craftsmanship dan nilai yang selama ini dijaga. Namun di sisi lain, kenaikan biaya produksi berpotensi membuat produk semakin sulit dijangkau pelanggan sehingga mereka akan lebih selektif dalam melakukan pembelian.

“Untuk brand, tantangannya adalah bagaimana tetap menjaga kualitas, craftsmanship, dan value tanpa membuat produk menjadi terlalu inaccessible,” imbuhnya. “Sementara dari sisi customer, pola konsumsi juga kemungkinan akan menjadi lebih thoughtful dan selective.”

Brand Lokal Harus Adaptif

Brand lokal perlu adaptif menanggapi tantangan ekonomi yang tidak pasti.

Brand lokal perlu adaptif menanggapi tantangan ekonomi yang tidak pasti./ Foto: Pexels.com/Chris F

Tantangan ekonomi ini juga dilihat dari perspektif lain, yakni momentum tepat bagi industri kreatif lokal untuk beradaptasi dan terbangun lebih kuat. Natalia mengakui bahwa “kondisi ini juga mendorong saya untuk lebih bijak dalam proses desain, sourcing, dan strategi bisnis agar tetap sustainable tanpa mengorbankan kualitas maupun identitas brand.”

Semakin selektif dalam proses pengembangan produk, mengoptimalkan penggunaan material, memperkuat eksplorasi bahan lokal yang tetap sejalan dengan standar dan estetika brand adalah beberapa langkah yang dilakukannya. Menurut Natalia, tantangan ekonomi bukan jadi alasan untuk kompromi kualitas dan nilai, melainkan kesempatan untuk mengukuhkan komitmen. “Natalia Kiantoro akan terus fokus menciptakan karya yang tidak hanya relevan secara visual, tetapi juga meaningful dan wearable dalam jangka panjang,” tegasnya.

Ia juga berharap kondisi ini tidak membuat industri fashion lokal semakin lesu, melainkan terpacu untuk semakin berkembang dan mandiri. “Terutama dalam pengembangan material maupun ekosistem produksinya.”


Menghargai Pakaian dari Sudut Pandang Berbeda

Walaupun mempunyai sisi positifnya, Natalia tetap berharap ada kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar sehingga biaya produksi bisa terjaga. Lebih dari itu, ia mengharapkan kondisi ini bisa meningkatkan kesadaran pelanggan untuk memaknai sebuah pakaian dengan cara yang lebih mendalam.

“Bukan hanya sekedar dari tampilan dan persaingan harga termurah, tetapi juga proses, craftsmanship, dan cerita yang dibangun di dalamnya. Karena pada akhirnya, fashion bukan sekadar produk, tetapi juga refleksi dari culture, resilience, dan kreativitas,” pungkas Natalia.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE