BRI JF3 Fashion Festival 2026 Angkat Pesona Budaya dan Sustainability

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Selasa, 25 Aug 2026 14:00 WIB
BRI JF3 Fashion Festival 2026 Angkat Pesona Budaya dan Sustainability
BRI JF3 Fashion Festival 2026 Angkat Pesona Budaya dan Sustainability/ Foto: Dok. JF3

BRI JF3 Fashion Festival 2026 tak semata jadi perayaan fashion, tapi juga budaya. Selama perhelatannya, karya-karya anak bangsa yang ditampilkan berhasil mengangkat elemen tradisi dengan cara yang modern.

Namun lebih dari itu, koleksi busana sejumlah desainer turut mempertimbangkan segi ramah lingkungan, Beauties. Dengan tema "Recrafted: Shaping the Future," JF3 melihat keberlanjutan dalam fashion dapat berjalanan beriringan dengan warisan budaya, craftsmanship, dan modernitas sehingga membentuk relevansi tak lekang waktu.

Sustainable Fashion yang Kreatif

BRI JF3 Fashion Festival 2026

The Theme di BRI JF3 Fashion Festival 2026/ Foto: Dok. JF3

Pendekatan yang beragam hadir di runway JF3 2026 melalui karya desainer Indonesia maupun internasional. Keberlanjutan dimulai dari melihat kembali material yang telah tersedia, memperpanjang siklus hidup sebuah produk, merekonstruksi sisa produksi, hingga menemukan nilai baru pada sesuatu yang sebelumnya tidak lagi digunakan.

Beberapa contohnya seperti HOWARD LAURENT yang sejumlah looks-nya memanfaatkan hingga 50 persen material dari sumber yang telah tersedia, termasuk kunci vintage, manik-manik yang tidak terpakai, sisa kain, serta embellishment buatan tangan dari plastik daur ulang.

Pakaian, taplak meja, dan kain peninggalan sang ibu mendapatkan kehidupan baru melalui koleksi LUMEN: From Her Shadow to My Light oleh RAEGITAZORO. Sementara YASA menghadirkan 24 looks dengan hero pieces memanfaatkan material non-konvensional seperti limbah tulang rusuk sapi, capit kepiting, dan cangkang kerang sebagai elemen dekoratif yang dipertemukan dengan wastra serta pengerjaan tangan perajin lokal.

Sejumlah contoh kreativitas desainer tersebut membuktikan bahwa sustainability di JF3 2026 dapat bergerak melalui pendekatan yang berbeda. Kemauan untuk mempertanyakan kebutuhan untuk selalu memulai dari sesuatu yang baru jadi titik awal inovasinya.

Craftsmanship dan Budaya yang Jadi Kekuatan

The Theme di BRI JF3 Fashion Festival 2026

The Theme di BRI JF3 Fashion Festival 2026/ Foto: Dok. JF3

Warisan keterampilan bukan sebagai sesuatu yang berhenti pada masa lalu, tetapi sebagai pengetahuan yang dapat terus direinterpretasikan agar relevan dengan perkembangan desain, kebutuhan pasar, dan industri fashion hari ini. Mulai dari batik dan tenun yang dikembangkan ke dalam siluet kontemporer, pengerjaan bordir dan detail secara manual, kolaborasi dengan artisan, hingga pertemuan teknik tradisional dengan perspektif desain dari negara lain, BRI JF3 Fashion Festival 2026 menghadirkan kekayaan craftsmanship yang memberi napas segar pada sebuah karya.

Dalam koleksi HARSA persembahan LAKON Indonesia, nilai craftsmanship tidak hanya terletak pada kompleksitas teknik, tetapi juga pada waktu, ketelitian, kesabaran, pengalaman, serta pengetahuan manusia yang terkandung dalam proses pengerjaannya.

Dari program PINTU Incubator, DACIA dan TOJA memperlihatkan dua pendekatan berbeda dalam membawa warisan keterampilan dan tekstil Indonesia ke dalam konteks fashion masa kini. Koleksi ORIGO S/S27 oleh DACIA berangkat dari akar budaya Bangka milik sang desainer, Daciadhia Phoebehana, serta lanskap Pulau Bangka dan keindahan Kain Cual. Alih-alih merekonstruksi busana tradisional, DACIA menafsirkan kembali elemen-elemen tersebut melalui bahasa desain streetwear kontemporer.

Setiap karya TOJA dalam koleksi DVARA dibuat dengan tangan melalui sejumlah teknik berbeda, mulai dari rajutan permadani, tenun tablet dalam tradisi Palawa dari Mamasa, Sulawesi Barat, hingga jalinan Kumihimo.

Sementara dalam koleksi kolaborasi bersama desainer internasional, Gabriel Marcella dan Lisa Rayar mengembangkan karya yang mempertemukan workwear pelaut Prancis dengan batik Mojokerto, sementara Beatrice Angelica dan Mickaël Nana mempertemukan pendekatan Western tailoring dengan tenun, songket Lombok dan draperi Indonesia.

Proses ini bukan hanya penggunaan material Indonesia oleh desainer dari dua negara, tetapi terjadinya pertukaran cara pandang terhadap craft. Batik maupun tenun ditempatkan dalam dialog dengan tradisi desain lain, tanpa kehilangan identitasnya.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE