Virus corona yang telah menjadi pandemi membuat sejumlah orang di seluruh dunia menjaga kesehatan demi tidak terjangkit virus ini. Berbagai alat maupun bahan-bahan diklaim dapat melawan virus yang berasal dari Wuhan, Cina, ini. 

Sayangnya, klaim ini tidak disertai bukti ilmiah. Seperti yang belakangan ini beredar di Indonesia, yakni produk kalung virus shut out. Produk ini ramai dibicarakan di media sosial serta laris manis terjual di sejumlah e-commerce. Bahkan sejumlah artis kini berlomba-lomba mengenakan kalung virus shut out ini.

Kalung Virus Shut Out yang Dipercaya Bisa Cegah Virus COVID-19, Benarkah?
source: https://www.hongkongfp.com/2020/03/13/complete-scam-anti-virus-shut-necklaces-sold-across-hong-kong-despite-bans-around-asia/

Sebelum muncul di Indonesia, kalung ini lebih dulu beredar luas di Hong Kong. Kalung yang berasal dari Jepang ini diklaim dapat melindungi tubuh dari infeksi virus, termasuk virus COVID-19. Kalung ini efektif memblokir partikel dan bakteri di udara, berbagai virus epidemi, serta mengurangi kemungkinan terinfeksi atau menginfeksi orang lain. 

Hal ini lantaran kalung yang berbentuk ID card berwarna biru itu mengandung klorin dioksida, cairan disinfektan yang dipercaya mampu mencegah tubuh dari paparan virus selama 30 hari per produk.

baca juga
Kalung Virus Shut Out yang Dipercaya Bisa Cegah Virus COVID-19, Benarkah?
source: https://www.hongkongfp.com/2020/03/13/complete-scam-anti-virus-shut-necklaces-sold-across-hong-kong-despite-bans-around-asia/

Akan tetapi, semua klaim itu dibantah ahli virologi dan imunologi Hong Kong, Ariane Davidson. Dokter Ariane mengatakan kalung virus shut out itu tidak memiliki manfaat apa pun untuk melindungi diri dari virus. 

“Alat ini dikenakan di leher, jauh dari hidung dan mulut Anda yang mana merupakan portal utama untuk infeksi COVID-19," katanya dalam Hong Kong Free Press. 

Kalung Virus Shut Out yang Dipercaya Bisa Cegah Virus COVID-19, Benarkah?
source: https://www.alphabeauty.net/toamit-japan-virus-shut-out-anti-bacteria-virus-air-mask-badge-with-neck-strap-for-30-days-similar-to-ea-mask

Apabila, kalung itu didekatkan di wajah, kandungan klorin dioksida dapat menyebabkan iritasi pernapasan dan mata serta kulit lantaran bersifat korosif. Padahal, kata Davidson, klorin dioksida digunakan untuk mensterilkan permukaan benda yang keras dan tidak boleh digunakan dekat wajah. 

Ditambah lagi, virus tidak akan secara spesifik menempel di kalung bila hanya digantungkan. Sebaliknya, partikel droplet batuk dan bersin yang terkontaminasi virus masuk ke tubuh melalui mulut, hidung, maupun mata. “Alat ini tidak berguna dalam perlindungan terhadap virus COVID-19,” ujarnya. 

baca juga
Kalung Virus Shut Out yang Dipercaya Bisa Cegah Virus COVID-19, Benarkah?
source: https://www.alphabeauty.net/toamit-japan-virus-shut-out-anti-bacteria-virus-air-mask-badge-with-neck-strap-for-30-days-similar-to-ea-mask

Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat telah bekerja sama dengan U.S. Customs and Border Protection (CBP) menolak semua produk kalung virus shut out untuk masuk karena belum terdaftar serta teruji keamanannya.  

Di Asia, produk ini telah dilarang meski masih dijual bebas di beberapa toko di Hong Kong. Vietnam dan Thailand telah mengambil kebijakan pelarangan kalung ini. Vietnam menyebut kalung virus shut out tidak punya dasar ilmiah.