Film Joker belakangan ini telah menjadi sorotan. Terlebih saat aktor utama, Joaquin Phoenix digadang berhasil menghidupkan kembali karakter Joker. Perasaan depresi bahkan turut dirasakan penonton selama menyaksikan film garapan Todd Phillips ini.

Selain totalitas akting pemain, gangguan mental yang dialami Arthur Fleck, identitas asli sang badut psikopat itupun turut menumbuhkan awareness khalayak akan kesehatan mental. Tidak ada manusia yang terlahir jahat, begitupun dengan Joker. Namun faktor depresi karena lingkungan lah yang menumbuhkan jiwa keji penuh dendam pada dirinya.

youtube:zAGVQLHvwOY
source: https://www.youtube.com/watch?v=zAGVQLHvwOY
JOKER - Final Trailer - Now Playing In Theaters

Melansir screenrant.com, Joker menggunakan kondisi medis kehidupan nyata untuk menjelaskan tawa Pangeran Badut Kejahatan - Pseudobulbar Affect atau PBA. Supervillain Batman klasik, Joker terkenal karena tawanya yang khas. Ini biasanya diperlakukan sebagai ekspresi dari selera humor Joker yang gila, ketika dia menertawakan kekacauan yang dia tinggalkan. Tapi Joker mengambil pendekatan yang sangat berbeda.

Dalam film Joker, tawa itu benar-benar ekspresi rasa sakit batin Arthur Fleck. Fleck memiliki apa yang ia sebut "suatu kondisi," yang berarti ia tertawa pada saat-saat yang tidak pantas. Tampaknya ada keterputusan antara suasana hati Fleck yang sebenarnya dan penampilan emosinya dari luar, yang oleh para psikolog disebut sebagai "pengaruhnya".

Akibatnya, Fleck tidak bisa menahan tawa tanpa terkendali setiap kali dia dalam situasi stres. Ini berfungsi untuk meningkatkan konflik, ketika dia berjuang untuk mengeluarkan kata-kata yang tepat untuk melucuti situasi.

Tentu saja, ada perdebatan sengit tentang penggunaan penyakit mental Hollywood sebagai kekuatan pendorong di belakang seorang supervillain. Ini adalah masalah khusus dengan galeri penjahat Batman, mengingat lawan Ksatria Kegelapan umumnya narapidana di Arkham Asylum.
Tapi itu menarik, ketika sang sutradara memilih untuk memindahkan Joker lebih dekat ke kondisi medis dunia nyata, dari pada lebih jauh. Bagaimana gambarannya?
 

1. Joker Mengidap Pseudobulbar Affect

Dalam film peraih The Golden Lion Awards ini, Joker diketahui mengidap Pseudobulbar Affect (PBA). Pengidap PBA sering kali mengeluarkan ekspresi yang berbeda dengan perasaan sebenarnya. Bahkan mereka akan tertawa sampai beberapa menit, setiap kali merasa sedih atau gugup.

Kondisi yang persis dialami oleh Arthur Fleck alias Joker. Sampai-sampai, ia harus membawa kartu bertuliskan deskripsi penyakit PBA agar orang di sekeliling yang melihat sikapnya tersebut mengerti.
 

1. Joker Mengidap Pseudobulbar Affect

Kecenderungan yang aneh itu terjadi karena rusaknya saraf pada korteks prefrontal. Prefrontal merupakan area otak yang bertugas mengontrol emosi. Karena sistem kontrolnya terganggu, pengidap bisa tiba-tiba tertawa atau menangis dalam kondisi yang tidak sepatutnya.
 
Tak heran jika kebanyakan pengidap PBA, memilih untuk menjadi anti sosial. Lantaran malu dengan reaksi out of control mereka. Untuk kasus Arthur, ia bahkan harus menghadapi banyak masalah akibat gangguan tersebut. Seperti dimarahi ibu-ibu karena dianggap tertawa non-stopnya tidak sopan, sampai digebuki karena menertawakan sejumlah pria iseng di kereta.

Dengan kondisi seperti ini, mereka pun harus berjuang dua kali; mengatasi penyakit mereka, sekaligus mencoba tetap bisa menjadi ‘orang normal’ dalam pergaulan sosial. Dua hal yang gagal dilakukan Arthur, saking krisis dukungan moril dari lingkungan yang justru malah tak mengacuhkannya.

Bertubi-tubi tak diacuhkan dan menerima bullying secara fisik, Arthur lantas merasa dengan aksi kejahatan lah ia bisa lebih ‘terlihat’, ditakuti, sekaligus melampiaskan rasa sakit hatinya selama ini.
 

baca juga

2. Tentang Pseudobulbar Affect

Pseudobulbar Affect atau PBA, merupakan gangguan emosional di mana reaksi seseorang benar-benar tidak berhubungan dengan suasana hati mereka yang sebenarnya, biasanya bermanifestasi dalam tawa yang tak terkendali atau tangisan keras.

Kondisi ini pertama kali dicatat pada tahun 1872, ketika Charles Darwin menulis tentang "penyakit otak tertentu, seperti hemiplegia, pemborosan otak, dan pembusukan pikun, [yang] memiliki kecenderungan khusus untuk menyebabkan tangisan."
 

2. Tentang Pseudobulbar Affect

Para peneliti secara bertahap menyimpulkan bahwa PBA adalah akibat dari kerusakan otak, dan tampaknya ada kaitannya dengan kemarahan pasca-stroke. PBA dinamai pada tahun 1890-an untuk membedakannya dari kondisi lain seperti disartria, disfagia, slurring, dan dysphonia.

Orang yang menderita PBA sering mengalami tingkat isolasi sosial, karena tawa atau tangisan mereka sulit diterima orang lain. Keberhasilan dalam perawatan PBA tergantung pada sejauh mana seseorang mampu mengatasi isolasi dan rasa malu.

3. Joker Juga Idap Skizofrenia

Ternyata, musuh bebuyutan Batman ini juga mengidap gangguan skizofrenia. Alih-alih sadar, pengidap skizofrenia mengalami kesulitan untuk membedakan mana kehidupan nyata dan khayalan semata.

Itulah mengapa, Arthur sering kali berdelusi dengan ‘skenario’ karangannya sendiri. Seperti mengencani wanita atau menjadi komika sukses hingga akrab dengan tokoh selebriti Murray Franklin.
 

3. Joker Juga Idap Skizofrenia

Gangguan delusi ini pun dibagi ke dalam beberapa jenis. Dalam film Joker, kemungkinan besar ia mengalami waham kebesaran (grandiose). Dicirikan, penderita skizofrenia dengan delusi grandiose merasa punya rasa kekuasaan, identitas, kecerdasan yang membumbung tinggi.

Bahkan meyakini bahwa dirinya sangat bertalenta. Mirisnya lagi, penderita juga sering berkhayal punya relasi khusus dengan publik figur hebat. Padahal kenyataannya tidak demikian.