Kemeriahan pesta pernikahan artis cantik Cut Meyriska bersama Roger Danuarta beberapa hari lalu sepertinya masih sangat berkesan hingga sekarang. Tidak lain karena konsep pernikahan tradisional Aceh yang diusung oleh Cut Meyriska. Selain kesan mewahnya, pernikahan tradisional Aceh juga memiliki konsep yang unik.

1. Upacara Seumono Dara Baro

1. Upacara Seumono Dara Baro
source: https://nusantaratv.com

Upacara ini diisi dengan acara memandikan calon pengantin perempuan. Upacara ini dilakukan oleh pemuka adat, orangtua, dan sanak keluarga dalam jumlah ganjil. Pada tradisi jelang pernikahan Aceh yang sarat akan nilai agama Islam, prosesi ini diiringi dengan doa. Biasanya juga disertai dengan tari Pho yang merupakan tarian adat Aceh oleh warga setempat. Doa dan pembacaan kitab Al-Qur’an menjadi prosesi selanjutnya setelah upacara seumono dara baro.

Upacara seumono dara baro disebut juga proses pembersihan diri calon pengantin sebelum memulai kehidupan rumah tangga. Pada tradisi Aceh, upacara ini diawali dengan pemotongan gigi atau koh gigo. Sayangnya, prosesi ini sudah mulai jarang dilakukan. Setelah koh gigo, biasanya dilakukan koh andam. Koh andam adalah ritual pemotongan rambut halus di dahi calon mempelai perempuan dengan tujuan agar segala hal yang kurang baik dihilangkan dan bersiap memulai kebaikan yang baru.

baca juga

2. Malam Bainai

2. Malam Bainai
source: https://www.instagram.com

Malam Bainai digelar pada malam sebelum akad nikah dilaksanakan. Pada malam ini dilakukan upacara peusiejeuk (pemberian tepung tawar) pada calon dara baro dan peusiejeuk gaca, serta bate mupeh (batu giling) yang berarti memberi dan menerima restu serta mengharapkan keselamatan bagi seluruh anggota keluarga. Cut Meyriska adalah juga salah satu artis Indonesia yang tidak melewatkan prosesi ini pada serangkaian acara pernikahannya.

3. Upacara Wo Linto

3. Upacara Wo Linto
source: https://www.pixabay.com

Upacara wo linto merupakan prosesi puncak pada rangkaian acara pernikahan tradisional Aceh. Pada upacara wo linto, pengantin laki-laki atau yang diberi sebutan linto baro didudukkan bersama pengantin perempuan atau yang diberi sebutan dara baro setelah mengucapkan ijab qabul. Upacara ini dimulai dengan pihak dara baro yang menjemput rombongan linto baro dengan diiringi seumapa (berbalas pantun) dan upacara tukar sirih oleh sesepuh kedua belah pihak.

Linto baro dibimbing oleh orang tua adat dan melakukan tah gaki (membasuh kaki) yang melambangkan kesucian dan diri yang bersih ketika memasuki rumah tangga. Pada saat itu dara baro menunggu di pelaminan untuk menyambut linto baro dan melakukan sungkeman atau disebut dengan istilah seumemah ureung chik sebagai tanda hormat. Linto baro menerima sambutan itu dengan penuh tanggung jawab ditandai dengan memberi nafkah berupa uang untuk istri.