Hubungan bulan dengan kesehatan

source: medicalnewstoday.com

Bulan Juli kemarin, dunia memperingati 50 tahun pendaratan Apollo 11 di bulan, dan NASA berencana mengirim kembali awak pesawat antariksa ke sana tahun 2024. Hal ini menunjukkan ketertarikan manusia pada bulan tak pernah padam. Bagaimana tidak? Keberadaannya sebagai satelit alami memang memengaruhi banyak aspek kehidupan di muka bumi.

Gaya tarik bulan berpengaruh pada pasang-surutnya air laut. Peneliti juga menemukan bahwa pada malam terang bulan, karang di lepas pantai Australia menyinkronkan pelepasan telur dan sperma paling masif di bumi. Selain itu, berdasarkan catatan dokter hewan dan pekerja lain dalam perawatan hewan, kucing dan anjing tampaknya lebih sering terluka saat bulan purnama. Peneliti tidak dapat menemukan alasan yang tepat mengapa terjadi demikian, tapi mereka menduga hewan-hewan peliharaan lebih banyak menghabiskan waktu di luar saat terang bulan.

Banyaknya fenomena alam yang terjadi karena bulan akhirnya membuat banyak orang percaya bahwa bulan juga memiliki hubungan erat dengan isu kesehatan. Bahkan, siklus menstruasi juga sering disebut dengan istilah ‘datang bulan’, kan? Nah, sebutan ini kemungkinan besar berasal dari siklus menstruasi yang rata-rata terjadi setiap 28 hari, waktu yang kurang lebih sama dengan perjalanan bulan mengelilingi bumi.

Fakta bahwa bulan dapat memengaruhi pasang-surutnya air laut, juga memunculkan dugaan bahwa proses keluarnya cairan darah dari dalam tubuh wanita selama masa menstruasi dipengaruhi oleh bulan. Terkait hal ini, meski beberapa studi skala kecil membuktikan adanya korelasi antara bulan purnama dengan menstruasi dan ovulasi, sebagian orang masih meragukan kebenarannya. Pada kenyataannya siklus menstruasi dapat berlangsung kapan saja antara 21-35 hari dengan durasi yang juga dapat berubah seiring bertambahnya usia dan faktor hormonal.
 

Pengaruh bulan terhadap kesehatan

source: medicalnewstoday.com

Nah, tapinya lagi, bisa jadi fase bulan memang memengaruhi kesehatan seseorang. Perlu digarisbawahi di sini, bukan semua orang tapi seseorang. Sebuah studi yang dipublikasikan Sleep Medicine tahun 2014 menyebutkan bahwa saat bulan purnama orang-orang cenderung lebih sedikit tidur atau tidurnya tidak nyenyak.

Jika merunut teori cahaya, hal tersebut cukup beralasan. Cahaya terbukti bisa memengaruhi durasi dan kualitas tidur seseorang. Jadi wajar jika tidur terganggu gara-gara cahaya bulan yang bersinar dengan terang menerobos masuk ke jendela kamar sehingga memicu insomnia.

Saat kualitas dan durasi tidur memburuk, suasana hati juga ikut memburuk dan perilaku pun jadi tak menentu. Di lain pihak, cahaya bulan saat purnama bisa jadi diromantisasi untuk meningkatkan mood. Akhirnya, begadang pun dilakoni demi menikmati indahnya cahaya bulan, tanpa peduli waktu tidur jadi berkurang.

Sementara itu, rumor populer lainnya mengatakan bahwa bulan berpengaruh terhadap kesehatan mental. Menurut sebuah studi skala kecil tahun 2009, layanan psikiatri menerima lebih banyak pasien dibanding hari-hari biasa. Temuan tersebut kemudian dibantah para peneliti di Swiss dan US tahun 2019. Setelah menganalisis data sebanyak 17.966 pasien di bangsal psikiatri yang berbeda selama 10 tahun, mereka tidak menemukan bukti peningkatan agresi saat bulan purnama.

Sekarang, kalau tertarik, kamu bisa melakukan observasi kecil-kecilan. Amati apakah siklus menstruasi, tidur, dan perilakumu berubah 'seliar serigala' sesuai perubahan fase bulan. Jangan sungkan beri tahu hasil pengamatannya di kolom komentar ya, Beautynesia.