Usia 20-30 tahun adalah saat kita memikirkan banyak hal tentang hidup, seperti mau bekerja di manakah nanti, akan setinggi apa karir yang dicapai, apakah akan segera bertemu jodoh yang tepat, bagaimana bisa mengumpulkan uang untuk membeli rumah, dan mungkin masih banyak lagi pikiran-pikiran lain yang mendadak datang dan bikin hati gelisah. Semua hal ini adalah tanda kamu sedang mengalami Quarter-Life Crisis (QLC) dalam hidup. 

Saat Quarter-Life Crisis Datang, Apa yang Terjadi?

Pada tahun 1968, seorang psikolog Erik H. Erikson menerbitkan makalah yang menunjukkan bahwa manusia akan mengalami hingga delapan tahap perkembangan yang berbeda dalam hidupnya. Penelitian ini pula yang akhirnya menjadi dasar dari sebuah proses “quarter-life crisis”.

Quarter-life crisis terjadi karena kondisi pencarian jati diri yang intens pada seseorang, bersamaan dengan stres dan depresi saat memasuki usia 20 dan 30-an. Hal ini biasanya berlangsung saat seorang individu mulai meragukan kehidupan mereka dan tiba-tiba menyadari  tekanan yang akan mereka hadapi ketika dewasa. Baik itu masalah pekerjaan, utang-piutang, kondisi keuangan, hubungan asmara, dan permasalahan dewasa lainnya yang baru atau bahkan belum dimulainya.

Saat Quarter-Life Crisis Datang, Apa yang Terjadi?

Tahu nggak Beautynesian, krisis ini bahkan bisa lebih cepat terjadi dari yang kamu kira. Banyak orang menafsirkan quarter-life crisis terjadi di usia 25 tahun, nyatanya menurut studi yang dilakukan LinkedIn baru-baru ini, sekitar 75% orang berusia antara 22 dan 33 tahun telah ‘terserang’ QCL.

 

baca juga

Apa Pemicu Terbesar Terjadinya Quarter-Life Crisis?

Kebanyakan pria atau perempuan yang mengalami QLC dipicu oleh tekanan dari lingkungan terdekat atau ‘ketidakpuasan’ terhadap diri sendiri. Banyak yang merasa frustasi dengan target-target dalam hidup yang belum tercapai. Kalau kamu kewalahan mempertanyakan karir, jodoh, atau tujuan hidup, yang berkecamuk dipikiranmu, ini sebenarnya cukup normal. Tinggal bagaimana kamu menenangkan diri dan kembali menetralkan pikiranmu perlahan-lahan.

Pemicu lain yang kerap terjadi adalah, adanya jiwa kompetisi di masa usia 20-an. “People think of their 20s as a competition, demikian menurut Penelope Trunk, Founder dari Brazen Careerist. Karena itu, tekanan pun makin besar di rentang usia tersebut.

Keterlibatan sosial media juga menjadi faktor yang tak bisa dihindari sebagai trigger munculnya QLC. Seperti yang kami singgung di atas, bahwa 'ketidakpuasan' terhadap diri sendiri seringkali ber-impact terhadap rasa frustasi, karena seringnya membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di sosial media. Padahal yang terlihat indah di dunia maya, belum tentu sama dengan fakta di dunia nyata. So, berpikirlah lebih luas, jangan pernah membandingkan kehidupanmu dengan orang lain.

Apa Pemicu Terbesar Terjadinya Quarter-Life Crisis?


 

Identifikasi Masalah yang Kamu Hadapi

Daripada terus meratapi nasib tanpa solusi, lebih baik kamu identifikasi masalah quarter-life crisis yang sedang kamu hadapi, dengan memberi sedikit ruang untuk mencoba mencari tahu masalah yang terjadi.

Tanyakan pada dirimu beberapa pertanyaan silly seperti, “apa yang akan saya lakukan jika saya memiliki tongkat ajaib saat ini? Apa yang akan saya katakan pada diri sendiri jika saya adalah sahabat dari diri saya? Saran apa yang akan saya berikan pada diri saya sendiri jika saya melihat kembali situasi ini dalam waktu satu tahun? Atau lima tahun ke depan?”

Setelah pertanyaan terjawab, ambil pena dan selembar kertas untuk memberi task pada diri sendiri. Tulis beberapa chapter dalam hidupmu yang kamu anggap penting dan berpengaruh pada masa depanmu. Misalnya karir, jodoh, teman, keluarga, rumah pribadi, kesehatan, uang, lingkungan, dan lain-lainnya. Urutkan dari yang paling prioritas sampai yang tidak prioritas. Kamu bisa menambahkan atau me-remove part yang tidak terlalu relevan dengan kehidupanmu.

Identifikasi Masalah yang Kamu Hadapi

Kemudian beri nilai atau tingkat kepuasan kamu dari skala dari 1-10 di setiap part. Percaya deh, task seperti ini bisa memberi arahan yang jelas di mana kamu akan fokus untuk memperbaiki keadaan sesuai dengan urutan skala prioritas tadi. Satu hal yang perlu kamu ingat adalah jangan terlalu memaksa diri untuk sempurna. Pikirkan saja langkah apa bisa kamu ambil untuk membuatnya menjadi lebih baik dan terpenuhi.

 

baca juga

Solusi untuk Keluar dari Permasalahan

Tidak ada solusi instan yang bisa kamu berikan, namun 4 cara ini setidaknya dapat membantu kamu untuk bisa keluar dari ‘tornado’ yang berputar akibat quarter-life crisis di kehidupanmu.

Hargai dan Cintai Dirimu
Jangan terlalu ‘keras’ pada diri sendiri ketika dilanda QLC. Hal terbaik yang dapat kamu lakukan adalah mengingatkan diri sendiri bahwa tahap ini akan menjadi ‘jalan’ yang positif untuk membuat perubahan demi kemajuan dan kebahagiaan hidupmu ke depan. Tetap berpikiran terbuka. Krisis tidak akan bertahan selamanya, tetap hargai dan cintai dirimu dengan segala yang kamu miliki saat ini.

Bicarakan dengan Sahabat
Membicarakan rencana masa depanmu dengan sahabat atau orang lain, memungkinkan kamu mendapatkan dukungan lebih banyak untuk mencapai impian dan menyelesaikan masalah lebih mudah. Berbicara dengan anggota keluarga adalah cara yang tepat untuk memulai. Kamu juga dapat mendiskusikan pemikiranmu dengan jaringan orang-orang melalui media sosial.

Temukan ‘Penyaluran’ Lain
Ketika berada di tengah quarter-life crisis, kamu perlu menyalurkan ketidakbahagiaan dan rasa frustrasi ke hal lain. Cari kesibukan yang positif atau aktivitas lain (di luar rutinitas) untuk sejenak melupakan krisis yang kamu hadapi. Kamu bisa mencoba kegiatan kreatif seperti melukis atau fotografi.

Tetapkan ‘Goal’ dan Jangan Putus Asa
Quarter-life crisis bukan akhir segalanya, jangan putus asa. Anggap itu sebagai kesempatanmu untuk ‘mundur’ dan mengevaluasi kembali kehidupanmu. Kamu punya kesempatan untuk menentukan pilihan dan menemukan gairah kebahagiaan kembali. Temukan keberanian untuk mengakui apa yang kamu inginkan dalam hidup.

Solusi untuk Keluar dari Permasalahan

Fenomena QLC merupakan puncak kedewasaan, di mana seseorang mulai meninjau kembali masa lalunya, apa yang telah ia lakukan, apa yang ia dapatkan, dan bagaimana kehidupannya di masa datang. Hal ini terjadi karena setiap usia memiliki ‘developmental task’ masing-masing.

Bagi mereka yang sekarang berada di rentang usia 18-25, tugas mereka adalah mencari jati diri. Transisi dari setiap tahap perkembangan ini akan ada krisisnya. Setelah selesai di fase 18 menuju 25, seseorang akan masuk ke fase dewasa muda (young adulthood), yakni pada jenjang usia 25 hingga 40 tahun.

Hal tersebut akan terus berlanjut hingga memasuki fase dewasa akhir (late adulthood) pada jenjang usia 60 tahun ke atas. So, you’re not alone Beautynesian, better life are waiting for you!