Tarub, Bleketepe, dan Tuwuhan

Tarub, Bleketepe, dan Tuwuhan
source: https://scontent-iad3-1.cdninstagram.com/vp/2b382780b57ec1e1e3240a73ef9172a3/5D8686CA/t51.2885-15/e35/31928343_809305449275255_1384922581236187136_n.jpg?_nc_ht=scontent-iad3-1.cdninstagram.com
Sebelum memulai segala prosesi adat, biasanya orang Jawa akan mengawali pernikahannya dengan prosesi pasang tarub, bleketepe, dan tuwuhuan. Proses ini penanda bahwa sang pemilik rumah sedang melakukan acara pernikahan. Tarub biasanya dipasang di pagar atau pintu masuk, sedangkan bleketepe dan tuwuhan dijadikan sebagai simbol tolak bala.

Tuwuhan dipasang di kiri dan kanan gerbang, biasanya isinya adalah tumbuh-tumbuhan. Salah satu yang wajib ada adalah pisang raja, kelapa muda, batang padi, dan janur.

Pemasangan bleketepetarub, dan tuwuhan ini berisi harapan pasangan yang akan segera menikah. Diharapakan calon pengantin memperoleh keturuan yang sehat, berbudi baik, berkecukupan dan selalu bahagi.

Siraman

Siraman
source: https://cdns.klimg.com/resized/630x/g/f/o/foto_prosesi_siraman_anissa_aziza_syahdu_penuh_bunga_melati/siraman_anissa_aziza-20180505-001-rita.jpg
Prosesi selanjutnya adalah siraman. Dalam upacara ini pengantin akan dimandikan oleh kedua orang tua dilanjutkan dengan kerabat dekat seperti kakek-nenek, pakde-bude, dan orang yang dituakan. Biasanya ada 7 orang yang akan menyiramkan air kepada calon pengantin. Orang-orang ini diwajibkan sudah menikah hal ini bertujuan meminta berkah dan doa pada pernikahan.

Dalam prosesi ini, kamu membutuhkan:
  1. Persiapan tempat untuk siraman
  2. Daftar orang-orang yang akan  ikut memandikan. 
  3. Tempat air, gayung, kursi, kembang setaman, kain, handuk, kendi dsb.
  4. Sesaji untuk siraman, ada lebih dari sepuluh macam, diantaranya adalah seekor ayam jago.
  5. Pihak keluarga penganten putri mengirimkankan sebaskom air kepada pihak keluarga penganten pria. Air itu disebut air suci perwitosari artinya sari kehidupan, yaitu air yang dicampur dengan beberapa macam bunga yang ditaruh dalam wadah bagus, untuk dicampurkan dengan air yang untuk memandikan penganten pria.
baca juga

Kebaya Pernikahan

Kebaya Pernikahan
source: https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2018/07/hipwee-21436264_1143997095734358_6959375606970580992_n-640x799.jpg
Dalam pernikahan, kebaya adalah salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan. Memilih kebaya memang menjadi kegiatan paling menarik selama persiapan pernikahan. Khusus bagi calon pengantin yang akan menyelenggarakan pernikahan dalam adat Jawa, kegiatan memilih kebaya semakin menarik sekaligus menyulitkan karena kebaya Jawa miliki banyak macamnya. Tergantung pada konsep yang dibawakan bersifat nasional atau tradisional. Ada beberapa jenis kebaya adat Jawa yang belum banyak diketahui, misalnya klasik bludru, kebaya brokat, dan masih banyak lainnya. 

Cunduk Mentul

Cunduk Mentul
source: https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2016/09/hipwee-jogja-putri-1-750x1004.jpg
Dalam adat Jawa terdapat satu hal yang sangat unik dan khas, yaitu cunduk mentul. Cunduk mentul adalah ornamen bunga yang tersemat di atas sanggul. Jumlahnya ganjil dan menggambarkan pencahayaan dalam hidup. 

Centung sendiri merpakan sepasang ornamen berbentuk sisir yang tersemat di sanggul depan. Maknanya agar wanita siap memasuki gerbang rumah tangga. 
baca juga

Kalung Sungsun

Kalung Sungsun
source: https://media.karousell.com/media/photos/products/2018/01/26/aksesoris_pengantin_tradisional_jawa_kalun_susun_3_1516977453_d33fab450
Aksesoris terakhir yang harus kamu persiapkan dalam sebuah pernikahan Jawa adalah kalung sungsung. Buat kamu yang belum tahu, aksesoris ini adalah kalung yang tersusun atas tiga susun lempengan emas berbentuk bulan sabit.

Kalung sungsun bermakna tiga fase kehidupan manusia yang harus dijalani, yaitu lahir, menikah, kemudian meninggal. Selain itu, kalung ini juga memiliki makna yang melambangkan tiga alam di mana manusia hidup, yaitu alam baka, alam perantara, dan alam fana.

Siap melakukan pernikahan adat Jawa, Ladies?