1. Hindari "High Season' dan Sebaliknya Pilih "Low Season"

Apabila kamu hobi traveling, tentunya kamu sudah akrab dengan istilah high season dan low season. Istilah high season digunakan untuk menadai masa-masa terpadat dalam pariwisata, ketika banyak orang melakukan perjalanan wisata. Contohnya, saat-saat libur Natal hingga Tahun Baru, libur sekolah, dan mekarnya bunga Sakura dapat digolongkan sebagai high season di Jepang. Sebaliknya, low season menandakan masa-masa yang lebih sepi.

Pada umumnya, membeli tiket pada saat low season akan lebih hemat dibandingkan ketika high season. Selain itu, pada low season kamu dapat menemukan banyak penawaran dan promosi tiket perjalanan.

Tips: Kamu tidak perlu takut berpergian sendiri ke Jepang tanpa jasa tour. Fasilitas umum di Jepang seperti kereta sudah dilengkapi dengan pengumuman dan teks dalam bahasa Inggris. Berbekal kamus percakapan sehari-hari, kamu dapat menikmati indahnya Jepang tanpa kuatir akan tersesat.

source: https://www.thebalance.com/g00/last-minute-airline-specials-and-deals-4058256?i10c.referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.co.id%2F


 

baca juga

2. Hindari Naik Taksi

Harga dasar (base fare) taksi di Jepang rata-rata mencapai ¥1000 atau sekitar Rp120.000. Sangat berbeda dengan harga dasar taksi di Indonesia yang tidak sampai Rp100.000, bukan? Maka dari itu, manfaatkan transportasi umum seperti bis dan kereta. Kamu juga dapat menikmati pemandangan selagi berjalan kaki. 

source: http://urbankchoze.blogspot.co.id/2015/05/sidewalks-and-driveways-is-it-time-to.html


 

3. Gunakan Airbnb Untuk Mencari Penginapan

Airbnb adalah situs yang memungkinkan pemilik rumah untuk menyewakan kamar bagi turis atau pengunjung. Harga penginapan di Airbnb lebih terjangkau dibandingkan hotel, sehingga kamu dapat menghemat pengeluaran. Kamu hanya perlu mendaftar lewat situs Airbnb dan melihat-lihat penginapan yang kamu inginkan.

Tak hanya dari segi biaya, lewat Airbnb kamu dapat melihat sendiri dan merasakan bagaimana hidup di Jepang. Kamu dapat memperluas wawasan dan menambah teman baru, yaitu lewat tuan rumah Airbnb yang kamu tempati. Menarik, bukan?

Tips: Karena berbentuk rumah tinggal, sebaiknya kamu ikut andil membantu tuan rumah menjaga kebersihan, kerapihan dan ketenangan rumah, Beautynesian.

source: http://www.atimes.com/article/airbnb-faces-government-strafing-in-japan/


 

baca juga

4. Manfaatkan Fast Food Chain Atau Restoran

Meskipun makan sushi yang disajikan oleh chef ternama terdengar menarik, namun itu akan sangat menguras kantongmu. Kunjungilah tempat-tempat makan seperti McDonalds untuk makanan cepat saji atau Matsuya untuk gyūdon (nasi dengan daging sapi). Mampirlah ke mini market terdekat, dan kamu akan menemukan bento, roti, serta onigiri dengan harga relatif terjangkau.

Notes:

  • Tempat makan tertentu seperti Matsuya dan rumah makan ramen dirancang hanya untuk makan, bukan bercakap-cakap seperti layaknya kafe. Oleh karena itu, pastikan kamu segera makan dan meninggalkan tempat, agar orang yang mengantri mendapat giliran.
  • Banyak tempat makan di Jepang mewajibkan tamu untuk membereskan peralatan bekas makanan, mengelap makanan yang tumpah serta mengambil minum sendiri. Jangan lupa untuk mengenali terlebih dahulu kebiasaan dan tata krama yang berlaku, dengan cara memperhatikan tamu-tamu lain.
source: https://restaurantfood.menu/matsuya-menu


 

5. Belanja Murah, Bebas Pajak

Di toko-toko tertentu, pembelanjaan dengan nilai lebih dari ¥10.000 tidak akan dikenakan pajak apabila kamu menunjukkan paspor ketika hendak membayar di kasir. Selain itu, toko-toko ¥100 seperti Daiso juga menyediakan pernak-pernik lucu yang dapat kamu jadikan sebagai oleh-oleh.

source: http://www.tour-harajuku.com/map/shop16.html

Semoga bermanfaat!