Pelembab Justru Membuat Kulit Malas Melembabkan Diri

Tercatat bahwa 8 dari 10 wanita di Inggris mengeluarkan kocek ratusan juta poundsterling dalam setahun untuk membeli produk-produk pelembab. Akan tetapi, apakah produk tersebut benar-benar ampuh?
source: http://www.lalineusa.com/blog/skincare-products-ingredients-to-look-for-by-skin-type/
Terlalu banyak menggunakan pelembab juga dapat menyebabkan jerawat dan membunuh bakteri ramah yang menjaga kulit tetap sehat.
source: http://www.lalineusa.com/blog/skincare-products-ingredients-to-look-for-by-skin-type/
Seorang wanita bisa saja menggunakan lebih dari satu produk pelembab, atau bahkan seringkali berganti-ganti karena belum menemukan yang sangat cocok. Tapi sayangnya, kebiasaan ini justru menimbulkan masalah baru. Hal ini dikemukakan oleh Dr. Rachel Eckel, dokter kulit kosmetik.
Ia mengklaim bahwa pelembab dapat menyebabkan sel-sel permukaan kulit mati, kekeringan, pori-pori membesar dan jerawat. Mengapa ini bisa terjadi? Pelembab terdiri dari campuran air dan emolien, seperti mineral dan minyak tanaman yang dapat menghentikan uap air keluar dari kulit. Pelembab juga mengandung zat humektan yang dapat menarik air dari lapisan bawah kulit sehingga kulit terasa lembab.
Namun menurut Eckel, pada kenyataannya, pelembab akan membuat kulit malas sehingga kulit kurang mampu melembabkan diri secara alami. Biasanya permukaan kulit diperbarui setiap enam minggu, tetapi apabila usia sudah di atas 25 tahun maka proses regenerasi ini melambat. Sel-sel akan berkumpul di permukaan kulit sehingga terasa kasar dan kusam. Minyak yang terkandung di dalam kulit justru merupakan pelembab kulit yang alami. Selain itu, lapisan atas kulit juga menghasilkan pelembab alami yang penting yaitu asam amino, urea dan asam laktat. Ketiga kandungan tersebut akan menjaga kulit tetap lentur, melindungi kulit dari sinar UV dan mengatur pelepasan alami kulit. Jangan terlalu banyak menggunakan produk kimia karena kulit akan berhenti memproduksi zat-zat yang berfungsi menyehatkan kulit secara alami.
"If you artificially saturate the skin surface with moisture, this sends a signal to cells to stop producing GAGs and NMFs. The epidermis shrivels and thins, and fine lines start to appear," said dr. Eckel.
Sesungguhnya hanya 15 persen dari wanita yang benar-benar membutuhkan pelembab. Eckel melanjutkan bahwa produk yang mengiming-imingi khasiat anti penuaan, 85 persen tidak dapat membuktikan pernyataan mereka. Produk pelembab yang baik mengandung exfoliant dan serum bebas minyak sekaligus vitamin, seperti retinol yang mengandung vitamin A untuk memacu regerenasi kulit.
Pendapat ini juga diperkuat oleh seorang ahli anti-penuaan kulit di London yaitu dr. Sarah Tonks. Menurutnya, banyak wanita yang telah berlebihan menggunakan pelembab dan ia menyarakan untuk berpindah menggunakan produk exfoliant, atau produk yang dapat mengurangi pigmen.
Sementara itu, mereka yang mengalami masalah dengan jerawat juga kerap kali menggunakan perawatan khusus yang terlalu berat di kulit sehingga jerawat semakin buruk. Semestinya mereka bisa menghemat uang dengan mengaplikasikan perawatan yang tepat, salah satunya menggunakan tabir surya. Tapi pada umumnya, kulit yang masih muda, saat normal akan mengatur kebutuhan kulit itu sendiri seperti menyerap paparan sinar matahari, melawan polusi ataupun mengatur ketidakseimbangan hormon.