Patrick Owen

Pemuda kelahiran 1 Oktober 1989 ini merupakan salah satu dari sekian designer Indonesia yang memiliki talenta luar biasa. Karyanya tak hanya mempesona khayalak fashion Indonesia, namun juga menarik perhatian fashionista Australia lewat ajang Virgin Australia Melbourn Fashion Festival pada 22 Maret 2015 lalu. Tak hanya sampai di situ saja, Patrick Owen menunjukan hasil karyanya pada bulan Oktober 2015 lalu melalui Jakarta Fashion Week 2016. Lulusan Law/Comerce University of New South Wales ini mempersembahkan karya yang tidak biasa. Ia menggabungkan 2 jenis bahan seperti denim dress yang digabungkan dengan lace atau bahan jas yang dipadukan dengan bahan sheer dalam waktu yang bersamaan. Selain bereksperimen dengan berbagai jenis bahan, Patrick Owen juga tak lupa memasukan digital printing yang terinspirasi pada budaya Indonesia seperti bunga Rafflesia Arnoldi pada koleksi ready-to-wear miliknya kali ini.
source: http://australiaindonesiacentre.org/getting-to-know-patrick-owen/
Patrick's Indonesian background is a major influence on his designs, which draw on Indonesia's art and cultural traditions.
source: http://australiaindonesiacentre.org/getting-to-know-patrick-owen/

Sapto Djojokartiko

Designer asal Solo yang memiliki label ready-to-wear TODJO yang terbentuk pada tahun 2010 ini memiliki perjalanan karir yang cukup panjang dan memiliki tantangan tersendiri. Sempat vakum memproduksi koleksi ready-to-wearnya tidak membuat designer lulusan Ecole Superieure des Art et Technique de la Mode (ESMOD) Paris ini menyerah. Ia mampu membalikan situasi melalui karyanya yang feminin dan romantis, namun tetap wearable dalam kegiatan sehari-hari. Pada ajang Jakarta Fashion Week 2016 bulan Oktober 2015 lalu, Sapto Djojokartiko mempersembahkan koleksi yang monokrom dengan sentuhan warna biru dan hitam. Untuk desain pakaian, Sapto Djojokartiko menyajikan culotte, wide pants, dan pakaian yang berpotongan longgar serta sentuhan ikat simpul. Walaupun tidak menggunakan warna pastel dan potongan yang pas badan, desain dari koleksi TODJO ini tetap feminin dan bisa digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
source: http://www.bobobobo.com/baca/2015/12/sapto-djojokartiko-dari-couture-hingga-kontemporer/
Awalnya, karya-karya Sapto hanya bisa diperoleh berdasarkan made to order sebelum akhirnya Sapto merilis rangkaian koleksi ready-to-wear miliknya di tahun 2010.
source: http://www.bobobobo.com/baca/2015/12/sapto-djojokartiko-dari-couture-hingga-kontemporer/

Heaven Tanudiredja

Heaven Tanudiredja, pemuda kelahiran Bali ini merupakan perancang perhiasan yang sudah melanglang buana di industri fashion dunia. Lulusan Royal Academy Fine Arts Antwerp Belgia ini mengawali kariernya sebagai asisten designer di fashion house ternama Indonesia, Biyan. Kemudian, ia hijrah ke Belgia untuk menempuh pendidikan dan menetap disana hingga sekarang. Sebelum mendirikan lininya sendiri, Heaven Tanudiredja sempat bekerja pada fashion house Dries Van Noten pada tahun 2007. Ciri khas dari rancangannya adalah jewelry atau perhiasan yang memiliki unsur pahatan, sehingga perhiasan tersebut menjadi lebih hidup. Untuk bahan bakunya sendiri, Heaven Tanudiredja memilih bebatuan dan kristal antik untuk mendapatkan dimensi warna yang lebih detail.
source: http://www.vogue.it/en/talents/success-stories/2011/11/heaven-tanudiredja
"When I was 16 years old I worked as assistant designer at Biyan in Jakarta, Indonesia. He is the one who taught me a lot, from senses of tailoring, color, cutting lace to make another motif until making bias cut draping. It has been a fundemental experience.
source: http://www.vogue.it/en/talents/success-stories/2011/11/heaven-tanudiredja