1. Kurang Privasi

Salah satu pihak merasa hubungannya sempurna, namun sebaliknya pasangan merasa dia butuh jarak dan privasi. Hal ini terjadi jika salah satu pihak menuntut pasangannya agar selalu ada untuknya. Ada kalanya dalam suatu pertengkaran, salah satu pihak merasa lebih nyaman untuk berpikir dengan kepala dingin sambil menyendiri. Sebaliknya, pihak satunya ingin langsung menyelesaikannya saat itu juga.
source: http://www.huffingtonpost.com/joe-seldner/why-previous-relationships-failed_b_7163972.html
Jika kamu mengalami hal ini, salah satu pihak harus mengalah dan menghormati apa yang terbaik bagi kedua pihak. Jika memang pasanganmu menginginkan privasi lebih dengan menjaga jarak, hormati keputusannya. Namun tanyakan dengan pasti kapan waktu yang tepat untuk berbicara berdua. Dengan begini, privasi dalam hubungan masih tetap dihormati tanpa meninggalkan waktu untuk berbicara.

2. Salah Satu Pihak Lebih Dominan

Merasa hubunganmu seperti Christian Grey dan Anastacia dalam film Fifty Shades of Grey? Salah satu pihak yang memiliki kontrol penuh terhadap suatu hubungan dinilai tidak baik. Karena pihak yang dikontrol akan merasa menjadi korban dan tidak didengar pendapatnya. Memiliki seseorang yang memilih dan menentukan berbagai macam hal untukmu memang bisa menjadi bentuk perhatian, namun jika terlalu berlebihan tentu hal ini akan merugikan salah satu pihak.
source: http://www.lovepanky.com/love-couch/broken-heart/signs-of-a-bad-relationship
Jika kamu merasa dirugikan dengan tipe hubungan seperti ini, konsultasikan dengan orang terdekatmu. Apalagi jika pendapatmu tak pernah didengar, perlu kehadiran pihak ketiga untuk membicarakannya baik-baik dengan pasanganmu. Tapi pastikan kamu meminta bantuan orang yang bisa kamu percayai agar hubunganmu berjalan ke arah yang lebih baik.

3. Terlalu Sibuk Dengan Kesibukan Masing-Masing

Tipe hubungan yang satu ini umumnya terjadi pada pasangan suami istri yang sudah memiliki keturunan. Istri sibuk mengurus anak, sementara suami sibuk mengurus kebutuhan rumah tangga. Saking sibuknya, istri dan suami tak memiliki waktu yang cukup untuk berkomunikasi dengan baik. Padahal selain melakukan kewajiban sebagai orang tua, istri dan suami tetap harus melakukan perannya sebagai pasangan.
source: http://www.philly.com/philly/blogs/healthy_kids/The-1-mistake-busy-parents-make-at-the-start-of-the-school-year.html
Sebuah studi menyimpulkan bahwa pasangan dengan anak-anak hanya berkomunikasi secara 10 menit setiap harinya karena kesibukan masing-masing. Agar komunikasi dengan suami berjalan lancar, luangkan waktu untuk berdua minimal 15 menit sebelum tidur untuk menanyakan aktivitas pasanganmu. Dengan komunikasi yang lancar, hubungan sebagai orang tua dan pasangan juga akan terasa lebih sehat.

4. Suka Marah dan Membentak

Saat pasangan melupakan hal yang penting, pernahkah salah satu di antara kalian marah layaknya orang tua yang marah pada anaknya? Sebagai manusia, tentu kita pernah berbuat salah. Namun jangan lampiaskan emosimu terhadap pasanganmu kemudian memutuskan untuk tidak meminta bantuan lagi padanya. Jika hal ini terjadi, pasangan akan merasa terintimidasi dan tidak dipercayai lagi.
source: http://acculturated.com/women-who-emotionally-abuse-men/
Ingat bahwa setiap pasangan memiliki hak yang sama, sehingga kamu tidak bisa memperlakukan pasangan layaknya orang tua memperlakukan anak. Jika dia melupakan sesuatu yang dapat menyulut emosimu, bicarakan baik-baik dengan kepala dingin. Cari solusinya agar dia tidak melakukan kesalahan berulang kali.

5. Mengiyakan Segala Hal

Pernah menemui orang yang kerap mengikuti berbagai keinginan pasangan untuk menjauhi masalah? Saat dihadapkan pada masalah, salah satu pihak kerap menuruti kemauan pasangannya agar argumen tidak berlanjut lebih panjang. Tapi, terus-terusan menjadi penurut dan mengikuti kemauan orang lain tanpa berpikir panjang juga tidak baik untuk jangka panjang.
source: http://hellogiggles.com/your-boyfriend-is-not-your-friend/
Saat dihadapkan dengan masalah, hindari untuk berargumen dengan emosi. Tanyakan pada pasanganmu secara baik-baik apa yang diinginkannya dan hindari untuk memaksakan kehendak salah satu pihak pada pasangan. Memutuskan berbagai macam hal dengan hasil pemikiran berdua akan lebih baik hasilnya daripada diputuskan secara sepihak.

6. Sering Meminta Pendapat Orang Luar

Bingung menyikapi suatu masalah dengan pasangan? Saat hal ini terjadi, ada beberapa pihak yang memilih untuk membicarakannya dengan teman-temannya. Kemudian mereka juga membanding-bandingkan masalah yang dihadapi dengan cara pasangan lain saat menyikapi permasalahan yang serupa. Padahal, setiap hubungan memiliki keunikan sendiri-sendiri dan tidak bisa disamakan dengan hubungan orang lain.
source: http://www.marieclaire.com/sex-love/a6101/how-to-cheer-up-friend/
Kehadiran seorang teman memang dapat menjadi penyemangat saat menghadapi masalah dengan teman. Tapi ingat, jangan sampai kata-kata temanmu mempengaruhimu dalam menyikapi suatu permasalahan dengan pasangan. Apalagi sampai membanding-bandingkannya. Belum tentu yang kamu pikirkan terhadap pasanganmu itu benar. Hindari pula mengumbar aib atau masalah yang kamu hadapi bersama pasangan pada orang luar jika tidak terpaksa.