Angka-Angka yang Dianggap Membawa Kesialan

Angka 4 dalam pengucapan bahasa Jepang dibaca "shi", yang dapat diartikan "mati/kematian". Beberapa variasi dengan elemen angka 4 juga dianggap tidak baik, seperti 24 yang dapat dibaca "nishi" yang diartikan "kematian ganda", 42 yang dibaca "shini" juga berarti "mati", 43 yang dibaca "shizan" yang berarti bayi yang mati waktu dilahirkan (stillbirth), dan 420 yang dibaca "shinirei" atau "shinrei" yang artinya adalah roh orang mati. Nomor 9 juga dianggap membawa kesialan, karena pengucapannya ("ku") dapat berarti rasa sakit dan penderitaan. Gedung-gedung dan ruangan dengan nomor-nomor tersebut seringkali tidak ada di Jepang, terutama untuk gedung rumah sakit dan tempat tinggal. Minasan juga tidak dianjurkan untuk memberi hadiah dalam jumlah 4 buah, melainkan 3 atau 5 buah dalam satu set.
source: https://www.pinterest.com/pin/193443746469402238/

Gunakan Sumpit Dengan Benar

Jangan pernah menancapkan kedua sumpit Minasan secara tegak lurus di yang mangkuk berisi nasi, ya! Mangkuk berisi nasi dengan sumpit tertancap seperti itu biasanya adalah sajian nasi yang diletakkan di altar ketika sedang ada yang meninggal dunia. Minasan juga tidak boleh berbagi makanan dari sumpit ke sumpit orang lain, karena hal tersebut hanya dilakukan dalam ritual hotokebashi, yakni ritual untuk mengambil tulang belulang jenazah yang telah dikremasi untuk dimasukkan ke dalam wadah keramik.
source: http://www.letsgodine.com/a/how-to-eat-rice-with-chopsticks.aspx

Jangan Bersiul di Malam Hari

Hampir sama dengan beberapa wilayah di Indonesia, di Jepang Minasan dianjurkan untuk tidak bersiul di malam hari. Dalam takhayul disebutkan bahwa jika kita bersiul di malam hari maka kita akan didatangi oleh hantu atau ular. Namun, penjelasan logisnya adalah karena bersiul seringkali merupakan isyarat yang digunakan oleh para bandit, pencuri dan perampok ketika mereka hendak beraksi di malam hari. Kalau rumah Minasan tiba-tiba didatangi pencuri yang salah mengira siulan Minasan sebagai isyarat dari temannya tentu seram juga, kan?
source: http://www.thesun.co.uk/sol/homepage/news/politics/4182050/Cameron-We-wont-ban-wolf-whistling.html

Jangan Menulis Nama Dengan Tinta Merah

Di Indonesia, selain untuk kalimat atau rambu peringatan bahaya kita tidak dianjurkan menulis menggunakan tinta merah karena bermakna marah atau menantang orang yang membaca. Di Jepang juga dilarang, lho, Minasan. Di Jepang setiap keluarga memiliki nisan keluarga di kompleks pemakaman, dan semua nama anggota keluarga baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup ditulis di nisan tersebut. Pembedanya adalah nama anggota keluarga yang masih hidup diukir dan dilapisi dengan tinta/cat berwarna merah, sedangkan untuk anggota keluarga yang telah tiada tinta/cat merahnya dikelupas hingga tinggal ukirannya saja. Pada dasarnya kebiasaan ini dilakukan untuk menekan biaya pengukiran dan pembuatan nisan keluarga. Namun, pada perkembangannya menulis nama orang dengan tinta merah dianggap tidak sopan dan mengundang nasib buruk.
source: http://www.theribboninmyjournal.com/red-ink-red-pen-let-valentines-day-commence/

Laba-laba Pembawa Keberuntungan dan Pembawa Sial

Serangga yang satu ini sebenarnya tidak mengganggu, kecuali Minasan memang punya phobia terhadap laba-laba. Orang Jepang percaya jika kebetulan melihat laba-laba pada pagi hari maka ia akan diliputi keberuntungan di hari itu. Sebaliknya, melihat laba-laba di malam hari berarti orang tersebut akan mendapat kesialan.
source: http://www.newsroom24.co.uk/house-spiders/