Berkat tren multi masking, berbagai produk clay mask kembali populer. Maklum, hampir semua jenis kulit pasti punya masalah dengan pori-pori tersumbat, dan clay mask adalah solusi yang tepat untuk mengatasinya.
 



Clay atau lempung telah dimanfaatkan sebagai produk perawatan kulit sejak dulu. Strukturnya yang berpori-pori mampu menyerap kotoran dan minyak berlebih pada kulit, membuatnya perawatan efektif bagi jenis kulit mudah berminyak, berkomedo dan berjerawat.

Clay adalah kategori yang lebih spesifik dari mud, dan hanya mineral tertentu dengan ukuran tertentu dapat disebut sebagai clay, seperti yang dikutip dari Frauke Neuser PhD, Principal Scientist dari brand Olay.
 
Beberapa jenis clay yang banyak digunakan dalam clay mask adalah bentonite clay, kaolin clay, dan rhassoul clay. Diantara semua jenis clay, bentonite clay adalah yang paling kuat, sehingga cocok untuk jenis kulit berminyak. Kaolin clay lebih gentle dan cocok untuk kulit kering cenderung sensitif. Sementara itu, rhassoul clay punya manfaat tambahan untuk mengeksfoliasi sel kulit mati.
 

source: https://www.lifeandlooks.com
baca juga



Sebaliknya, istilah mud atau lumpur punya arti yang lebih luas dari clay. Mud bisa saja mengandung clay, dan bermacam mineral lainnya. Sebagian orang berpendapat kalau mud mask akan bersifat lebih hydrating dan nourishing ketimbang clay mask. Bahkan, ada beberapa jenis lumpur alami yang mendunia berkat manfaat penyembuhannya, seperti Dead Sea mud alias lumpur Laut Mati. Terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu, lumpur Laut Mati sangat kaya akan mineral yang baik untuk kulit.
 
Lucunya nih, mayoritas mud mask yang dijual di pasaran sebenarnya lebih banyak mengandung clay, ladies. Misalnya, Omorovicza Ultramoor Mud Mask yang menambahkan kaolin clay selain Dead Sea mud. Mungkin karena kandungan clay akan menambahkan efek menyerap minyak dan purifying.
 

source: http://www.brostrick.com/