R.A. Kartini (1982)

Film ini memang merupakan film klasik Indonesia yang mengisahkan tetang kehidupan RA. Kartini yang diangkat dari buku biografi Kartini yang ditulis oleh Sitisoemandari Soeroto, yaitu Kartini sebagai sosok wanita ningrat yang berusaha melawan feodalisme dan membela kaum wanita. Meskipun diproduksi pada tahun 80-an, film ini layak diacungi jempol, mengingat pemerannya adalah Jenny Rachman, seorang artis wanita senior dan berpengalaman dalam berakting layar lebar.

Film drama karya Sjumandjaya ini juga dibintangi oleh Wisnu Wardhana, Nani Widjaja, Bambang Hermanto dan Adi Kurdi. Kisahnya bermula dari kenyataan yang dianggap aneh di lingkungannya. Kartini yang merupakan putri dari R.M. Aryo Sosroningrat melihat ibunya sendiri tidak berhak makan bersama dengan ayahnya dandari situ ia mulai merasa adanya ketidakadilan serta kesewenangan laki-laki.

Selain itu, Kartini juga peduli akan pendidikan sehingga ia mengajari para wanita sekitarnya untuk membatik dan dibantu saudaranya, Kardinah, mereka mendirikan sekolah di Kabupaten Jepara untuk memajukan kaum wanita.

source: https://www.duniaku.net


 

baca juga

Kartini (2017)

Masih berfokus pada sosok Kartini, tahun 2017 ini juga dibuat sebuah film Indonesia yang mengisahkan tentang Kartini dan diyakini bisa lebih unggul dari film R.A Kartini karya Sjumandjaya. Meskipun mengisahkan sosok yang sama, namun fokus kedua sutradara berbeda. Hanung Bramantyo, sutradara film Kartini ini lebih fokus menggambarkan kehidupan Kartini selama dipingit sampai akhirnya menikah.

Kali ini pemeran Kartini dipercayakan pada sosok Dian Sastrowardoyo. Bahkan kabarnya nih, Dian sendiri yang mengajukan diri kepada Hanung untuk memerankan sosok Kartini. Selain itu, film ini juga lebih menampilkan fakta-fakta yang ada di lingkungan keluarga Kartini. Berbekal dengan riset yang matang dan sumber informasi yang dikumpulkan, Hanung yakin bahwa film ini akan sukses dan berbeda dengan film-film Kartini lainnya.

source: https://mediakonsumen.com


 

Cut Nyak Dien (1986)

Selain film Indonesia R.A Kartini, pada tahun 80-an ada juga film yang sangat fenomenal dan tak akan terlupakan. Film yang mengisahkan sosok pahlawan wanita asal Aceh, Cut Nyak Dien berhasil diperankan dengan sangat baik oleh Christie Hakim. Sosok Cut Nyak Dien ini muncul menjadi panglima perang, menggantikan suaminya Teuku Umar yang meninggal karena tertembak musuh.

Kisah kegigihan dan kehebatannya mengusir penjajah akan membuat kamu takjub sekaligus terharu. Meskipun ia dikhianati dan ditangkap Belanda serta dalam keadaan yang mengenaskan sekalipun, ia tetap menghunuskan rencongnya. Film drama karya Eros Djarot ini juga dibintangi oleh Slamet Rahardjo, Hendra Yanuarti, Pitrajaya Burnama, Rita Zahara, dan Rosihan Anwar. Berkat film ini, Christine Hakim mendapatkan Piala Citra ke-6 untuk kategori pemeran utama wanita terbaik.

source: http://www.tasteofcinema.com


 

baca juga

Tiga Srikandi (2016)

Di tahun 2016, ada juga film Indonesia yang menceritakan perjuangan wanita. Namun, kali ini perjuangan di bidang olahraga. Film yang diberi judul 3 Srikandi ini adalah sebuah film biopik yang disutradarai oleh Imam Brotoseno. Film yang mengisahkan 3 atlet panahan Indonesia ini tayang perdana pada 4 Agustus 2016.

Dalam 3 Srikandi dikisahkan 3 atlet panahan wanita, yaitu Nurfitriyana, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani yang merupakan atlet wanita pertama yang memenangkan medali perak untuk panahan beregu di ajang Olimpiade Seoul 1988. Pemeran ketiganya dipercayakan pada Bunga Citra Lestari sebagai Nur Fitriyana (Yana) sebagai sosok tertua, Tara Basro sebagai Kusuma Wardhani dan Chelsea Islan sebagai Lilies Handayani. Perjuangan mereka bermula ketika tampil cemerlang dalam ajang Sea Games dan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Namun, persoalan muncul ketika mereka akan mengikuti seleksi pelatihan nasional (pelatnas) di Jakarta. Akan tetapi akhirnya mereka bisa melewati semua juga berkat tempaan dari sang pelatih, Donald Pandiangan.

Usaha produser Raam Punjabi dan sutradara Iman Brotoseno untuk mengangkat kisah ketiga atlet ini layak dipuji, karena berkat film ini akhirnya nama ketiga atlet ini jadi dikenal khalayak luas, bagaimana perjuangan mereka mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Pada akhirnya, berkat film ini banyak juga anak muda yang mulai tertarik dengan olahraga panahan.

source: http://www.traxonsky.com/3-srikandi-film-tentang-kisah-perjuangan-atlet-panahan-wanita-indonesia/


 

Sokola Rimba (2013)

Kali ini ada film Indonesia lainnya yang juga bercerita tentang wanita, yaitu Sokola Rimba. Film Indonesia arahan Riri Riza ini bercerita tetang perjuangan Butet Manurung, seorang guru yang mengajar membaca, menulis dan berhitung kepada anak-anak masyarakat Suku Anak Dalam yang tinggal di hulu sungai Makekal di hutan bukit Duabelas. Suatu hari, karena sakit parah ia ditolong oleh Bungo.

Konflik dimulai dari sini, ternyata selama ini Bungo memperhatikan Butet mengajar dan tertarik. Butet pun berencana memperluas wilayah mengajarnya hingga ke tempat Bungo, namun mendapat perlawanan dari kelompok Bungo yang beranggapan bahwa belajar membaca dan menulis bisa membawa malapetaka. Film ini dibintangi oleh Prisia Nasution, Nyungsang Bungo, Nengkabau, Beindah, Rukman Rosadi, Nadhira Suryadi, Ines Somellera, Netta KD dan Dery Tanjung.

source: http://mecail2012.blogspot.co.id


 

Merry Riana, Mimpi Sejuta Dolar (2014)

Film Indonesia yang dirilis 24 Desember 2014 ini diperankan oleh Dion Wiyoko, Chelsea Islan, Kimberly Ryder dan Ferry Salim. Film yang bersetting ketika Indonesia dilanda kerusuhan tahun 1998 ini mengisahkan sosok Merry Riana (wanita keturunan Tionghoa) dan keluarganya yang terpaksa mengungsi ke Singapura, namun dalam perjalanan ke bandara mereka dijarah dan harta yang tersisa hanya cukup untuk membeli 1 tiket.

Akhirnya, Merry berangkat sendirian dan terlunta-lunta sesampainya di Singapura. Dari sini kisah perjuangan sosok Merry Rina yang diperankan oleh Chelsea Islan dimulai. Ia berusaha bertahan hidup di Singapura dengan bekal uang yang pas-pasan. Beruntung ia pada akhirnya berhasil bertemu dengan temannya dan diterima kuliah di Nanyang Technological University dengan seorang penjamin.

Namun, ia juga tetap bekerja keras mencari uang agar bisa bertahan hidup. Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil hingga Merry sukses dan dikenal sebagai wanita muda yang mampu memiliki kekayaan senilai satu juta dolar pada usia 26 tahun.

source: http://syaifardhinata.blogspot.co.id