Awal ketertarikan dunia fashion?
Tri: Sejak kecil, secara enggak sadar saya senang mendandani kakak saya. Namun saat itu hanya sebatas memilihkan pita rambut, dan hal kecil lainnya. Sebenarnya saya lebih suka dance sejak kecil. Saya sempat mempelajari tari tradisional, ballet, hingga modern dance.
Awal ketertarikan saya pada dunia fashion adalah saat kelas 1 SMA. Saya punya teman sebangku yang hobi bikin fashion sketches. Saya melihat dia dan saya ikut tertarik. Di awal kelas 1 atau 2, saya sudah mulai ikut lomba desain busana. Sewaktu lulus SMA pilihan saya adalah mau terus sekolah koreografer atau fashion. Somehow, saya kemudian memilih menjadi fashion desainer.
source: http://postimg.org/image/jw2j3o5b1/
Pengin dikenal sebagai desainer yang seperti apa?
Tri: Jujur, karena saat itu masih muda, saya hanya mau menjadi desainer yang terkenal. Tapi eventually, terkenal adalah bonus. Saat ini saya ingin dikenal sebagai desainer yang bisa membuat diri saya sendiri bangga. I'm proud of myself. I'm not trying to make people happy, i'm not trying to please everybody, that's not my job.
Signature style?
Ajeng: Something wearable, sesuatu yang being true to himself adalah sesuatu yang pasti Mas Tri sendiri bisa pakai. Being real, enggak mungkin kita enggak realistik, misalnya pakai couture setiap hari. Sesuatu yang sesuai dengan situasi di Jakarta seperti ini, sesuatu yang bisa kita pakai sehari-hari.
Siapa penggemar rancangan Tri Handoko?
Pengemar fanatik rancangan saya sebenarnya sangat spesifik, terlebih untuk koleksi perempuannya. Mereka artistik, berbeda dengan orang kebanyakan, smart, tingkat percaya dirinya tinggi karena mereka berani untuk tampil beda.
source: http://postimg.org/image/jpc7e9nah/
5 kata yang menggambarkan Tri Handoko?
Tri: Saya orangnya jujur, straight forward, pada dasarnya pemalu, agoraphobia (fobia keramaian), introvert, dan emotional.
Ajeng: Seorang yang perfectionist dalam pekerjaan, which is good. Mungkin karyanya sangat straight forward, simple, wearable, tetapi sebenarnya dia sangat dramatis. Dia sangat emotional, emosinya bisa membeludak anytime and anywhere. Needy, naggy, dependable, tapi di waktu yang sama sangat individual. Yang terakhir, dia adalah seseorang yang konsisten.
Ambisi yang belum tercapai?
Tri: I'm not an ambitious person. Seumur hidup, saya enggak pernah punya ambisi atau goal. Maybe that's bad, but I'm kind of person goes with the flow. Namun yang menjadi pacuannya adalah saya harus menantang diri saya sampai ke batasnya.
Hal besar yang ingin dilakukan tahun ini?
Tri: Semoga bisa dilaksanakan pada bulan Oktober mendatang di Jakarta. Sebuah artshow yang masih berhubungan dengan brand Tri Handoko sendiri, termasuk dengan Austere. It's gonna be an artshow story telling. Buat saya itu project yang cukup ambisius buat saya pribadi, because it is very emotional for me. Nantikan ya!
source: http://postimg.org/image/71n9a4oet/
Jatuh bangun sebagai desainer?
Tri: Saya hampir menyerah menjadi seorang desainer, mungkin sudah dua hingga tiga kali. Karena, menurut saya hal ini enggak gampang, it's not easy at all. Kalau belum berkutat di dalamnya, mungkin belum bisa merasakan kesulitannya. But it's a very serious job, it's a very demanding job.
Apa yang paling terasa berat?
Kalau dulu, secara jujur saya mengatakan adalah dari segi keuangan. Namun, kalau saat ini mungkin lebih karena saya seorang yang perfeksionis. Saya juga seorang yang control freak, saya harus tahu semua mulai dari SPG di counter dan hal kecil lainnya.
Ajeng: As a desainer, saya mengerti bahwa kami harus konsisten untuk terus bertahan dan mengeluarkan koleksi baru pada setiap musim. Terkadang hal itu yang melelahkan dan depressing.
source: http://postimg.org/image/onur0iv53/
Yang membuat bangkit kembali?
Kalau menurut saya pribadi, Tuhan memang belum mengijinkan saya untuk berhenti (menjadi desainer). Karena setiap kali saya mencapai titik jenuh dan buntu, saya selalu berdoa sama Tuhan, "However, semua talenta yang saya punya itu dari Tuhan, kalau saya harus berhenti dan memulai karier baru, saya akan lakukan itu." Tapi, setelah mendekati batas waktu terakhir yang saya sudah buat, pasti sama Tuhan dibukakan jalan lagi. Yang terakhir, adalah saat Oktober tahun lalu sebelum saya membuat brand Austere. Saya berdoa, bahwa ini adalah peluru saya yang terakhir. I can't do this anymore, it's either I make it or I quit.
Siapa yang paling mendukung karier?
Sejak awal memulai karier, keluarga selalu mendukung. Yang paling utama adalah dari Tuhan, I can not do anything without him.
source: http://postimg.org/image/qbzoyy665/