Puasa Saat Naik Pesawat


Perjalanan di pesawat memang tidak pernah menentu. Situasi langit dan darat memang selalu beda, apalagi jika membandingkan posisi terlihatnya matahari. Seringkali umat Islam bingung menentukan waktu buka puasa saat naik pesawat. Terutama pada kasus jika naik pesawat ke arah barat yang waktu terbenamnya matahari jauh lebih lama. Apakah akan membuat puasa kita ikut jadi lebih lama?

source: https://goo.gl/images/hdmp7D



Waktu Terbenamnya Matahari Ketika Naik Pesawat


Pada dasarnya, terdapat dua jenis kondisi berpuasa saat berpergian dengan pesawat.

source: https://goo.gl/images/55rjUu

Pertama, kondisi saat Maghrib sudah tiba sewaktu masih di darat dan kamu membatalkan puasa. Padahal saat naik pesawat, kamu melihat matahari masih terlihat dari atas sana. Untuk kondisi ini, Allah menyebutkan batasan-batasan dalam berpuasa di al-Quran,

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Kemudian sempurnakanlah puasa sampai waktu malam. (QS. al-Baqarah: 187)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا ، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا ، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

Apabila malam telah datang dari arah sana dan siang telah pergi dari arah sana, serta matahari telah terbenam, maka orang puasa saatnya berbuka. (HR. Bukhari 1954).

Maksudnya, selama matahari telah terbenam, maka kamu sudah diperbolehkan untuk berbuka. Walaupun kemudian diperjalanan kamu melihat matahari kembali, puasamu pada hari itu terhitung sah.
 

Kedua, ketika waktu lepas landas adalah saat menjelang adzan Maghrib. Sedangkan penerbangan dilakukan ke arah Barat sehingga saat berada di langit, matahari tidak kunjung tenggelam. 

Untuk kasus ini, terdapat dua pilihan yang dapat kamu pilih:

1. Jika kamu memilih untuk tetap mempertahankan puasa, maka kamu tidak boleh berbuka, walaupun harus menunggu adzan Maghrib lebih lama. Allah mengingatkan dalam al-Quran,

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Kemudian sempurnakanlah puasa sampai waktu malam. (QS. al-Baqarah: 187)

2. Membatalkan puasa karena musafir. Dalam Islam, tidak ada hal yang menyulitkan dan memberatkan umatnya, khususnya dalam beribadah. Jika kamu sedang dalam perjalanan jauh, kamu dapat membatalkan puasa dan kemudian mengganti puasa yang telah batal itu dengan puasa qadha setelah ramadhan. Dalam al-Quran Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Siapa yang sakit atau sedang safar, maka dia ganti puasanya di hari lain sejumlah hari yang dia tinggalkan. (QS. al-Baqarah: 184).

Semoga bermanfaat!