Siapa yang tak ngeri mendengar kata kanker serviks yang mengancam sebagian besar perempuan di seluruh dunia. Maka dari itu, pemerintah di beberapa provinsi di Indonesia kini mencanangkan imunisasi HPV khusus untuk melawan kanker serviks sejak dini.

Tapi, apa benar hanya dengan imunisasi kita bisa terlindung dari bahaya kanker serviks seumur hidup? Apakah HPV merupakan satu-satunya virus penyebab kanker serviks? Ketahui lebih lanjut mengenai virus tersebut melalui fakta-fakta yang dirangkum tim Beautynesia menurut Lois Ramondetta dan Erich Sturgis dari MD Anderson Cancer Center, Texas, Amerika Serikat.
 

Tentang HPV
 
source: http://www.jiwasehat.com/


Human Papilloma Virus (HPV) hampir pasti ditemukan dari sel kanker serviks. Pada dasarnya, ada lebih dari 100 jenis virus, namun basically terbagi menjadi dua macam. Ada yang dianggap berisiko rendah dan tidak menyebabkan kanker serviks dan ada juga yang berisiko tinggi. Jenis HPV yang memiliki risiko tinggi sudah pasti 99 persen menyebabkan kanker serviks. Sebagian HPV berisiko tinggi ditularkan secara seksual, baik melalui anus, oral maupun miss V.
 

baca juga

Mitos dan Fakta Mengenai HPV
 

Mitos #1

Hanya perempuan yang bisa terinfeksi HPV

Fakta: HPV sangat umum menyerang siapa saja, termasuk para pria. Dalam beberapa kasus tertentu, HPV bisa menghilang dengan sendirinya. Jika virus tersebut masih tertinggal, ia akan menyebabkan masalah kesehatan seperti kutil kelamin dan beberapa jenis kanker. Termasuk kanker serviks, kanker anus, kanker penis dan kanker orofaringeal (tonsil dan pangkal lidah).
 

baca juga

Mitos #2

Tanda-tanda gejala infeksi HPV dapat terlihat dan terasa

Fakta: Kebanyakan pengidap HPV tidak tahu mereka terinfeksi,  tidak merasakan gejala dan masalah kesehatan akibat virus tersebut. Dalam 90 persen kasus virus HPV yang terjadi, sistem imun tubuh melawan infeksi HPV setidaknya dalam waktu dua tahun.
 

Mitos #3

HPV bisa menular karena hubungan seksual

Fakta: Sebenarnya, virus HPV menular melalui kontak kulit secara langsung. Meski sebagian besar penularan virus HPV akibat dari hubungan seksual, orang yang belum pernah melakukannya juga dapat terinfeksi. 
 

Mitos #4

Telah ada pengobatan untuk melawan HPV

Fakta: Hingga saat ini belum ada pengobatan untuk menangani HPV tersebut. Tetapi ada acara untuk mengobati masalah kesehatan  yang berhubungan dengan HPV seperti pengangkatan lesi pra kanker dan pengobatan kutil kelamin.
 

Mitos #5

HPV dapat mengganggu kehamilan

Fakta: Sebagian kasus HPV menunjukkan bahwa HPV tidak memiliki pengaruh pada kemampuan hamil. Jika seseorang hamil dan mengidap HPV, kemungkinan besar ia akan mengalami kutil kelamin atau pertumbuhan sel yang tidak normal pada leher rahim. Hamil setelah melakukan vaksin HPV juga sangat aman dan tidak mempengaruhi perkembangan janin.
 

Mitos #6

Vaksin HPV dapat melindungi kita seumur hidup

Fakta: Efektifitas vaksin ini hanya berjalan selama 10 tahun. Namun penelitian dokter terkini menyebutkan bahwa vaksin HPV akan memberikan perlindungan yang lebih tahan lama dari waktu efektifitas yang telah disebutkan.
 

Mitos #7

Vaksin HPV berlaku untuk semua jenis HPV

Fakta: Ada beberapa perbedaan dari tiga jenis vaksin yang telah disetujui oleh U.S. Food and Drug Administration. Vaksin Cervarix (HPV 2) dan vaksin Gardasil (HPV 4) melindungi terhadap jenis HPV yang paling umun dan melawan kanker di daerah saluran kelamin dan kanker orofaringeal.

Hanya vaksin Gardasil yang dapat mencegah 70% infeksi HPV penyebab kutil kelamin dan kanker serviks. Vaksin terbaru, Gardasil 9 (HPV 9) dapat melindungi dari 9 jenis HPV dan mencegah kanker serviks hingga 90%.
 

Mitos #8

Vaksin HPV dapat meningkatkan aktivitas seksual

Fakta: Tidak ada penelitian yang menghubungkan kinerja vaksin HPV dengan peningkatan aktivitas seksual. Laki-laki dan perempuan yang telah mendapatkan vaksin belum tentu akan melakukan hubungan seks lebih awal dibanding yang telah melakukan vaksinasi setelah berhubungan. 
 

Mitos #9

Vaksin HPV memicu masalah kesehatan lainnya

Fakta: Vaksin HPV adalah obat yang aman dan tidak memberikan efek samping maupun memicu masalah kesehatan yang serius. Hanya menyebabkan reaksi ringan seperti halnya imunisasi lainnya. Yang paling umum terjadi adalah rasa sakit atau kemerahan di daerah lengan yang disuntikkan vaksin HPV. 
 

Mitos #10

Setelah vaksin HPV, tak perlu lagi melakukan tes pap smear

Fakta: Sama sekali tidak benar! Sebab tak ada vaksin yang dapat mencegah semua jenis HPV yang memyebabkan kanker serviks. Perempuan berumur 21-29 tahun masih harus melakukan tes pap smear setiap 3 tahun sekali. Sedangkan, pada perempuan berumur 30-64 tahu harus melakukan pemeriksaan virus HPV 5 tahun sekali. Hal tersebut dilakukan untuk memeriksa leher rahim terhadap adanya perubahan sel-sel yang tidak normal dan cenderung mengarah ke kanker serviks.